Kondisi Listrik Aceh Pasca Banjir: Klaim vs. Realita di Lapangan
Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengenai kondisi kelistrikan di Aceh pasca bencana banjir dan longsor menuai sorotan tajam. Bahlil melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa 97 persen wilayah Aceh telah teraliri listrik. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda, memicu berbagai reaksi dari masyarakat, anggota DPR, hingga Ombudsman RI.
Anggota DPR RI, T.A. Khalid, secara tegas menuding Menteri Bahlil telah memberikan laporan yang tidak akurat kepada Presiden. Menurutnya, data yang benar menunjukkan bahwa baru sekitar 60 persen wilayah di 18 kabupaten/kota yang terdampak bencana yang telah menikmati kembali penerangan.
“Saat ini baru 60 persen listrik menyala di 18 kabupaten/kota yang terdampak banjir dan longsor di Aceh. Saya minta seluruh menteri untuk melaporkan data yang benar kepada Presiden, jangan bohongi Presiden, sehingga beliau bisa mengambil kebijakan yang tepat dan benar untuk rakyat,” ujar Khalid.
Khalid menekankan betapa pentingnya akurasi data dalam penanganan bencana. Laporan yang tidak benar dapat menghambat proses pemulihan dan merugikan masyarakat Aceh.
“Laporkan data sesungguhnya, jangan asal bapak senang. Seluruh menteri saya minta untuk tidak bohongi Presiden soal banjir di Aceh,” tegasnya. Ia juga mewanti-wanti agar data yang tidak akurat tidak berlanjut pada tahap pembangunan hunian sementara, yang dapat memicu konflik antara pemimpin lokal dan masyarakat.
Kronologi Klaim dan Bantahan
Berikut adalah kronologi singkat mengenai klaim Menteri Bahlil dan bantahan yang muncul:
- Klaim Bahlil: Saat kunjungan Presiden Prabowo ke Aceh, Bahlil menyatakan bahwa 97 persen wilayah Aceh telah teraliri listrik dan menargetkan 100 persen dalam waktu dekat.
- Apresiasi Presiden: Presiden Prabowo mengapresiasi upaya percepatan pemulihan tersebut dan menunjuk KSAD sebagai komandan satuan tugas percepatan perbaikan jembatan yang terdampak bencana.
- Bantahan Pemerintah Aceh: Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, mengklarifikasi bahwa klaim Bahlil tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan berpotensi menimbulkan kekecewaan di masyarakat.
- Kondisi Riil di Lapangan: Masyarakat di berbagai wilayah Aceh melaporkan bahwa listrik masih padam, termasuk di sebagian Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, dan Gayo Lues.
Kekecewaan Masyarakat dan Klarifikasi Pemerintah Aceh
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menyampaikan kekecewaannya atas pernyataan Menteri Bahlil. Ia menekankan pentingnya menjaga kondusivitas masyarakat dengan memberikan informasi yang akurat.
“Kami memandang perlu klarifikasi untuk kondusivitas masyarakat. Banyak masyarakat merasa kecewa dan berpotensi resisten bagi tenaga PLN di lapangan,” kata MTA.
MTA menjelaskan bahwa suplai listrik untuk seluruh Aceh baru mencapai 60-70 persen untuk jaringan menengah. Bahkan, di Banda Aceh sendiri, kondisi kelistrikan baru mencapai 35-40 persen. Daerah yang paling parah terdampak kerusakan jaringan adalah Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Timur, dengan persentase di bawah 40 persen.
MTA berharap agar kekeliruan informasi ini tidak menyebabkan kekecewaan masyarakat terhadap petugas PLN yang sedang berupaya memulihkan listrik. Ia juga mengingatkan semua pihak untuk berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait kebijakan publik, terutama di tengah bencana.
Kondisi Listrik di Berbagai Wilayah Aceh
Laporan dari berbagai wilayah di Aceh pada Senin (8/12/2025) malam menunjukkan bahwa pemadaman listrik masih terjadi.
- Banda Aceh: Sebagian wilayah mengalami pemadaman total sejak Minggu pagi.
- Bireuen: Seluruh wilayah Bireuen dilaporkan gelap gulita.
- Gayo Lues: Listrik padam, sehingga warga harus mencari sinyal dan fasilitas di masjid yang memiliki genset.
- Aceh Besar: Pemadaman terjadi sejak sore hari, dengan listrik hanya menyala beberapa jam di siang hari.

Ombudsman RI Turut Bersuara
Ombudsman RI turut menyoroti masalah ini dan meminta seluruh instansi terkait, termasuk Kementerian ESDM dan PLN, untuk menyampaikan informasi yang akurat dan sesuai dengan kondisi lapangan.
Anggota Ombudsman RI, Johanes Widijantoro, menekankan bahwa akurasi informasi sangat penting dalam situasi darurat untuk memastikan masyarakat mendapatkan kepastian dan dapat mengambil langkah penyelamatan yang tepat.
“Dalam kondisi bencana, masyarakat tidak membutuhkan laporan yang dibuat untuk menyenangkan pimpinan,” ujar Johanes. Ia menekankan pentingnya menyampaikan kondisi apa adanya, termasuk kendala yang dihadapi dan area yang masih padam.
Ombudsman RI menemukan ketidaksesuaian antara laporan yang disampaikan kepada Presiden dengan kondisi di lapangan, di mana masih banyak wilayah yang mengalami pemadaman.
Dampak pada Kepercayaan Publik
Ketidaksesuaian antara klaim pemerintah dan realita di lapangan telah memicu berbagai reaksi negatif dari masyarakat Aceh. Beberapa warga merasa kecewa dan bahkan menganggap pernyataan Menteri Bahlil sebagai “prank” di tengah situasi bencana. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan akurasi informasi dalam membangun kepercayaan publik, terutama dalam situasi krisis.
Pentingnya Akurasi Informasi dalam Penanganan Bencana
Kasus ini menyoroti pentingnya akurasi informasi dalam penanganan bencana. Informasi yang tidak akurat dapat menyebabkan:
- Keterlambatan penanganan: Kebijakan yang diambil berdasarkan data yang salah dapat menghambat proses pemulihan.
- Kekecewaan masyarakat: Masyarakat yang merasa dibohongi akan kehilangan kepercayaan pada pemerintah.
- Potensi konflik: Informasi yang tidak akurat dapat memicu konflik antara berbagai pihak, termasuk antara pemerintah pusat dan daerah, serta antara pemimpin dan masyarakat.
Oleh karena itu, seluruh pihak terkait, terutama pemerintah, harus memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada publik akurat, faktual, dan sesuai dengan kondisi lapangan. Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan penanganan bencana yang efektif.



















