Isu soal ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu reaksi keras dari Rohwati, mantan guru Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Surakarta. Dalam pertemuan di Gedung Wanita Sasana Krida Kusuma, Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (8/10/2026), ia menyebut tudingan bahwa Gibran tidak menamatkan SMA membuat dirinya ikut tersinggung. Rohwati menilai kabar itu tidak masuk akal karena selama menjadi muridnya, Gibran dikenal memiliki kemampuan belajar yang baik, berperilaku sopan, dan layak melanjutkan sekolah ke luar negeri.
Rohwati mengajar Gibran pada periode 1999 hingga 2002. Ia menegaskan, penerimaan Gibran di SMPN 1 Surakarta bukan karena faktor kedekatan keluarga, melainkan hasil kemampuan akademik. Menurut dia, saat itu Gibran masuk sekolah unggulan tersebut sebelum nama Joko Widodo dikenal luas sebagai Wali Kota Solo. Karena itu, ia keberatan bila ada anggapan bahwa mantan siswanya tidak menempuh pendidikan menengah atas secara tuntas.
“Kalau saya agak sakit hati. Nggak mungkin terjadi. Sekelas Pak Jokowi putranya tidak lulus SMA saya tidak mungkin. Terutama saya sebagai gurunya saya termasuk yang tidak terima. Bukan anak bodoh anak titipan. Dan memang keterima murni semua,” kata Rohwati kepada Tribun Solo. Ia menambahkan, sejak duduk di bangku SMP, Gibran menunjukkan kemampuan yang menonjol di sejumlah mata pelajaran, terutama Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.
Penilaian itu membuat Rohwati tidak heran jika Gibran kemudian menempuh pendidikan di Orchid Park Secondary School, Singapura. Ia mengaku sering membandingkan kemampuan Bahasa Inggris Gibran dengan siswa lain dan hasilnya tergolong baik. “Saya sering mencocokkan dengan Bahasa Inggris termasuk bagus. Makanya ke luar negeri. Wajar banget kalau sekolah di Singapura. Keluarga Pak Jokowi sendiri memang disiapkan sekolah di luar negeri,” ujarnya. Untuk Bahasa Jawa, menurut dia, Gibran juga berada di kelompok atas meski bukan pemuncak nilai. Ia bahkan menyebut siswa yang kuat di Bahasa Jawa kerap punya modal yang baik pula dalam Bahasa Inggris.
Di luar soal akademik, Rohwati mengenang Gibran sebagai murid yang tenang dan sangat menjaga etika kepada guru. Sikap hormat itu, kata dia, tetap terlihat bahkan setelah Gibran menjadi pejabat publik. Ia mengisahkan bahwa Gibran terbiasa memberi salam dan mencium tangan ketika bertemu pendidiknya, termasuk saat sudah menjabat Wali Kota Solo. Bagi Rohwati, kebiasaan itu mencerminkan unggah-ungguh yang tertanam dari rumah.
Rohwati juga mengaitkan keyakinannya dengan pengalaman keluarga Jokowi di Solo. Ia menyebut pernah ada penegasan langsung dari Joko Widodo ketika masih menjabat Wali Kota dalam acara buka puasa bersama di Loji Gandrung. Momen itu, menurutnya, berkaitan dengan kedekatan anaknya yang pernah sekelas dengan Kahiyang Ayu. Sementara itu, polemik soal ijazah Gibran mencuat setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan dokumen penyetaraan atau bukti fisik ijazah luar negeri dalam berkas perkara. Namun, putusan tersebut tidak pernah menyatakan Gibran tidak lulus SMA dan juga tidak mencabut statusnya sebagai Wakil Presiden.
Sumber: www.tribunnews.com




