Dosen ITB Menginspirasi di Kancah Internasional: Pengalaman Mengajar di Jerman Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Sebuah kebanggaan tersendiri bagi dunia pendidikan Indonesia ketika salah satu akademisi terbaiknya mampu berkontribusi di kancah internasional. Dr. N. Nurlaela Arief, MBA., IAPR., seorang dosen dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), baru-baru ini menorehkan prestasi membanggakan dengan menjadi dosen tamu internasional di Jerman.
Selama dua pekan, terhitung sejak 15 November hingga 2 Desember 2025, Dr. Lala—begitu ia akrab disapa—dipercaya untuk berbagi ilmu di RheinMain University of Applied Sciences, Wiesbaden, Jerman. Pengalaman berharga ini dijalani pada program Sarjana (S1) International Media Management, sebuah program yang berfokus pada studi media internasional di bawah naungan Faculty of Design, Computer Science, and Media. RheinMain University sendiri dikenal sebagai institusi pendidikan tinggi terapan yang sangat mengedepankan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan interdisipliner, sebuah filosofi yang sejalan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan di berbagai belahan dunia.
Perjalanan Menuju Jerman: Seleksi Ketat dan Dedikasi Akademik
Kesempatan emas ini tidak datang begitu saja. Dr. Lala berhasil menembus proses seleksi yang ketat berkat jejaring akademik internasional yang telah ia bangun. Pihak RheinMain University secara resmi melakukan seleksi terhadap calon dosen tamu, di mana Dr. Lala harus menunjukkan kapasitasnya melalui berbagai tahapan.
Proses seleksi tersebut meliputi penyusunan dan pengajuan silabus perkuliahan yang komprehensif, perancangan metode pengajaran yang inovatif dan interaktif, serta pengiriman video simulasi mengajar. Tahapan-tahapan ini dirancang untuk mengukur tidak hanya kedalaman materi yang dikuasai, tetapi juga kemampuan pedagogis dan adaptabilitas calon dosen dalam lingkungan akademik yang berbeda.
Meski program tersebut awalnya dirancang untuk durasi empat minggu, Dr. Lala harus memadatkan jadwal pengajarannya menjadi dua minggu yang sangat intensif. Hal ini dikarenakan adanya tanggung jawab akademik dan administratif yang harus ia penuhi di tanah air. “Program ini sebenarnya dirancang untuk empat minggu. Namun, karena tanggung jawab di tanah air, jadwal pengajaran dipadatkan menjadi dua minggu yang sangat intensif,” ujar Dr. Lala. Rekomendasi akademik yang kuat dari berbagai pihak turut menjadi modal penting bagi Dr. Lala untuk mengisi posisi Visiting Lecturer di Faculty of Design, Computer Science, and Media.
Materi Perkuliahan yang Mendalam dan Perspektif Global
Kelas yang diampu oleh Dr. Lala dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang negara, tidak hanya dari Jerman, tetapi juga dari Prancis, Maroko, dan negara-negara Eropa lainnya. Keberagaman ini menciptakan dinamika diskusi yang kaya dan membuka wawasan baru bagi semua pihak.
Materi perkuliahan yang dibahas mencakup tiga area utama:
- Intercultural Corporate Communication: Membahas bagaimana komunikasi antarbudaya dapat diimplementasikan dalam lingkungan korporat, pentingnya pemahaman lintas budaya dalam bisnis global.
- Corporate Diplomacy: Menyelami peran diplomasi dalam dunia korporat, termasuk strategi negosiasi, manajemen krisis, dan pembangunan hubungan baik dengan berbagai pemangku kepentingan.
- International Media Management: Fokus utama mata kuliah ini adalah pada aspek-aspek krusial dalam pengelolaan media internasional, meliputi:
- Manajemen media secara umum.
- Ekonomi media dan model bisnis yang berkelanjutan.
- Hubungan media (media relations) dan strategi komunikasi publik.
- Pemetaan lanskap media global, termasuk tren dan tantangan terkini.
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah ketika Dr. Lala membahas mengenai lanskap media di Indonesia. Ia memaparkan secara rinci keragaman ekosistem media di tanah air, mulai dari proses produksi, metode distribusi, hingga pola konsumsi dan regulasi yang berlaku. Pembahasan ini mencakup berbagai aspek kompleks, seperti:
* Pengaturan kepemilikan media yang berpengaruh terhadap independensi.
* Keterkaitan media dengan kepentingan politik.
* Perkembangan pesat media digital yang seringkali didanai oleh *venture capital*.
* Fenomena *homeless media* atau media tanpa identitas kepemilikan yang jelas.
Dr. Lala mengamati bahwa mahasiswa di Jerman memiliki karakteristik yang sangat lugas dan to the point dalam berinteraksi. “Mahasiswa di Jerman sangat to the point. Mereka tidak ragu bertanya, mengoreksi, atau meminta kejelasan, termasuk soal metode penilaian sendiri,” ungkapnya. Sikap ini menunjukkan kedewasaan akademik dan kemauan untuk benar-benar memahami materi hingga ke akar-akarnya.
Student-Centered Learning dan Antusiasme Mahasiswa
Pengalaman mengajar di RheinMain University memberikan Dr. Lala pandangan mendalam mengenai efektivitas metode pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning). Di institusi ini, sesi perkuliahan satu arah dibatasi secara ketat, maksimal hanya satu jam. Sisa waktu perkuliahan dialokasikan untuk kegiatan diskusi interaktif, kerja kelompok, serta jeda istirahat singkat (seperti coffee break) yang dirancang untuk menjaga fokus dan efektivitas belajar mahasiswa.
“Mahasiswa di sana sangat menghargai waktu dan keterbukaan. Jika mereka merasa lelah, mereka akan menyampaikannya secara langsung. Namun yang luar biasa adalah antusiasme mereka ketika diberi tantangan,” tutur Dr. Lala. Sikap terbuka ini memungkinkan dosen untuk menyesuaikan metode pengajaran demi kenyamanan dan hasil belajar yang optimal.
Sebagai tugas akhir, Dr. Lala memberikan tantangan kepada mahasiswanya untuk membuat podcast. Mengingat konsumsi dan produksi media digital di Jerman cenderung lebih tertutup dibandingkan di Indonesia, tugas ini menjadi sebuah tantangan tersendiri. Namun, hasilnya sungguh luar biasa. Hanya dalam waktu tiga hari, para mahasiswa berhasil memproduksi podcast yang didasarkan pada teori media, dengan pembagian peran yang jelas dan profesional.
Yang lebih mengagumkan lagi, mereka berani mengangkat isu-isu global aktual dengan pendekatan jurnalistik yang tajam. “Awalnya mereka ragu, tetapi hasil akhirnya sangat baik. Di situlah saya merasa metode pembelajaran ini benar-benar berhasil,” kata Dr. Lala, penuh rasa bangga. Pengalaman ini membuktikan bahwa dengan metode yang tepat dan tantangan yang sesuai, mahasiswa dapat menunjukkan potensi luar biasa dan menghasilkan karya yang berkualitas tinggi. Keberhasilan Dr. Lala di Jerman ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi ITB, tetapi juga menjadi inspirasi bagi akademisi Indonesia lainnya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di kancah global.




















