Nur Sahati: Pendidikan Tinggi Melawan Nikah Dini & Kemiskinan Anak TKI

Diposting pada

Nur Sahati Sahara, seorang siswi kelas XI IPS di SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Jawa Timur, memiliki cita-cita yang tinggi: melanjutkan pendidikan ke Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan mengambil jurusan Psikologi. Meskipun masih memiliki waktu satu tahun untuk mewujudkan impiannya, ia tidak ingin hanya berdiam diri. Selain giat belajar, Nur juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari English Club, menghafal Al Quran, hingga berlatih berkuda.

“Saya dari dulu ingin menjadi psikolog. Saya senang bisa memahami permasalahan orang lain dan membantu mereka,” ungkapnya saat ditemui di ruang tamu SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan.

Namun, ambisi Nur tidak hanya terbatas pada menjadi seorang psikolog. Jika cita-citanya untuk kuliah di Unhas tidak terwujud, ia memiliki rencana lain, yaitu melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan mengambil Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

“Saya tidak ingin berhenti sekolah. Saya juga ingin mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar yang sulit diakses. Seperti guru-guru saya dulu,” tambahnya.

Masa Kecil di Perkebunan Sawit Malaysia

Lahir di Sabah, Malaysia, pada tahun 2008, Nur menghabiskan masa kecilnya di sebuah perkebunan sawit. Kedua orang tuanya bekerja sebagai tukang kayu, membangun rumah bagi para pekerja migran Indonesia di perkebunan tersebut. Demi membantu perekonomian keluarga, mereka telah merantau sejak tahun 1998 dan hingga kini masih bekerja di Sabah bersama dua adik Nur.

Sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, Nur memiliki seorang kakak yang saat ini sedang kuliah di Yogyakarta. Kakak keduanya memilih untuk bekerja di Balikpapan guna meringankan beban ekonomi keluarga, sementara salah satu adiknya bersekolah di Jawa Tengah dengan beasiswa dari Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Program ini merupakan inisiatif pemerintah Indonesia yang ditujukan bagi anak-anak WNI dari Sabah dan Sarawak yang ingin melanjutkan pendidikan di Tanah Air.

Nur mengenang masa kecil dan remajanya di Community Learning Center (CLC), sebuah sekolah formal bagi anak-anak TKI di Sabah. Dari kelas 3 SD hingga kelas 9, ia belajar di CLC yang jauh dari gambaran sekolah ideal. Jumlah guru sangat terbatas.

“Dulu saya hanya punya tiga guru. Mereka mengajar semua kelas, dari SD sampai kelas 9,” kenangnya.

Salah satu guru yang menginspirasinya untuk terus mengejar pendidikan tinggi di tengah keterbatasan fasilitas adalah Pak Adi Arkono, seorang guru Indonesia yang mengabdikan diri dengan sepenuh hati untuk menanamkan pentingnya pendidikan bagi anak-anak TKI. Ia mengajar tanpa menerima gaji, hingga akhirnya masyarakat dan pihak perkebunan menyediakan bekas bangunan perusahaan untuk dijadikan ruang kelas.

“Di sanalah saya belajar arti pengabdian,” kata Nur.

Sekolah Nur berjarak sekitar dua hingga tiga jam dari kota Tawau. Akses menuju sekolah tidak mudah, tetapi kawasan tersebut relatif lebih dekat dengan kota pelabuhan Tawau. Nur masih mengingat istilah “checking,” yaitu razia yang sering dilakukan oleh aparat setempat. Saat kabar razia beredar, warga yang tidak memiliki dokumen harus bersembunyi di sungai atau di balik pohon-pohon sawit.

“Kasihan kalau ada checking, pekerja yang tidak memiliki dokumen harus sembunyi di sungai. Beruntung keluarga saya masuk sebagai pekerja legal,” kenangnya.

Mewujudkan Mimpi dari Pesan Orang Tua

Ketika Nur akhirnya bisa menginjakkan kaki di Indonesia dan bersekolah di SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, ia mengaku tidak percaya. Dari 14 siswa rekannya di Sabah, hanya 7 siswa yang berhasil melanjutkan sekolah ke Indonesia.

“Sekolahnya besar sekali. Fasilitasnya lengkap. Dulu di CLC, pelajaran TIK pakai tiga laptop untuk semua kelas. Di sini, semuanya tersedia,” ujarnya.

Nur menyadari bahwa beasiswa adalah tiket untuk mencapai masa depan, karena mencari sekolah menengah atas di perkebunan sawit Sabah tidaklah mudah. Selain harus berada di kota besar, biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit.

