Kosta Rika Bangun Penjara Raksasa Antisipasi Lonjakan Kriminalitas
Kosta Rika secara resmi mengumumkan rencana pembangunan sebuah fasilitas penjara berskala masif yang diberi nama Centro de Alta Contención y Crimen Organizado (CACCO). Proyek ambisius ini digagas menyusul keberhasilan Kosta Rika dalam menekan tingkat kekerasan yang dipicu oleh aktivitas geng kriminal, sebuah strategi yang terinspirasi oleh langkah serupa yang telah diambil oleh El Salvador.
Pembangunan penjara raksasa ini diproyeksikan menelan biaya sebesar 32 juta dolar Amerika Serikat, yang setara dengan sekitar Rp538,9 miliar. Fasilitas ini dirancang khusus untuk mengisolasi para narapidana yang dikategorikan berisiko tinggi. Target operasional penjara CACCO adalah pada bulan Juni 2026.
Langkah Kosta Rika ini diambil setelah negara yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu yang paling aman di Benua Amerika ini dilanda krisis keamanan yang signifikan dalam setahun terakhir. Lonjakan kasus kriminalitas, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas geng dan organisasi kriminal, telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Peran Nayib Bukele dalam Proyek CACCO
Presiden Kosta Rika, Rodrigo Chaves, mengonfirmasi bahwa Presiden El Salvador, Nayib Bukele, akan turut hadir dalam upacara peletakan batu pertama pembangunan CACCO. Kehadiran Bukele bukan sekadar simbolis, melainkan juga merupakan bagian dari inspeksi langsung terhadap proyek penjara raksasa pertama di Kosta Rika ini.
Presiden Chaves menekankan bahwa proyek CACCO memegang peranan krusial dalam upaya menjaga keamanan nasional. Ia menyatakan bahwa penjara ini akan berfungsi sebagai benteng untuk melindungi warga Kosta Rika dari ancaman yang ditimbulkan oleh organisasi kriminal yang semakin gencar beroperasi.
Pembangunan CACCO juga menandai pergeseran kebijakan Kosta Rika dalam menghadapi maraknya tindak kriminalitas. Kebijakan baru ini mencakup penangkapan yang lebih masif terhadap para terduga pelaku kriminal. Penjara ini diperkirakan mampu menampung hingga 1.000 narapidana, dengan prioritas penempatan bagi pelaku kejahatan kekerasan dan anggota kartel narkoba.
Kontroversi Kehadiran Nayib Bukele: Penolakan dari Pengadilan Elektoral
Di tengah rencana pembangunan yang strategis ini, muncul sebuah kontroversi terkait kehadiran Presiden El Salvador, Nayib Bukele. Pengadilan Elektoral Kosta Rika (TSE) secara resmi mengajukan penolakan terhadap masuknya Bukele ke wilayah Kosta Rika menjelang pelaksanaan pemilihan presiden di negara tersebut.
Kekhawatiran utama TSE adalah potensi kehadiran Bukele dapat memengaruhi netralitas proses pemilihan umum di Kosta Rika. Presiden TSE, Eugenia Zamora, menyatakan, “TSE memiliki kepentingan dalam masalah pemilu dan berusaha mencegah kehadiran Bukele di Kosta Rika. Terdapat dugaan Bukele memiliki kecenderungan dukungan pada salah satu calon.”
Permintaan larangan masuk terhadap Bukele ini diajukan atas permintaan dari salah satu Calon Presiden, Claudio Alpizar. Alpizar mengklaim bahwa Bukele secara terang-terangan memberikan dukungan kepada Laura Fernandez, yang merupakan kandidat dari Partai Pueblo Soberano. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya intervensi politik dari negara tetangga.
Pakta Pertahanan Gabungan: Kosta Rika dan El Salvador Bersatu Melawan Kriminalitas
Meskipun dihadapkan pada kontroversi, Kosta Rika dan El Salvador telah menunjukkan komitmen kuat untuk bekerja sama dalam memberantas kejahatan terorganisir. Pada bulan Desember lalu, kedua negara telah menyetujui sebuah perjanjian penting yang dikenal sebagai Deklarasi Coatepeque (Coatepeque Declaration), sebuah pakta pertahanan gabungan.
Tujuan utama dari pakta pertahanan ini adalah untuk secara efektif melawan organisasi kriminal dan memperkuat keamanan regional di Amerika Tengah. Presiden El Salvador, Nayib Bukele, menyatakan optimismenya terhadap kerja sama ini, “Kami dapat mengajarkan pengalaman, pengetahuan, dan apa yang kami capai di El Salvador dan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi di Kosta Rika.”
Perjanjian ini membuka peluang bagi kedua negara untuk berbagi informasi intelijen secara lebih intensif, serta mengkoordinasikan operasi gabungan melawan kelompok-kelompok kriminal. Lebih dari sekadar aspek keamanan, pakta ini juga dirancang untuk mendorong peningkatan perdagangan, investasi, dan inovasi antar kedua negara, menciptakan sinergi yang lebih luas di berbagai sektor.
Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi model bagi negara-negara lain dalam menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks di kawasan. Pembangunan penjara CACCO, bersama dengan pakta pertahanan gabungan, menunjukkan keseriusan Kosta Rika dalam mengatasi isu kriminalitas dan memulihkan statusnya sebagai negara yang aman.
Beberapa berita terkait yang mungkin relevan dengan upaya penegakan hukum dan keamanan di kawasan Amerika Tengah meliputi:
- Tokoh Oposisi Nikaragua Ditembak Mati di Kosta Rika
- AS Cabut Visa Eks Presiden Kosta Rika yang Pernah Kritik Trump
- El Salvador Catat Kasus Pembunuhan Terendah dalam Sejarah



















