Bank Indonesia Tegal Gelar “Serunai 2025”: Semarak Rupiah Sambut Natal dan Tahun Baru
Menjelang puncak perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, Bank Indonesia (BI) Tegal menggelar sebuah inisiatif bertajuk “Serunai 2025”. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 8 hingga 23 Desember 2025 ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang tunai yang layak edar, sekaligus memperkuat literasi keuangan masyarakat terkait Rupiah.
“Serunai 2025” merupakan bagian integral dari upaya Bank Indonesia untuk memastikan ketersediaan uang Rupiah yang berkualitas di tengah masyarakat, serta untuk menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan paham (CBP) terhadap mata uang kebanggaan Indonesia.
Peningkatan Ketersediaan Dana dan Jangkauan Layanan
Tahun ini, Bank Indonesia Tegal menunjukkan komitmennya dengan menyiapkan dana sebesar Rp1 miliar untuk kegiatan penukaran uang. Angka ini mengalami peningkatan signifikan sebesar 25 persen dibandingkan dengan alokasi dana pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan antisipasi BI terhadap lonjakan permintaan uang tunai menjelang periode Natal dan Tahun Baru.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Teguh Triyono, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyediakan dua titik lokasi strategis untuk layanan penukaran uang. Masing-masing lokasi mendapatkan alokasi 100 paket penukaran. Dua titik layanan tersebut adalah:
- Gereja Hati Kudus, yang berlokasi di Kota Tegal.
- Gereja Katolik Paroki Santa Maria Immaculata, yang terletak di Slawi, Kabupaten Tegal.
“Melalui layanan yang kami sediakan ini, masyarakat tidak hanya dapat menukarkan uang rupiah mereka, tetapi juga mendapatkan edukasi pentingnya merawat Rupiah, merasakan kebanggaan saat menggunakannya, dan bertransaksi secara bijak,” ujar Teguh Triyono.
Memperkuat Pilar Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah
Lebih lanjut, Teguh Triyono menekankan bahwa kegiatan “Serunai 2025” juga menjadi momentum bagi Bank Indonesia untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat agar semakin memperdalam pilar Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.
Cinta Rupiah: Pilar ini diwujudkan melalui pemahaman masyarakat terhadap ciri-ciri keaslian uang Rupiah. Masyarakat diajak untuk membiasakan diri dengan metode 3D, yaitu Dilihat, Diraba, dan Diterawang, untuk memastikan keaslian uang yang mereka terima. Selain itu, cinta Rupiah juga diwujudkan dengan merawat uang yang dimiliki agar tetap layak edar. BI menekankan pentingnya menjaga uang Rupiah melalui prinsip 5J: Jangan dilipat, Jangan diremas, Jangan dicoret, Jangan distapler, dan Jangan dibasahi.
Bangga Rupiah: Kebanggaan terhadap Rupiah dilandasi oleh pemahaman bahwa mata uang ini bukan sekadar alat pembayaran yang sah dalam perekonomian nasional, melainkan juga sebuah simbol kedaulatan bangsa Indonesia. Penggunaan Rupiah mencerminkan identitas dan kemandirian bangsa.
Paham Rupiah: Pilar ini mendorong masyarakat untuk berperilaku bijak dalam bertransaksi. Hal ini mencakup kebiasaan berbelanja sesuai dengan kebutuhan, memprioritaskan produk dalam negeri untuk mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) nasional, serta pentingnya menabung dan berinvestasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Mekanisme Penukaran dan Sambutan Positif
Kegiatan “Serunai 2025” yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Tegal pada tanggal 16 Desember 2025 di dua titik tersebut memiliki mekanisme penukaran yang terstruktur. Satu paket penukaran berisi kombinasi pecahan uang Rupiah, yaitu Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, dan Rp100.000. Untuk memastikan pemerataan kesempatan, setiap individu dibatasi hanya dapat menukar satu paket saja.
Kegiatan ini mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat, terutama dari para jemaat gereja yang menjadi lokasi penukaran. Romo Joseph Ohoiledwarin MSC, Pastor Paroki Santa Maria Immaculata Slawi, mengungkapkan apresiasinya terhadap inisiatif BI Tegal.
“Kegiatan penukaran uang ini sangat membantu dan mendapat dukungan penuh dari jemaat kami. Antrean yang terlihat hingga ke halaman gereja menunjukkan betapa antusiasnya masyarakat menyambut layanan ini,” ujar Romo Joseph. Ia menambahkan bahwa meskipun mayoritas pengunjung adalah jemaat gereja, masyarakat umum juga turut hadir. “Kami sangat berterima kasih kepada Bank Indonesia Tegal atas inisiatifnya yang sangat baik ini,” tuturnya.
Salah satu jemaat yang memanfaatkan layanan ini, Bonivasius Sutrisno, menceritakan pengalamannya. Ia menyatakan bahwa ini adalah kali pertama layanan penukaran uang jelang Natal diselenggarakan di Gereja Maria Immaculata Slawi.
“Tahun-tahun sebelumnya belum pernah ada, jadi kami sangat antusias dan menyambut baik kegiatan ini. Saya menukarkan satu paket senilai Rp5 juta, yang rencananya akan digunakan untuk santunan anak yatim dan keperluan gereja,” ungkap Sutrisno. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan di tahun-tahun mendatang karena dirasa sangat membantu kebutuhan masyarakat menjelang hari raya.




















