Festival Seni Pertunjukan Internasional LAPAH 9: Merajut Tradisi dan Inovasi di Lampung
Lampung kembali menjadi tuan rumah bagi sebuah perhelatan seni pertunjukan berskala internasional yang prestisius. DianArza Arts Laboratory (DAAL) dengan bangga mempersembahkan LAPAH 9: International Performing Arts Mini Festival 2026. Festival yang berlangsung pada tanggal 14 hingga 17 Februari 2026 ini bertempat di Desa Saung Suka, Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran, dan akan menghadirkan delapan seniman terkemuka dari berbagai penjuru dunia.
Festival ini bukan sekadar sebuah panggung pertunjukan, melainkan sebuah platform yang dirancang untuk memfasilitasi dialog kreatif dan kolaborasi lintas budaya. Direktur festival, Putra Agung, menjelaskan bahwa LAPAH 9 bertujuan untuk menciptakan sebuah ruang pertemuan yang dinamis, di mana pertunjukan seni, sesi pembinaan (coaching), dan lokakarya (workshop) dapat diakses oleh para pelajar, mahasiswa, serta para pelaku seni yang ada di Provinsi Lampung.
“Festival ini lebih dari sekadar menampilkan karya seni,” ujar Putra Agung dalam sebuah kesempatan pada Minggu (15/02/2026). “Ini adalah sebuah ruang dialog dan kolaborasi yang sesungguhnya, mempertemukan seniman-seniman lokal, nasional, dan internasional dalam satu wadah yang sama.”
Delapan Seniman Unggulan: Berbagi Inspirasi dan Keahlian
LAPAH 9 akan menampilkan delapan seniman yang memiliki latar belakang dan disiplin seni yang beragam. Para seniman yang turut serta dalam festival ini antara lain Raja Alfirafindra, Iwan Altajaru, Wanggi Hoediyatno, Tri Putra Mahardika, Aris Artguza, Eka Nusa Pertiwi, serta Yuliana, seorang seniman mixed art yang berasal dari Meksiko. Kehadiran mereka menjanjikan keragaman perspektif dan gaya artistik yang akan memperkaya pengalaman para penikmat seni.
Selain menampilkan karya-karya pertunjukan yang memukau, para seniman ini juga akan berperan aktif dalam sesi coaching dan workshop. Program-program ini dirancang khusus untuk diikuti oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari berbagai komunitas seni di Lampung. Melalui transfer pengetahuan, pengalaman, dan teknik artistik lintas budaya, festival ini berupaya untuk memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Lampung, mendorong pertumbuhan dan perkembangan para seniman lokal.
“Tradisi Mata Air Eksperimentasi”: Fondasi Inovasi Seni Pertunjukan
Tema yang diusung dalam LAPAH 9 kali ini adalah “Tradisi Mata Air Eksperimentasi”. Tema ini memiliki makna mendalam, yaitu menempatkan tradisi sebagai sebuah sumber inspirasi yang hidup, dinamis, dan terus berkembang. Tradisi dipandang bukan sebagai sesuatu yang kaku dan statis, melainkan sebagai fondasi yang kaya akan nilai, estetika, dan gagasan-gagasan baru yang dapat mendorong terciptanya karya seni pertunjukan kontemporer yang segar dan relevan.
Putra Agung menjelaskan lebih lanjut mengenai filosofi di balik tema ini. “Kami ingin mengajak para seniman untuk kembali menimba ilmu dan inspirasi dari akar tradisi mereka. Tradisi bukan untuk diulang, melainkan untuk dijadikan pijakan kokoh guna melahirkan karya-karya yang orisinal, inovatif, dan tetap terhubung dengan denyut nadi zaman,” tuturnya. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan karya-karya seni pertunjukan yang memiliki kedalaman makna sekaligus relevansi dengan audiens masa kini.
Misi Ganda: Diplomasi Budaya dan Apresiasi Publik
Penyelenggaraan LAPAH 9 memiliki misi ganda yang signifikan. Pertama, festival ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan seni budaya Lampung ke kancah nasional dan internasional. Melalui kolaborasi dan pertukaran budaya, festival ini berperan penting dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di mata dunia.
Kedua, festival ini berupaya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat, baik lokal maupun nasional, terhadap keberagaman seni pertunjukan. Dengan menghadirkan berbagai bentuk dan gaya seni pertunjukan dari berbagai latar belakang, LAPAH 9 diharapkan dapat membuka wawasan audiens dan menumbuhkan kecintaan terhadap seni.
Lebih jauh lagi, penyelenggara berharap festival ini dapat menjadi agenda budaya yang berkelanjutan. Dengan demikian, Lampung dapat semakin memperkuat posisinya sebagai pusat kreatif yang mampu menarik dan memfasilitasi kolaborasi seni berskala global. LAPAH 9 bukan hanya perhelatan seni sesaat, melainkan sebuah langkah strategis untuk membangun ekosistem seni yang lebih kuat dan berdaya saing di masa depan.



















