Pemkab Bolmong Dukung Koridor Ekologis Muara Pusian
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut), menyatakan dukungan penuh terhadap pembentukan koridor ekologis muara Pusian. Hal ini disampaikan oleh Bupati Bolmong Yusra Alhabsyi saat memberikan arahan dalam Lokakarya Finalisasi Dokumen Kajian Teknis Pengusulan Koridor Ekologis Muara Pusian (KEMP) di Hotel Sutan Raja Kota Kotamobagu, Senin (25/5/2026).
Yusra Alhabsyi menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki komitmen kuat dalam upaya memulihkan fungsi alam yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan wilayah Bolmong.
Dalam sambutannya, Bupati Yusra Alhabsyi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum pembahasan dokumen kajian teknis koridor tersebut. Ia meminta agar inisiatif pelestarian ini diseriusi oleh semua pihak, seraya menegaskan bahwa Pemkab Bolmong berkomitmen penuh untuk terlibat secara langsung.
“Wilayah Bolmong itu 70 lebih persen adalah hutan. Sebagian besar kehidupan orang Bolmong sangat tergantung pada hutan,” ucapnya.
Yusra tidak memungkiri bahwa saat ini kondisi hutan di wilayah Bolmong sedang terganggu. Selama ini, banyak pihak yang baru menyadari besarnya tingkat eksploitasi terhadap kawasan tersebut. Padahal, menurut Bupati, di dalam hutan terdapat sumber kehidupan yang nyata bagi masyarakat.
“Ini adalah upaya konkrit untuk meletakkan kembali fungsi hutan. Saya berharap lokakarya ini melahirkan rekomendasi yang mampu kita tindaklanjuti bersama demi manfaat bagi daerah,” tegasnya.
Adapun inisiatif pengusulan area preservasi koridor ekologis ini merupakan hasil kolaborasi multipihak. Program ini mendapatkan dukungan pendanaan dari UK FCDO dan Global Green Growth Institute (GGGI), serta diimplementasikan secara langsung oleh Wildlife Conservation Society Program Indonesia (WCS-PI).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), Decky Hendra Prasetya, menjelaskan bahwa koridor ekologis ini dirancang untuk menjaga konektivitas antara kawasan TNBNW dengan kawasan hutan di sekitarnya. Fungsinya sangat krusial, terutama sebagai area jelajah satwa kunci, guna mempertahankan kelestarian satwa dan keseimbangan lingkungan hidup.
“Maleo merupakan ikon daerah yang harus kita jaga bersama,” ungkap Decky.
Decky menambahkan, proses penyusunan dokumen kajian teknis ini telah melewati beberapa tahapan komprehensif dengan dukungan berbagai pihak dan mitra, termasuk keterlibatan aktif pemerintah daerah sejak tahun 2025 lalu.
Area preservasi yang diusulkan saat ini memiliki luasan mencapai 2.279,85 hektar. Sebagai bentuk pelibatan masyarakat, tahapan sosialisasi kepada warga di lima desa penyangga juga telah sukses dilaksanakan pada Oktober 2025.
“Semoga terbangun kesepahaman bersama dalam pengelolaan koridor ekologis ini. Setelah lokakarya ini selesai, dokumen penetapan koridor akan langsung diusulkan ke tingkat kementerian,” pungkas Decky menutup laporannya.



















