Washington — Israel kemungkinan akan mencoba menghalangi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Hal ini disampaikan oleh mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah, Peter Ford, dalam wawancaranya dengan RIA Novosti.
Ford menegaskan bahwa Israel pasti akan berusaha menggagalkan upaya gencatan senjata tersebut. Namun, ada dua tantangan yang dihadapi negara tersebut. Pertama, Presiden AS Donald Trump tidak mudah dipengaruhi. Kedua, pengalaman menunjukkan bahwa Iran sulit dipaksa tunduk hanya melalui serangan udara.
Lebanon menjadi hambatan utama bagi stabilitas regional. Israel terus melakukan serangan terhadap target militer Hizbullah di wilayah tersebut. Menurut Ford, kekuatan Iran yang semakin kuat bertentangan dengan sikap keras Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang merasa penarikan pasukan dari Lebanon sebagai tindakan memalukan.
Keseimbangan kekuatan baru di kawasan bisa terganggu akibat situasi ini. Pada 28 Februari, AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah. Pada malam Selasa, Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Kesepakatan ini juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pada hari Rabu, pesawat tempur dan artileri Israel menyerang belasan permukiman di Lebanon Selatan, termasuk kota Tyre. Trump menyatakan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran karena alasan terkait Hizbullah.
Namun, Iran menganggap tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dengan AS. Hal ini menunjukkan bahwa perspektif dan kepentingan negara-negara terkait masih jauh dari kesepahaman.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Regional
- Peran Hizbullah
- Hizbullah, kelompok bersenjata di Lebanon, menjadi fokus utama serangan Israel.
- Serangan terhadap Hizbullah sering kali memicu reaksi dari Iran, yang menjadikan organisasi ini sebagai alat politik dan militer.
-
Kehadiran Hizbullah di Lebanon membuat situasi di kawasan lebih rentan terhadap konflik.
-
Sikap Politik Negara-Negara Terkait
- Israel memiliki kebijakan yang sangat keras terhadap ancaman dari Iran dan Hizbullah.
- AS berusaha menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Israel dan upaya diplomasi dengan Iran.
-
Iran menolak tekanan luar dan cenderung merespons dengan tindakan balasan.
-
Dampak Gencatan Senjata
- Gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran dinilai sebagai langkah sementara.
- Pembukaan kembali Selat Hormuz dapat meningkatkan kepercayaan antara pihak-pihak terkait.
-
Namun, isu Hizbullah tetap menjadi batu sandungan dalam perjanjian ini.
-
Tantangan Internal
- Trump tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan dari pihak luar.
- Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa Iran tidak mudah dikalahkan melalui serangan militer.
- Kekuatan militer dan diplomatik Iran semakin kuat, sehingga mengurangi efektivitas tindakan agresif.
Tantangan di Masa Depan
- Stabilitas di Lebanon
- Serangan Israel terhadap Lebanon Selatan mendorong ketegangan yang tinggi.
-
Kehadiran Hizbullah memperkuat posisi Iran di kawasan, sehingga memicu respons dari pihak lain.
-
Hubungan AS-Israel-Iran
- Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran belum sepenuhnya stabil.
-
Tindakan Israel di Lebanon menunjukkan bahwa mereka belum siap sepenuhnya untuk menghentikan konflik.
-
Kemungkinan Konflik Berkelanjutan
- Tanpa solusi jangka panjang, risiko konflik antara Israel dan Iran tetap tinggi.
- Peran Hizbullah dan kekuatan militer Iran akan menjadi faktor penting dalam keputusan politik di masa depan.


