“Lepas SMP kalau tidak kerja di ladang ya menikah kalau perempuan. Ujungnya kita berkutat lagi dengan penghidupan yang kurang layak karena gaji yang kecil,” ucapnya.

Di balik keteguhan Nur, terdapat pesan dari ayahnya yang meskipun hanya lulusan SD, namun sangat mendorong seluruh anaknya untuk meraih pendidikan setinggi mungkin.

“Bapak saya pernah melarang kakak pertama saya berhenti sekolah demi membantu ekonomi keluarga. Bapak bilang, biar bapak saja yang kerja. Kalian fokus sekolah,” kenangnya dengan haru.

Prinsip itu dipegang teguh oleh seluruh anak-anak dalam keluarga Nur. Pendidikan menjadi satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan kerja kasar di perkebunan sawit Sabah.

Selain fokus pada akademik, Nur juga memperkuat sisi spiritualnya dengan menghafal Al Quran sebagai bukti bahwa ia tekun membekali diri dengan semua ilmu yang dibutuhkan untuk mencapai cita-citanya di perguruan tinggi.

Meskipun harus berpisah dengan orang tuanya selama tiga tahun, Nur yakin bahwa keberhasilannya akan menjadi investasi yang penting bagi kehidupan mereka.

“Aturannya memang 3 tahun tidak boleh pulang, tapi masih bisa video call seminggu bisa 3 kali.”

“Saya pasti sanggup menahan rindu untuk mewujudkan mimpi orang tua dan mengangkat derajat mereka. Cita cita tertinggi saya mau bawa pulang orang tua ke Indonesia,” ujarnya dengan tekad.

Nur menyadari bahwa perjalanannya masih panjang dan perjuangan orang tuanya belum selesai. Namun, dari perbatasan yang sunyi, Nur membawa cahaya, seperti namanya, untuk mencapai masa depan yang lebih baik bagi anak-anak TKI lainnya di perkebunan sawit Sabah.

“Saya hanya ingin membuktikan satu hal, anak TKI juga bisa,” ucapnya dengan penuh semangat.

Sekolah Memutus Rantai Kemiskinan dan Pernikahan Dini

Gebya, Kepala SMA IIS PSM, yang juga merupakan penggagas gerakan Sabah Bridge pada tahun 2015, melihat banyak lulusan SMP di CLC terancam menikah muda, bekerja di kebun, atau terjebak dalam lingkaran kemiskinan karena tidak memiliki akses pendidikan lanjutan. Tanpa dukungan pemerintah saat itu, para guru bergerak mandiri mencari donatur, mengurus dokumen, hingga memberangkatkan anak-anak ke Indonesia.

Upaya pertama pada tahun 2016 berhasil membawa 27 anak pulang meskipun penuh rintangan, mulai dari ketiadaan paspor hingga kegagalan terbang karena masalah visa. Perjuangan itu akhirnya mendapat perhatian pemerintah dan menjadi cikal bakal Beasiswa Repatriasi yang kemudian masuk dalam program ADEM Repatriasi dengan pembiayaan penuh bagi anak-anak TKI.

“Pemerintah kemudian memasukkan program ini ke dalam ADEM, Afirmasi Pendidikan Menengah, yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi daerah 3T seperti Papua. ADEM Repatriasi membuka jalan resmi bagi anak-anak TKI dari Sabah untuk melanjutkan sekolah SMA di Indonesia dengan biaya penuh,” jelas Gebya.

Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 2018, Gebya melanjutkan perjuangan dengan mendampingi siswa ADEM Repatriasi di Jawa Timur. SMA IIS PSM Magetan merupakan salah satu sekolah mitra penempatan siswa dari Sabah.

Di Jawa Timur saja, tercatat sekitar 90 siswa ADEM Repatriasi yang tersebar di belasan sekolah negeri dan swasta, termasuk di Ngawi, Jember, Madiun, dan Magetan.

Selain ADEM, anak TKI yang orang tuanya bekerja di Sabah Malaysia juga bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi melalui program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK), meskipun kuotanya terbatas hanya sekitar 100 orang. Setiap tahun, program ADEM mampu meluluskan 400 hingga 500 siswa.

“Program ini memutus rantai pernikahan dini di lingkungan pekerja ladang sawit di Sabah. Anak-anak punya alasan yang kuat untuk menolak dinikahkan dan memilih sekolah. Dengan pendidikan, mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan,” pungkas Gebya.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan