I Gede Pasek Suardika Kembali Pimpin Partai Kebangkitan Nusantara
Denpasar – Dinamika politik Tanah Air kembali menghadirkan kejutan. I Gede Pasek Suardika, yang akrab disapa GPS, telah resmi kembali memegang tampuk kepemimpinan sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN). Keputusan ini diambil menyusul pengunduran diri Anas Urbaningrum dari posisi yang sama, yang beralasan memiliki kesibukan domestik yang menyita waktu dan perhatiannya.
Penetapan GPS sebagai Ketua Umum PKN diperkuat dengan penerimaan Surat Keputusan (SK) dari Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, pada Senin, 2 Maret 2026. Kembalinya GPS ke posisi puncak partai ini menandai babak baru bagi PKN, terlebih lagi ia adalah salah satu pendiri dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum saat partai ini pertama kali didirikan.
Pada awal pembentukan PKN, GPS memang telah dipercaya memimpin partai. Namun, pada tahun 2023, ia memutuskan untuk menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Anas Urbaningrum, sementara dirinya mengambil peran sebagai Ketua Majelis Agung. Kini, dengan kembalinya ia ke posisi strategis tersebut, GPS menyatakan bahwa dinamika politik memang seringkali tidak terduga, sejalan dengan perjalanan politiknya yang selalu dinamis.
“Saya saat ini kembali menjadi Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) karena Ketum yang lama Anas Urbaningrum mengundurkan diri akibat ada kesibukan domestik yang mengharuskan memfokuskan waktunya tahun-tahun ini dan tahun ke depannya,” jelas GPS pada Rabu, 4 Maret 2026.
Kembalinya GPS sebagai Ketua Umum PKN berarti ia akan menghadapi tantangan besar dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2029. Ini merupakan kali kedua baginya memimpin partai yang ia rintis bersama para aktivis yang memiliki kecintaan mendalam terhadap nilai-nilai kenusantaraan. Periode kepemimpinannya yang pertama adalah saat partai ini dalam tahap awal pendirian hingga berhasil ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2024.
GPS mengakui bahwa tugas ini merupakan tantangan yang sangat berat, terutama mengingat kesibukannya dalam profesi lain. Ia harus pandai membagi waktu antara mengurus partai politik yang memiliki jangkauan seluruh wilayah Indonesia dengan tanggung jawab profesionalnya.
“Sangat berat memang, tetapi ini tantangan yang harus dilewati sebagai bagian panggilan sejarah berani membuat partai politik. Paling tidak di posisi ketua umum, ada wajah Bali juga berada di partai politik yang sah berbadan hukum,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Ia pun berharap mendapatkan doa restu dan dukungan dari masyarakat luas. Dukungan tersebut diharapkan dapat memberikan semangat tambahan baginya untuk menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah di depan.
Aktivitas Politik Pasca Penetapan Ketua Umum Baru
Sehari setelah resmi kembali menjabat sebagai Ketua Umum PKN, GPS langsung aktif terlibat dalam sebuah seminar penting yang membahas isu Parliamentary Threshold. Seminar tersebut menghadirkan sejumlah tokoh terkemuka di bidang hukum dan politik, antara lain Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. Mahfud MD, Prof. Dr. Arief Hidayat, serta Titi Anggraini. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan partai politik non-parlemen yang tergabung dalam Gerakan Kedaulatan Suara Rakyat (GKSR).
Dalam kesempatan tersebut, GPS merasa bernostalgia dengan banyak sahabat lama dari Partai Hanura, termasuk dengan Oesman Sapta. Pengalaman ini mengingatkan kembali masa lalunya, di mana sebelum memutuskan untuk mendirikan partai politik sendiri, GPS pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal di Partai Hanura.
Selain itu, ia juga memanfaatkan momen tersebut untuk berdiskusi dan membangun komunikasi politik dengan perwakilan dari berbagai partai lain, seperti Partai Buruh, Partai Ummat, Partai Perindo, Partai Berkarya, dan Partai Bulan Bintang (PBB).
“Membangun komunikasi politik dengan sesama politisi di tingkat nasional sangat penting untuk bisa saling mematangkan atas berbagai isu politik yang sedang berkembang,” tegasnya, menekankan pentingnya sinergi antarpartai.
GPS memandang PKN sebagai sebuah mahakarya politik yang dapat diwujudkan, khususnya bagi individu minoritas yang berasal dari daerah kecil, namun mampu bergerak dalam arus besar perjuangan di tanah Nusantara.
Ia meyakini bahwa Nusantara pada waktunya akan bangkit dan menata Bumi Pertiwi menuju arah yang lebih jelas dan gemah ripah loh jinawi. Bagi mereka yang memiliki hasrat untuk menjadi history maker atau pencipta sejarah, GPS mengajak untuk merajut dan menenun ladang pengabdian bersama di PKN, dengan penekanan bahwa semua dimulai dari titik nol atau dari bawah.
Partai Kebangkitan Nusantara sendiri didirikan dengan visi untuk menjadi wadah bagi semangat kebangsaan dan kedaulatan rakyat. Kehadiran partai ini diharapkan dapat memberikan warna baru dalam lanskap politik Indonesia, dengan fokus pada nilai-nilai persatuan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Nusantara.
Kiprah I Gede Pasek Suardika dalam dunia politik Indonesia memang tidak bisa diremehkan. Pengalamannya yang panjang, mulai dari aktivisme hingga memimpin partai politik, memberikannya pemahaman mendalam tentang kompleksitas dan dinamika politik di Tanah Air. Kembalinya ia ke tampuk kepemimpinan PKN ini tentu menjadi sorotan publik, dan banyak pihak menantikan langkah-langkah strategis yang akan diambilnya dalam menghadapi berbagai tantangan politik ke depan, terutama menjelang Pemilu 2029.




















