Penelitian Fakta: Klaim Wali Kota Iran Memperingatkan Indonesia Salah
Sebuah video yang beredar di TikTok menyebarkan narasi bahwa seorang wali kota di Iran memperingatkan Indonesia mengenai risiko dampak perang antara Iran dan Israel. Narasi ini menyatakan bahwa Indonesia rentan terkena paparan radiasi dan serpihan roket yang dikirim dari kapal induk Australia ke Iran.
Video tersebut menyebar dengan cepat, hingga mencapai lebih dari 9,4 juta tayangan dan 113 ribu likes. Dari 10 ribu komentar yang ada, banyak pengguna yang percaya pada klaim tersebut. Namun, setelah dilakukan penelusuran oleh tim Cek Fakta DW Indonesia, ditemukan bahwa klaim tersebut tidak benar.
Identitas Palsu Wali Kota
Tim Cek Fakta DW Indonesia melakukan pencarian gambar melalui Google Reverse Image untuk mengecek foto yang digunakan dalam konten tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa foto tersebut adalah Hossein Salami, mantan Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Iran. Ia meninggal dalam serangan Israel pada 13 Juni 2025.

Selain itu, tim juga menelusuri nama wali kota yang disebut dalam konten, yaitu Madyamohammed Abduur. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa tidak ada wali kota di Iran dengan nama tersebut di portal berita resmi. Tim juga menghubungi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia untuk mengonfirmasi informasi tersebut.
“Kami tidak menemukan informasi mengenai wali kota dengan nama tersebut,” kata Ali Pahlevani Rad, Asisten Duta Besar Iran untuk Indonesia, saat dihubungi via pesan singkat.
Artikel yang Keliru
Konten tersebut juga mengutip sebuah portal berita bernama Liranews.com. Tim Cek Fakta DW Indonesia melakukan penelusuran dan menemukan artikel tanggal 1 Maret 2026 yang identik dengan konten viral tersebut. Selain itu, ditemukan informasi yang sama antara artikel dan konten yang diunggah pada 4 Maret 2026.
Tim juga menghubungi redaksi LiraNews untuk mengonfirmasi hal ini. Redaksi mengakui adanya kesalahan dalam artikel tersebut, termasuk kesalahan dalam identitas tokoh dan foto. Mereka telah memperbaiki artikel tersebut dan menambahkan catatan agar pembaca memahami konteksnya.

“Kami menyadari adanya kesalahan dalam artikel berjudul ‘Wali Kota Iran Peringatkan Dampak Perang ke Asia Tenggara, Indonesia Harus Waspada’. Artikel belum mencantumkan sumber kutipan yang jelas, dan saat ini kami sedang melakukan koreksi serta menambahkan catatan agar pembaca memahami konteksnya,” sebut redaksi LiraNews dalam keterangan tertulisnya kepada DW Indonesia.
Klaim Salah Tentang Kapal Induk Australia
Terkait klaim bahwa kapal induk Australia kerap mengirimkan roket ke arah Iran, tim Cek Fakta DW Indonesia menelusuri laman angkatan laut Australia. Laman tersebut menyebutkan bahwa Angkatan Laut Kerajaan Australia (RAN) pernah memiliki tiga kapal induk dalam sejarahnya, yakni HMAS Sydney, HMAS Melbourne, dan HMAS Vengeance yang diperoleh dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Dalam laman tersebut disebutkan bahwa pada tahun 1982, HMAS Melbourne dinonaktifkan dan menandai berakhirnya operasi kapal induk milik Australia.
Menurut Dina Sulaeman, dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Australia tidak mungkin menyerang langsung ke Iran. “Secara geografis, itu sepertinya tidak mungkin karena terlalu jauh, dan jalurnya juga tidak perlu melewati Indonesia. Ada jalur yang lebih pendek jika pun betul ada rudal dari Australia yang dikirim ke Iran bisa langsung melintasi Samudra Hindia,” ujarnya.
Dina juga menjelaskan bahwa kemampuan rudal Australia tidak memungkinkan hal tersebut. “Saat ini, rudal-rudal Australia yang diketahui publik itu adalah rudal jarak pendek sekitar 400 kilometer. Padahal jarak antara Australia dan Iran sekitar 10 ribu kilometer.”
Lebih lanjut, Dina menegaskan bahwa tidak ada media kredibel yang memberitakan kejadian ini. Meski konten ini viral dan telah dibagikan lebih dari 18 ribu kali, tidak ada jaminan mengenai kebenarannya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu memverifikasi informasi sebelum membagikannya.


















