
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengadakan pertemuan selama lima jam dengan Steve Witkoff, seorang tokoh dekat mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Pertemuan tersebut berlangsung di Moskow pada Selasa (2/12) dan fokus pada pembahasan mengenai akhir perang Ukraina.
Menurut laporan dari kantor berita Reuters, negosiasi antara Witkoff—yang merupakan utusan khusus Presiden AS—dengan Putin berlangsung hingga melewati tengah malam. Witkoff bertemu dengan Putin di Kremlin, sementara menantu Trump, Jared Kushner, juga hadir dalam pertemuan tersebut.
Selama diskusi, Putin didampingi oleh ajudan kebijakan luar negeri Rusia, Yuri Ushakov, serta seorang utusan khusus, Kirill Dmitriev. Pembicaraan antara Witkoff dan Putin dilakukan melalui penerjemah.

Kremlin mengumumkan bahwa pertemuan tersebut telah selesai pada Selasa (2/12) pukul 21.30 atau Rabu (3/12) pukul 00.30 waktu Moskow. Namun, tidak ada pernyataan resmi yang dikeluarkan baik oleh Kremlin maupun Pemerintah AS terkait hasil dari pertemuan tersebut.
Dmitriev, yang turut hadir dalam pertemuan, hanya memposting kata “produktif” dan emoji burung merpati di akun X-nya sesaat setelah Kremlin mengumumkan penyelesaian pertemuan.
Beberapa waktu terakhir, AS semakin gencar mendorong penyelesaian konflik perang Ukraina yang telah berlangsung selama tiga tahun. AS bahkan telah menyusun beberapa proposal perdamaian. Namun, proses negosiasi damai terhambat karena tuntutan Rusia agar seluruh wilayah Donbas di Ukraina diserahkan kepadanya. Selain itu, Rusia juga menuntut komitmen penuh dari Ukraina untuk tidak bergabung dengan aliansi militer Barat, NATO.

Mengenai pembicaraan antara Witkoff dan Putin, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut bahwa nasib perdamaian perang memang bergantung pada pertemuan di Moskow tersebut. Namun, Zelensky juga menyampaikan kekhawatiran bahwa AS mungkin sudah tidak lagi tertarik membantu proses perdamaian Ukraina.
“Tidak ada solusi yang mudah,” ujar Zelensky seperti dikutip dari AFP.
“Sangat penting agar semuanya adil dan terbuka, sehingga tidak ada permainan di belakang Ukraina,” tambah Zelensky.


















