Mudik Mewah Plastik: Curhat Pemudik Tangerang-Banyumas Bayar Mahal Duduk Tak Nyaman

Diposting pada

Pengalaman Pahit Pemudik: Tiket Mahal Berujung Kursi Plastik di Bus

Sebuah kisah miris tentang pengalaman mudik lebaran yang dialami seorang bapak menjadi viral di media sosial, memicu kemarahan publik dan sorotan tajam terhadap praktik layanan transportasi. Sang bapak, yang telah membeli tiket bus dengan harga yang tidak murah, harus menerima kenyataan pahit duduk di kursi plastik selama perjalanan panjang menuju kampung halamannya. Kejadian ini menyoroti adanya potensi kecurangan dan ketidakadilan dalam pelayanan tiket bus.

Kronologi Kejadian yang Menggemparkan

Cerita ini bermula pada hari Rabu, 18 Maret 2026. Seorang bapak berangkat dari Poris, Tangerang, menuju Banyumas, Jawa Tengah, dengan menggunakan bus langganannya. Ia telah membeli tiket dengan harga Rp420.000, sebuah nominal yang cukup tinggi untuk sebuah perjalanan bus. Nomor tempat duduk yang tertera pada tiketnya adalah nomor 39.

Namun, setibanya di dalam bus, sang bapak terkejut bukan kepalang. Ia tidak menemukan kursi yang sesuai dengan nomor tiketnya. Alih-alih mendapatkan tempat duduk yang layak seperti penumpang lainnya, ia justru diberikan sebuah kursi plastik yang ditempatkan di bagian belakang bus, berdekatan dengan area toilet.

Kondisi ini tentu saja sangat mengejutkan dan membuat sang bapak merasa tidak nyaman. Ia segera menghubungi anaknya, pemilik akun TikTok @caratsebong.13, untuk menceritakan pengalaman yang dialaminya.

“Masa bapak dapatnya bangku cadangan, nduk,” keluh sang bapak kepada anaknya.

Sang anak, yang juga merasa prihatin, segera menanyakan lebih lanjut.

“Lah, apa di tiketnya tidak ada nomor kursinya?” tanya sang anak.

“Tukang tiketnya yang tidak cermat,” jawab sang bapak, menunjukkan adanya dugaan kesalahan dari pihak agen tiket.

Penasaran, sang anak kemudian menanyakan ketersediaan kursi penumpang di bus tersebut. Ternyata, berdasarkan informasi yang didapat, kapasitas kursi penumpang di bus itu hanya sampai nomor 38. Ini berarti, nomor tiket 39 yang dipegang oleh sang bapak memang berada di luar kapasitas resmi bus.

“Di tiket dapat kursi nomor berapa?” tanya sang anak.

“Nomor 39. Sedangkan nomor terakhir sampai 38,” jelas sang bapak.

Mengetahui ayahnya harus duduk di kursi plastik dengan harga tiket yang sama seperti penumpang lain yang duduk nyaman, sang anak merasa sangat tidak tega. Ia pun semakin terkejut ketika mengetahui bahwa harga tiket yang dibayarkan ayahnya untuk mendapatkan kursi plastik tersebut sama persis dengan harga tiket penumpang lain yang duduk di kursi yang nyaman.

“Ya capek pakai kursi plastik seperti itu,” pungkas sang anak.

“Tidak apa-apa, nduk,” jawab sang bapak dengan sabar, meskipun jelas terlihat ketidaknyamanannya.

“Beli tiketnya langsung di Poris atau dari kemarin? Itu dapat kursi seperti itu, harganya tetap sama?” tanya sang anak lagi, berusaha memastikan detailnya.

“Harga sama Rp420.000,” jawab sang bapak.

Kemarahan Publik dan Respons Pihak Bus

Merasa sangat gusar dan tidak terima dengan perlakuan yang dialami ayahnya, sang anak akhirnya memutuskan untuk memviralkan kejadian ini di media sosial. Unggahan di akun TikTok @caratsebong.13 tersebut dengan cepat menarik perhatian banyak pengguna.

“Jadi begini, guys. Bapakku hari ini 18 Maret 2026 pulkam dari Poris Tangerang ke Banyumas. Di tiket dia dapat kursi nomor 39, tapi ternyata itu kursi cadangan. Kursi plastik abang bakso yang sama sekali tidak nyaman dan tidak safety. Kenapa harganya tetap Rp420.000 ya? Mohon penjelasannya ya, guys. Apakah aku harus komplain dan ke mana komplainnya?” tulis sang anak dalam unggahannya, meminta penjelasan dari pihak bus.

Respons dari pihak bus akhirnya datang. Mereka meminta informasi lebih lanjut, seperti foto tiket dan nomor lambung bus, untuk melakukan investigasi.

“Bisa diinformasikan foto tiket dan nomor lambung busnya?” tanya pihak bus.

Meskipun pihak bus telah merespons, kejadian ini sudah terlanjur menimbulkan kegaduhan dan kemarahan di kalangan publik. Netizen ramai-ramai mengecam tindakan tidak adil yang dialami oleh bapak pemudik tersebut. Berbagai komentar pedas dan ungkapan kekecewaan membanjiri kolom komentar unggahan.

  • “Pedih lihat ini, tidak kebayang bagaimana pegalnya duduk di kursi bakso berjam-jam dengan harga yang mahal banget. Kok ada orang yang jahat begitu sama orang tua? Tidak berkah loh hidupnya.”
  • “Astaghfirullah, mau nangis bacanya.”
  • “Ya kali dari Tangerang ke Banyumas duduk di kursi seperti itu dengan posisi mobil jalan pasti goyang-goyang. Bapaknya baik banget, Kak, tidak komplain sama sekali. Semoga diberi rezeki terus ya, Pak.”

Kisah ini menjadi pengingat pentingnya integritas dan kejujuran dalam industri transportasi, serta perlunya pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan kenyamanan dan keamanan seluruh penumpang, terutama bagi mereka yang telah membayar dengan harga penuh. Pengalaman pahit ini diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi penyedia layanan transportasi agar tidak mengulangi praktik serupa di masa mendatang.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan