Menjelajahi Jejak Spiritual Ramadan di Kota Solo: Lima Masjid Unik Penuh Sejarah
Kota Solo, selain dikenal sebagai denyut nadi kebudayaan Jawa, juga menyimpan kekayaan spiritual yang mendalam, terutama saat bulan Ramadan menyapa. Suasana religius terasa kian hidup, berpusat di berbagai masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penjaga nilai sejarah dan keunikan arsitektur. Mengisi waktu ngabuburit dengan menjelajahi masjid-masjid ini menawarkan pengalaman wisata religi yang berbeda, mendalam, dan menyentuh batin, menyatukan diri dengan jejak sejarah, arsitektur, dan tradisi yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Berikut adalah lima masjid istimewa di Kota Solo yang patut dikunjungi untuk merasakan semangat Ramadan:
1. Masjid Raya Sheikh Zayed: Kemegahan Timur Tengah di Tanah Jawa
Terletak strategis di jantung Kota Bengawan, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo memancarkan kemegahan yang kental dengan nuansa Timur Tengah, sebuah pemandangan yang tak terduga di tanah Jawa. Bangunan sakral ini lebih dari sekadar tempat ibadah; ia adalah simbol ikatan persahabatan yang kuat antara dua negara. Peresmiannya pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo bersama Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, menandai hangatnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan UEA.
Berdiri megah di atas lahan seluas 26.581 meter persegi di Jalan A Yani No 121, Gilingan, Kecamatan Banjarsari, luas bangunan masjid ini mencapai 7.814 meter persegi, menjadikannya salah satu masjid termegah di Solo. Dirancang dalam dua lantai yang luas, masjid ini mampu menampung hingga 10.000 jemaah secara bersamaan.
Keistimewaan utama masjid ini terletak pada arsitekturnya yang memukau, sebuah replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi. Setiap detail bangunan mencerminkan gaya Timur Tengah, menciptakan atmosfer seolah berada di jazirah Arab. Empat menara menjulang setinggi 75 meter kokoh berdiri di setiap sudut, sementara kubah utama setinggi 65 meter menjadi mahkota bangunan, memadukan keindahan arsitektur Islam klasik dengan sentuhan modern yang elegan.
2. Masjid Jami Assegaf: Saksi Dakwah dan Aroma Kopi Rempah
Di tengah hiruk-pikuk Pasar Kliwon yang sarat sejarah, berdiri anggun Masjid Jami Assegaf, sebuah bangunan yang bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan dakwah dan budaya yang telah mengakar kuat di Solo. Berlokasi di Jalan Kapten Mulyadi, masjid ini memancarkan aura klasik yang berbeda, dengan dinding-dinding yang seolah menyimpan cerita panjang tentang para ulama, kerajaan, dan masyarakat yang tumbuh bersamanya.
Masjid ini didirikan pada dekade 1920-an oleh Habib Abu Bakar Assegaf, seorang ulama kharismatik asal Gresik, Jawa Timur. Kehadirannya di Solo membawa nuansa baru dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut. Kisah pendiriannya pun unik; saat berkunjung ke Solo, Habib Abu Bakar Assegaf dipercaya menyembuhkan kerabat raja yang sakit. Sebagai wujud penghargaan, Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X, menghadiahkan sebidang tanah yang kelak menjadi fondasi masjid ini.
Arsitekturnya merupakan perpaduan harmonis antara nuansa Timur Tengah dan sentuhan lokal Jawa, diperkaya dengan ornamen-ornamen sederhana namun penuh makna yang memperkuat karakter historisnya. Namun, keistimewaan masjid ini tidak berhenti pada sejarahnya. Tradisi unik terus dijaga, terutama saat Ramadan. Setiap sore menjelang berbuka puasa, aroma khas kopi rempah, yang dikenal sebagai kopi Arab, menyeruak dari halaman masjid. Minuman hangat kaya rempah ini dibagikan secara gratis kepada para jemaah, menambah kehangatan suasana di bulan suci.
3. Masjid Agung Keraton Solo: Harmoni Budaya dan Spiritualitas Jawa

Kemegahan Masjid Agung Keraton Surakarta tidak hanya memikat dari segi keunikan, tetapi juga karena jejak sejarah panjang yang terukir di setiap sudutnya. Masjid ini memiliki kaitan erat dengan peristiwa penting pemindahan pusat Kerajaan Mataram Islam dari Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745, di masa pemerintahan Paku Buwono II. Sejak awal, masjid ini dirancang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai ruang sakral yang terintegrasi dengan kehidupan keraton, tempat nilai agama dan tradisi Jawa berpadu harmonis.
Daya tarik utama masjid ini adalah arsitekturnya yang khas bernuansa Jawa. Alih-alih kubah bergaya Timur Tengah, masjid ini menampilkan atap tradisional yang sarat filosofi. Hampir seluruh strukturnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi, dengan pilar-pilar kokoh menopang atap berukir halus yang memancarkan keanggunan klasik. Atapnya berbentuk limasan susun tiga, ciri khas masjid-masjid Jawa peninggalan keraton, di mana setiap tingkatan memiliki makna spiritual tentang kehidupan dan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta. Tak heran, masjid ini menjadi ikon religi dan budaya Surakarta.
4. Masjid Saminah Sihyadi: Inovasi Bentuk dan Sirkulasi Udara Alami
Masjid Saminah Sihyadi mungkin tergolong baru, namun desainnya yang tak lazim langsung mencuri perhatian. Mulai beroperasi pada Ramadan 1444 Hijriah, masjid ini menjadi buah bibir warga karena tampilannya yang unik dan berani keluar dari pakem. Berlokasi di Jalan Tirtonadi No 9, Gilingan, Banjarsari, bangunan ini mengusung konsep yang jauh dari kesan konvensional.
Alih-alih kubah besar, masjid ini berbentuk seperti tabung raksasa yang kokoh dan sederhana. Dinding luarnya berwarna cokelat dengan tekstur yang mengingatkan pada kulit salak, memberikan kesan alami, membumi, namun tetap artistik. Atapnya datar, dan seluruh sisi bangunan dikelilingi jendela kayu yang dapat dibuka lebar. Jendela-jendela yang berderet rapi ini tidak hanya menciptakan harmoni visual tetapi juga memaksimalkan fungsi. Ketika semua jendela terbuka, angin mengalir bebas menembus ruang salat, menjaga ruangan tetap sejuk secara alami tanpa bantuan pendingin udara.
5. Masjid Siti Aisyah: “Masjid Kotak” dengan Sentuhan Maroko
Di tengah denyut kebudayaan Jawa yang memadukan tradisi dan modernitas, Kota Solo juga menyimpan permata arsitektur religi yang unik, salah satunya adalah Masjid Siti Aisyah. Berlokasi di Jalan Menteri Supeno No 17, Manahan, Surakarta, masjid ini tampil tenang di kawasan yang cukup ramai, dengan bentuk yang sudah tampak tak biasa dari kejauhan.
Masjid Siti Aisyah kerap dijuluki “masjid kotak” karena desainnya yang tegas dan geometris. Berbeda dari kebanyakan masjid di Indonesia yang identik dengan kubah, bangunan ini justru tampil tanpa kubah sama sekali. Konsep arsitektur ini terinspirasi dari gaya masjid-masjid di Timur Tengah, khususnya yang berkembang di wilayah Maroko, sehingga nuansa Timur Tengah terasa kental dalam setiap sudut desainnya.




















