Konsolidasi Kawasan Industri Nasional: Kunci Peningkatan Daya Saing Melalui Integrasi Logistik
Pembentukan holding kawasan industri di Indonesia merupakan langkah strategis yang dinilai memerlukan integrasi mendalam dengan sistem logistik dan transportasi. Langkah ini krusial untuk secara signifikan meningkatkan daya saing kawasan industri nasional. Konsolidasi kawasan industri milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak boleh berhenti pada penyatuan aset dan pengelolaan lahan semata, namun harus diperkuat dengan konektivitas rantai pasok yang kokoh.
Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menekankan bahwa holding yang dibentuk pemerintah melalui Danareksa perlu dikembangkan menjadi sebuah ekosistem industri yang terintegrasi penuh dengan layanan logistik, pergudangan, transportasi, dan distribusi barang. “Kebutuhan ini sangat relevan dengan skala kawasan industri nasional,” ujar Setijadi dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).
Pemerintah saat ini sedang menyelesaikan proses restrukturisasi kawasan industri BUMN dengan membentuk Holding Kawasan Industri Indonesia. Ditargetkan, proses legal pembentukan holding ini akan rampung pada tahun 2026, sehingga operasionalnya dapat segera dimulai pada tahun 2027.
Menurut Setijadi, konsolidasi kawasan industri memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan, memperkuat daya tarik investasi, dan membuka berbagai model bisnis baru yang tidak hanya terbatas pada penjualan atau penyewaan lahan.
Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa Indonesia saat ini memiliki 175 kawasan industri yang berizin, mencakup total luas lahan mencapai 98.235,5 hektare. Kawasan-kawasan ini menjadi rumah bagi 11.970 perusahaan, menyerap sekitar 2,35 juta tenaga kerja, dan berhasil mencatatkan investasi sebesar Rp6.744,5 triliun.
Sebelum proses restrukturisasi ini bergulir, sejumlah kawasan industri BUMN telah berada di bawah payung ekosistem Danareksa Industrial Park. Beberapa di antaranya meliputi PT Kawasan Industri Medan, PT Kawasan Berikat Nusantara, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung, PT Surabaya Industrial Estate Rungkut, PT Kawasan Industri Makassar, PT Kawasan Industri Wijayakusuma, dan PT Kawasan Industri Terpadu Batang. Gabungan lahan dari kawasan-kawasan ini mencapai sekitar 7.855 hektare.
Manfaat Multi-Dimensi dari Integrasi
Setijadi menilai bahwa manfaat dari pembentukan holding ini tidak hanya akan dirasakan oleh para pengelola kawasan industri, tetapi juga oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di dalamnya. Integrasi layanan logistik dan transportasi yang terpadu diharapkan dapat mempercepat penyediaan infrastruktur yang memadai, memperkuat konektivitas antar-kawasan dan dengan pusat distribusi, serta secara signifikan menekan biaya logistik yang selama ini menjadi beban.
“Peningkatan efisiensi logistik sangatlah penting, mengingat kontribusinya yang besar terhadap harga akhir produk,” tegas Setijadi.
Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan bahwa biaya logistik domestik di Indonesia masih berada di kisaran 14,1 persen dari harga barang. Sementara itu, biaya logistik untuk ekspor tercatat sekitar 8,98 persen dari nilai barang yang dikirim. Angka-angka ini menggarisbawahi urgensi perbaikan sistem logistik nasional.
Rekomendasi Strategis untuk Holding
Menyikapi tantangan tersebut, SCI memberikan beberapa rekomendasi strategis kepada holding kawasan industri yang baru dibentuk. Salah satu rekomendasi utama adalah penyusunan masterplan logistics park di kawasan-kawasan industri yang diprioritaskan. Pengembangan fasilitas di dalam logistics park ini perlu mencakup:
- Pergudangan Bersama: Fasilitas penyimpanan barang yang dapat digunakan secara kolektif oleh berbagai perusahaan, sehingga mengurangi biaya investasi dan operasional masing-masing perusahaan.
- Depo Peti Kemas: Area khusus untuk penampungan dan pengelolaan peti kemas, memperlancar aliran barang dari dan ke pelabuhan.
- Terminal Truk: Titik simpul untuk pergerakan truk, memfasilitasi bongkar muat barang dan mengurangi kemacetan di dalam kawasan.
- Cold Storage: Fasilitas penyimpanan berpendingin yang krusial untuk komoditas yang memerlukan suhu terkontrol, seperti produk makanan dan farmasi.
- Layanan Kepabeanan: Penyediaan layanan bea cukai yang efisien di dalam atau dekat kawasan industri untuk mempercepat proses ekspor dan impor.
- Pusat Distribusi Terpadu: Fasilitas yang mengintegrasikan berbagai aktivitas distribusi, mulai dari penerimaan barang, penyimpanan, hingga pengiriman ke tujuan akhir.
Integrasi Transportasi Multimoda dan Digitalisasi
Lebih lanjut, Setijadi menekankan bahwa pengembangan kawasan industri harus terintegrasi secara menyeluruh dengan sistem transportasi multimoda. Konektivitas yang kuat dengan berbagai moda transportasi perlu dirancang dalam satu sistem logistik yang terpadu. Hal ini mencakup:
- Jalan Tol: Akses mudah dan cepat menuju jaringan jalan tol nasional.
- Pelabuhan: Kedekatan dan kemudahan akses ke pelabuhan laut untuk aktivitas ekspor-impor.
- Bandara Kargo: Konektivitas dengan bandara yang memiliki fasilitas kargo untuk pengiriman udara.
- Terminal Peti Kemas: Integrasi dengan terminal peti kemas untuk efisiensi penanganan kontainer.
- Dry Port: Pelabuhan darat yang berfungsi sebagai pusat logistik dan distribusi, terhubung dengan pelabuhan laut melalui kereta api atau jalan raya.
- Angkutan Sungai dan Ro-Ro: Pemanfaatan jalur air dan kapal Ro-Ro (Roll-on/Roll-off) untuk efisiensi biaya dan pengurangan beban jalan raya.
Selain itu, integrasi dengan jaringan kereta barang juga menjadi prioritas untuk meningkatkan kapasitas angkutan barang secara signifikan. Hal ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada truk jarak jauh yang seringkali menyebabkan kemacetan, tetapi juga dapat menekan biaya transportasi serta mengurangi dampak lingkungan.
Aspek digitalisasi dalam arus logistik juga tidak kalah penting. Penguatan sistem penjadwalan truk yang efisien, otomatisasi gerbang kawasan industri untuk mempercepat proses masuk dan keluar kendaraan, serta pengembangan control tower logistik yang terintegrasi akan menjadi tulang punggung efisiensi operasional.
Dengan menerapkan pendekatan yang komprehensif ini, Holding Kawasan Industri Indonesia diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengelola aset lahan, tetapi dapat bertransformasi menjadi simpul logistik nasional yang vital. Peran ini akan sangat krusial dalam mendukung efisiensi industri di dalam negeri dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.




