Pertumbuhan layanan beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) di industri multifinance diprediksi akan terus melonjak hingga tahun 2026. Meski prospeknya cerah, berbagai tantangan signifikan diperkirakan akan dihadapi oleh para pemain di sektor ini seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap layanan tersebut.
Potensi Pertumbuhan dan Tantangan Industri BNPL
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang perlu diantisipasi oleh perusahaan multifinance yang bergerak di layanan BNPL. Risiko utama yang disorot adalah potensi over-indebtedness atau konsumen yang terlilit utang berlebihan. Hal ini bisa terjadi jika masyarakat terlalu mudah mengakses fasilitas kredit tanpa mempertimbangkan kemampuan bayar mereka secara cermat.
Selain itu, Heru juga mengingatkan tentang potensi kenaikan Non-Performing Financing (NPF) atau kredit macet, terutama jika kondisi perekonomian mengalami pelemahan. Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil, kemampuan konsumen untuk melunasi kewajiban pembayaran dapat terganggu, yang pada gilirannya akan berdampak pada kesehatan keuangan perusahaan pembiayaan.
Persaingan yang semakin ketat antar pemain juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menawarkan layanan BNPL, pelaku industri harus mampu berinovasi dan memberikan nilai tambah yang unik agar dapat bertahan dan berkembang di pasar yang kompetitif.
Regulasi, Keamanan, dan Manajemen Risiko
Penguatan regulasi dan pengawasan oleh otoritas keuangan juga berpotensi meningkatkan biaya kepatuhan bagi perusahaan. Kepatuhan terhadap aturan yang semakin ketat memerlukan investasi tambahan dalam sistem dan sumber daya manusia.
Isu perlindungan data dan keamanan siber juga menjadi perhatian besar. Seiring dengan meningkatnya volume transaksi digital, risiko kebocoran data dan serangan siber menjadi semakin nyata. Perusahaan harus memastikan bahwa data konsumen terlindungi dengan baik dan sistem mereka aman dari ancaman digital.
“Industri perlu menyeimbangkan ekspansi agresif dengan manajemen risiko yang disiplin agar pertumbuhan tetap berkelanjutan,” tegas Heru. Ini berarti perusahaan tidak boleh hanya fokus pada peningkatan jumlah pengguna atau volume transaksi, tetapi juga harus memastikan bahwa proses pemberian kredit dilakukan dengan hati-hati dan risiko yang ada dikelola dengan baik.
Strategi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Untuk menghadapi tantangan tersebut dan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, Heru Sutadi menyarankan beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh perusahaan multifinance. Penguatan credit scoring berbasis data alternatif menjadi salah satu kunci. Dengan memanfaatkan data yang lebih luas, seperti riwayat transaksi non-tradisional, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat tentang kelayakan kredit calon konsumen.
Integrasi dengan biro kredit juga sangat penting. Kolaborasi ini memungkinkan perusahaan untuk mengakses informasi kredit calon konsumen secara lebih komprehensif, sehingga dapat meminimalkan risiko pemberian kredit kepada individu yang berisiko tinggi.
Pemantauan perilaku pembayaran secara real time juga krusial. Dengan memantau pembayaran secara langsung, perusahaan dapat mendeteksi dini jika ada konsumen yang mengalami kesulitan pembayaran dan segera mengambil tindakan pencegahan.
Selain itu, penetapan limit adaptif dan segmentasi risiko menjadi penting agar ekspansi tetap selektif. Artinya, perusahaan perlu menyesuaikan limit kredit yang diberikan kepada setiap konsumen berdasarkan profil risiko mereka, serta mengelompokkan konsumen berdasarkan tingkat risikonya untuk menerapkan strategi pengelolaan yang berbeda.
Edukasi literasi keuangan juga memegang peranan krusial. Memberikan pemahaman yang baik kepada konsumen mengenai cara menggunakan layanan BNPL secara bijak dan bertanggung jawab dapat membantu mencegah over-indebtedness dan menjaga kesehatan portofolio perusahaan.
Kolaborasi dengan merchant untuk mengendalikan fraud atau penipuan juga menjadi strategi penting. Dengan bekerja sama erat dengan para pedagang, perusahaan dapat mengidentifikasi dan mencegah praktik penipuan yang dapat merugikan kedua belah pihak. Terakhir, strategi penagihan berbasis analitik dapat menjaga NPF tetap terkendali di tengah pertumbuhan tinggi. Dengan menganalisis data pembayaran, perusahaan dapat mengembangkan metode penagihan yang lebih efektif dan efisien.
Kinerja BNPL Hingga Akhir 2025
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa layanan BNPL perusahaan pembiayaan terus mengalami pertumbuhan yang signifikan hingga akhir tahun 2025. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, melaporkan bahwa pembiayaan BNPL pada Desember 2025 meningkat sebesar 75,05% secara year on year (YoY).
Berdasarkan informasi pada Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp11,94 triliun pada periode tersebut. Angka ini menunjukkan betapa pesatnya adopsi layanan BNPL di Indonesia.
Lebih lanjut, Agusman menyatakan bahwa non-performing financing (NPF) gross untuk layanan BNPL masih dalam kondisi yang terjaga, yaitu berada pada posisi 2,73%. Angka NPF yang relatif rendah ini mengindikasikan bahwa meskipun pertumbuhan BNPL sangat tinggi, para pelaku industri masih mampu mengelola risiko kredit macet dengan baik.

















