Misteri di Balik Serangan Air Keras Terhadap Aktivis HAM: Pemantauan Awal dan Ancaman yang Mengintai
Sebuah insiden mengerikan yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, telah menimbulkan keprihatinan mendalam. Peristiwa penyiraman air keras yang terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (12/3/2026), ternyata dibayangi oleh serangkaian manuver mencurigakan yang mengindikasikan adanya upaya pemantauan intensif terhadap korban sebelum serangan terjadi.
Pemantauan Asrama dan Aktivitas Korban
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, mengungkapkan bahwa beberapa hari sebelum kejadian, aktivitas di asrama KontraS telah diamati oleh orang tak dikenal. Saksi mata melaporkan adanya individu asing yang berkeliaran di depan pintu asrama KontraS selama tiga hari berturut-turut. Ketika didekati, individu tersebut segera pergi. Keberadaan orang asing di sekitar mess KontraS ini terekam oleh beberapa saksi yang menegaskan bahwa mereka bukanlah penghuni atau warga setempat.
Lebih lanjut, bukti-bukti lain menunjukkan bahwa aktivitas Andrie Yunus telah dipantau di berbagai lokasi. Isnur menjelaskan bahwa sepanjang hari sebelum insiden, pergerakan Andrie dari Kantor Celios hingga YLBHI dilaporkan diikuti. Rekaman CCTV di lokasi-lokasi tersebut diduga telah menangkap keberadaan para pemantau yang identitasnya kini menjadi fokus penyelidikan.
Panggilan Telepon Misterius dan Kronologi Kejadian
Sebelum insiden penyiraman air keras, Andrie Yunus dilaporkan menerima sejumlah panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mencatat adanya panggilan dari nomor-nomor tak dikenal ini pada rentang tanggal 9 hingga 12 Maret 2026. Sebagian nomor tersebut diduga terkait dengan aktivitas spam penipuan, pinjaman online, hingga modus penipuan perbankan elektronik (m-banking).
Pada hari kejadian, Andrie Yunus menjalani rutinitasnya seperti biasa. Ia meninggalkan Kantor KontraS sekitar pukul 15.30 WIB untuk menghadiri pertemuan di Kantor Celios yang membahas tindak lanjut laporan investigasi Komisi Pencari Fakta mengenai Aksi Agustus 2025. Setelah agenda tersebut, sekitar pukul 19.45 WIB, Andrie bergerak menuju kantor YLBHI di Jalan Diponegoro, Menteng, guna melakukan perekaman podcast bersama staf YLBHI, Zainal Arifin.
Perekaman podcast tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah selesai, Andrie meninggalkan kantor YLBHI dan sempat berhenti untuk mengisi bahan bakar di SPBU Cikini sebelum melanjutkan perjalanan pulang menggunakan sepeda motor.
Sekitar pukul 23.37 WIB, saat melintasi Jalan Salemba I, Andrie melihat sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh dua orang bergerak melawan arah. Ketika kedua kendaraan berpapasan, pelaku secara tiba-tiba menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban.
Cairan tersebut mengenai sisi kanan tubuh Andrie, khususnya pada bagian mata, wajah, dada, dan tangan. Korban seketika berteriak kesakitan, menghentikan laju motornya, dan terjatuh.
Rumah Keluarga di Sukabumi Juga Menjadi Target
Fakta mengejutkan lainnya terungkap bahwa rumah keluarga Andrie Yunus di Sukabumi, Jawa Barat, juga pernah didatangi oleh orang tak dikenal pada 16 Januari 2026. Dimas Bagus Arya mengonfirmasi bahwa ayah Andrie telah berkomunikasi dengannya mengenai peristiwa tersebut. Orang tak dikenal itu diduga mencari informasi mengenai Andrie dan keluarganya.
Pihak KontraS menduga peristiwa ini berkaitan erat dengan aktivitas Andrie dalam lingkup pekerjaannya di bidang Hak Asasi Manusia (HAM). Dimas menambahkan bahwa ia telah menerima bukti rekaman CCTV yang menunjukkan adanya orang tak dikenal yang mengaku berasal dari Jakarta dengan nomor polisi kendaraan berinisial “D”.
Perawatan Intensif dan Harapan Publik
Saat ini, Andrie Yunus masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) akibat luka bakar yang dideritanya. Kepala Divisi Impunitas KontraS, Jane Rosalina, menyatakan bahwa kondisi Andrie belum memungkinkan untuk ditemui atau diwawancarai.
Pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen akibat reaksi inflamasi dari cairan keras yang mengenai kulitnya. “Andrie tidak bisa ditemui apalagi diwawancarai, sedang dalam perawatan intensif,” ujar Jane kepada awak media pada Sabtu.
Jane menjelaskan bahwa tingkat keparahan luka yang dialami korban memerlukan perawatan intensif dalam kondisi steril untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal. Pihak KontraS menghormati sepenuhnya proses penanganan medis yang dilakukan oleh tim dokter dan pihak rumah sakit.
KontraS juga menyampaikan harapan agar publik dapat mengawal proses hukum yang sedang berjalan agar kasus ini dapat segera diusut tuntas dan para pelaku dapat diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Selain itu, Jane memohon agar masyarakat dapat memberikan ruang privasi bagi keluarga, terutama korban, agar dapat fokus mendampingi dan memberikan dukungan selama masa pengobatan, perawatan, hingga pemulihan.




