Di Kabupaten Situbondo, sebuah langkah penting telah diambil untuk melestarikan warisan budaya dan sejarah. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, bersama dengan Bupati Situbondo dan Wakil Bupati, secara resmi membuka Pendopo Pate Alos Besuki. Acara peresmian ini menandai dimulainya program revitalisasi kawasan bersejarah Besuki, yang bertujuan untuk mengubahnya menjadi kawasan Kota Tua yang berbasis pada cagar budaya.
Peresmian ini berlangsung di tengah suasana keprihatinan mendalam yang dirasakan oleh masyarakat Besuki Raya, yang baru-baru ini terkena dampak banjir di enam kecamatan. Meskipun demikian, acara tetap dilaksanakan dengan sederhana, berfokus pada doa, refleksi, dan harapan agar bencana serupa tidak terulang kembali.
Rangkaian acara dimulai dengan doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga Besuki Raya. Setelah itu, diadakan sarasehan kebudayaan yang melibatkan partisipasi aktif dari pelajar, mahasiswa, dan para pegiat budaya.

Sarasehan tersebut menjadi wadah diskusi yang mendalam mengenai sejarah Besuki, peran penting tokoh-tokoh lokal dalam membentuk daerah ini, dan urgensi pelestarian cagar budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas daerah.
Pentingnya Pendekatan Kebudayaan dalam Situasi Bencana
Bupati Situbondo menekankan bahwa pendekatan kebudayaan memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam situasi bencana seperti yang sedang dihadapi. Menurutnya, penguatan nilai-nilai sejarah dan spiritual merupakan bagian integral dari upaya membangun ketahanan sosial masyarakat.
Peninjauan Gedung Eks Karesidenan Besuki
Pada sore harinya, Menteri Kebudayaan bersama Bupati Situbondo melakukan peninjauan ke Gedung Eks Karesidenan Besuki. Bangunan ini merupakan peninggalan kolonial yang dibangun pada tahun 1805 dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi di kawasan Tapal Kuda.
Menteri Kebudayaan menyatakan bahwa bangunan tersebut sangat layak untuk dikembangkan menjadi museum dan pusat kebudayaan. Ia menilai bahwa usia bangunan yang telah mencapai lebih dari 220 tahun justru menjadi kekuatan besar jika dikelola secara profesional.
Menurutnya, museum ini dapat memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai sejarah Karesidenan Besuki pada masa lalu, serta keberlanjutannya hingga saat ini. Selain itu, bangunan tersebut juga dapat berfungsi sebagai pusat budaya, pusat edukasi, pusat belajar, dan pusat kegiatan seni di Situbondo.
Peluang Penetapan Gedung Eks Karesidenan Besuki sebagai Cagar Budaya Nasional
Menteri Kebudayaan juga membuka peluang untuk menetapkan Gedung Eks Karesidenan Besuki sebagai cagar budaya tingkat nasional. Ia menyatakan bahwa keaslian bangunan tersebut masih sangat terjaga, dan jika ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, maka pengembangannya dapat dilakukan sesuai dengan amanat konstitusi.
Sebagai tindak lanjut dari peninjauan tersebut, Menteri Kebudayaan meminta agar rencana pengembangan dikomunikasikan secara teknis melalui Balai Kebudayaan Jawa Timur. Hal ini bertujuan untuk memastikan sinergi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam upaya pelestarian dan pengembangan warisan budaya.
Peresmian Pendopo Pate Alos
Peresmian Pendopo Pate Alos dilakukan pada malam hari dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Kebudayaan, disaksikan oleh Bupati dan Wakil Bupati Situbondo.
Pendopo Pate Alos merupakan bangunan bersejarah yang dinamai dari Kiai Pate Alos atau Raden Bagus Kasim Wirodipuro, Patih pertama Besuki pada abad ke-18. Beliau dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan berjasa besar dalam pembentukan pemerintahan Besuki.
Bupati Situbondo menegaskan bahwa revitalisasi pendopo tersebut merupakan langkah awal dalam pengembangan Wisata Kota Tua Besuki. Ia menekankan bahwa upaya ini bukanlah sebuah perayaan, melainkan sebuah ikhtiar bersama untuk bangkit, menjaga warisan sejarah, dan menata masa depan Besuki.
Detail Tambahan Terkait Revitalisasi
Berikut adalah beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam revitalisasi kawasan bersejarah Besuki:
-
Pelestarian Bangunan Bersejarah: Upaya pelestarian bangunan-bangunan bersejarah yang ada di kawasan Besuki harus menjadi prioritas utama. Hal ini meliputi perbaikan, pemeliharaan, dan restorasi bangunan agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
-
Pengembangan Infrastruktur: Pengembangan infrastruktur yang mendukung pariwisata, seperti jalan, fasilitas umum, dan akomodasi, perlu dilakukan secara cermat dan terencana. Tujuannya adalah untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan wisatawan tanpa merusak keaslian dan keindahan kawasan bersejarah.
-
Pemberdayaan Masyarakat Lokal: Masyarakat lokal harus dilibatkan secara aktif dalam proses revitalisasi. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, dan pemberian kesempatan usaha di sektor pariwisata. Dengan demikian, masyarakat lokal dapat merasakan manfaat langsung dari pengembangan kawasan bersejarah dan turut serta dalam menjaganya.
-
Promosi dan Pemasaran: Promosi dan pemasaran yang efektif sangat penting untuk menarik wisatawan ke kawasan Kota Tua Besuki. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai media, seperti website, media sosial, dan pameran pariwisata. Selain itu, kerjasama dengan agen perjalanan dan operator tur juga dapat membantu meningkatkan kunjungan wisatawan.
-
Pengembangan Produk Wisata: Pengembangan produk wisata yang menarik dan beragam, seperti paket tur sejarah, wisata kuliner, dan kerajinan lokal, dapat meningkatkan daya tarik kawasan Kota Tua Besuki. Produk wisata ini harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan wisatawan, serta tetap memperhatikan aspek pelestarian budaya dan lingkungan.
Dengan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang cermat, dan partisipasi aktif dari semua pihak, revitalisasi kawasan bersejarah Besuki diharapkan dapat berhasil mewujudkan impian menjadi kawasan Kota Tua yang berbasis pada cagar budaya, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan daerah.


















