Kinerja Dunia Usaha Mengalami Penurunan di Akhir 2025, Namun Proyeksi Awal 2026 Menjanjikan
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa aktivitas dunia usaha mengalami sedikit perlambatan pada kuartal keempat tahun 2025. Temuan ini didasarkan pada hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang secara rutin dilakukan oleh bank sentral. Meskipun demikian, secara keseluruhan, kinerja sektor bisnis dinilai masih mampu terjaga.
Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk kuartal keempat 2025 tercatat sebesar 10,61 persen. Angka ini menunjukkan sedikit penurunan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencapai 11,55 persen, serta periode yang sama di tahun sebelumnya yang berada di angka 12,46 persen. Meski demikian, BI menekankan bahwa kinerja dunia usaha tetap stabil.
“Hasil SKDU mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada Kuartal IV 2025 tetap terjaga,” ujar Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 20 Januari 2026.
Sektor-Sektor Unggulan yang Menopang Kinerja
Penjagaan kinerja ini didukung oleh mayoritas sektor usaha yang menunjukkan pertumbuhan positif. Beberapa lapangan usaha yang mencatat SBT tertinggi pada periode tersebut antara lain:
- Jasa Keuangan: Sektor ini memimpin dengan pertumbuhan sebesar 1,95 persen.
- Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor: Sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar 1,21 persen.
- Industri Pengolahan: Sektor manufaktur menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 1,18 persen.
- Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib: Sektor ini tumbuh sebesar 1,02 persen.
- Informasi dan Komunikasi: Sektor digital dan komunikasi mencatat pertumbuhan 0,90 persen.
- Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum: Sektor pariwisata dan kuliner tumbuh sebesar 0,77 persen.
“Ini sejalan dengan peningkatan aktivitas pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan tahun baru sehingga mendorong permintaan domestik,” jelas Ramdan Denny Prakoso. Lonjakan aktivitas menjelang akhir tahun, terutama perayaan Natal dan Tahun Baru, memang kerap kali memicu peningkatan konsumsi masyarakat, yang pada gilirannya berdampak positif pada berbagai sektor usaha.
Kapasitas Produksi dan Rentabilitas
Sejalan dengan perkembangan kegiatan usaha, rata-rata kapasitas produksi yang terpakai pada kuartal keempat 2025 dilaporkan lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Hal ini tercermin dari saldo bersih likuiditas yang meningkat menjadi 18,72 persen pada kuartal keempat 2025, dari 15,96 persen pada kuartal sebelumnya. Peningkatan likuiditas ini bisa mengindikasikan adanya ruang bagi dunia usaha untuk meningkatkan kapasitasnya di masa mendatang.
Sementara itu, kondisi rentabilitas atau kemampuan menghasilkan laba pada periode ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Jika pada kuartal sebelumnya rentabilitas tercatat sebesar 12,48 persen, pada kuartal keempat 2025 angka tersebut melonjak menjadi 16,52 persen. Peningkatan profitabilitas ini menjadi sinyal positif bagi kesehatan finansial perusahaan.
“Perkembangan kapasitas produksi ditopang oleh sejumlah lapangan usaha, yaitu LU Pengadaan Listrik serta LU Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang,” kata Ramdan Denny Prakoso. Sektor-sektor yang menyediakan kebutuhan dasar seperti listrik dan air, serta pengelolaan lingkungan, terbukti mampu menjaga stabilitas dan bahkan berkontribusi pada pemanfaatan kapasitas produksi.
Proyeksi Positif untuk Awal 2026
Menyongsong awal tahun 2026, para responden survei memperkirakan kinerja kegiatan usaha akan mengalami peningkatan yang lebih positif. Hal ini tercermin dari proyeksi SBT untuk kuartal pertama 2026 yang diperkirakan mencapai 12,93 persen.
Peningkatan kinerja di awal tahun ini diprediksi akan didorong oleh beberapa sektor kunci:
- Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: Sektor primer ini diperkirakan akan mengalami lonjakan aktivitas seiring dengan masuknya musim panen.
- Industri Pengolahan: Sektor manufaktur diperkirakan akan kembali menggeliat.
- Transportasi dan Pergudangan: Sektor logistik akan mendapatkan dorongan dari peningkatan mobilitas barang dan jasa.
- Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor: Sektor ritel dan otomotif diprediksi akan turut merasakan dampak positif.
Ramdan Denny Prakoso menambahkan, “Sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat pada periode Ramadan dan HBKN Idulfitri 1447 H.” Antisipasi peningkatan permintaan masyarakat menjelang bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri dipandang sebagai katalisator utama bagi pertumbuhan ekonomi di awal tahun 2026. Momentum hari besar keagamaan ini diharapkan dapat mendorong konsumsi dan aktivitas bisnis secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat sedikit pelemahan di akhir tahun 2025, gambaran prospek untuk awal tahun 2026 menunjukkan tren yang membaik dan optimisme di kalangan pelaku usaha. Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ini untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional.





















