Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) baru-baru ini menyampaikan kekhawatiran mereka terkait potensi penghapusan opsi pencarian penerbangan transit pada platform online travel agent (OTA). PHRI berpendapat bahwa kebijakan semacam itu dapat merugikan konsumen yang membutuhkan fleksibilitas dalam perencanaan perjalanan mereka.
Kebebasan Memilih Bagi Konsumen
Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, menyatakan bahwa konsumen membutuhkan beragam pilihan, bukan pembatasan. Ia menanggapi isu yang beredar bahwa OTA diminta untuk tidak lagi menampilkan opsi penerbangan transit ketika penerbangan langsung sudah habis. Menurutnya, tindakan ini bertentangan dengan peran OTA sebagai platform yang seharusnya memfasilitasi konsumen dalam menyusun perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial mereka.
Maulana menambahkan, “Wacana agar OTA tidak lagi mengalihkan pencarian ke penerbangan transit ketika penerbangan langsung habis justru merugikan konsumen.” Ia menekankan bahwa menghilangkan opsi transit tidak akan menyelesaikan masalah tingginya harga tiket pesawat. Rute transit akan tetap tersedia melalui platform lain atau langsung melalui maskapai penerbangan.
Harga Tiket Mahal Bukan Alasan Menghilangkan Opsi Transit
PHRI berpendapat bahwa sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada konektivitas udara yang kuat. Mahalnya biaya perjalanan, terutama ke daerah-daerah terpencil atau wilayah timur Indonesia, adalah masalah yang harus diatasi melalui kebijakan yang komprehensif, bukan dengan membatasi pilihan perjalanan bagi masyarakat.
Maulana menegaskan, “Indonesia ini negara kepulauan yang luas. Fakta bahwa traveling ke ujung Sumatera dan ke Indonesia Timur itu mahal, itu enggak bisa dipungkiri. Tapi jangan karena mahal, aksesnya malah dihilangkan.” PHRI meyakini bahwa penghapusan rute transit dapat memperburuk kondisi daerah-daerah yang sudah mengalami keterbatasan konektivitas dan jumlah kunjungan wisatawan.
Peran OTA dalam Industri Penerbangan
Maulana menjelaskan bahwa OTA tidak memiliki wewenang untuk menentukan rute atau harga tiket pesawat. Semua data, termasuk jadwal, harga, dan opsi transit, berasal dari maskapai penerbangan dan sistem penerbangan.
“Sepaham saya, OTA itu tidak membentuk rute dan tidak membentuk harga. Itu create by system. Sistem yang membaca semuanya,” jelasnya. Ia memberikan contoh transparansi harga hotel dalam pencarian OTA, di mana konsumen dapat melihat berbagai pilihan harga, rating, dan kelas hotel. Prinsip yang sama seharusnya diterapkan pada pencarian penerbangan.
Lemahnya Konektivitas Domestik
PHRI juga menyoroti masalah lemahnya konektivitas penerbangan domestik. Hal ini seringkali membuat rute internasional menjadi alternatif yang lebih murah dan lebih mudah diakses. Maulana memberikan contoh akses ke Aceh.
“Sekarang orang mau ke Aceh harus transit ke Kuala Lumpur. Itu fakta. Penerbangan domestiknya kan paling cuma dari Jakarta. Bahkan dari Sumatera lebih murah ke Kuala Lumpur daripada ke Jakarta,” ujarnya. Dalam situasi seperti ini, menghapus opsi transit di OTA tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berpotensi memperparah isolasi daerah yang sudah minim akses penerbangan.
Solusi: Evaluasi Harga, Bukan Membatasi Informasi
PHRI menegaskan bahwa solusi utama untuk menekan harga tiket pesawat terletak pada evaluasi menyeluruh terhadap faktor-faktor yang menyebabkan mahalnya penerbangan domestik. Transparansi informasi, termasuk opsi transit, seharusnya tetap menjadi bagian dari layanan OTA.
“Masalahnya bukan di OTA. Yang harus dievaluasi itu faktor apa yang membuat tiket domestik mahal. Bukan menutup informasinya,” ujar Maulana.
Untuk lebih jelasnya, berikut adalah poin-poin penting yang disampaikan PHRI:
- Opsi Transit Penting: Penghapusan opsi transit pada OTA akan merugikan konsumen yang membutuhkan fleksibilitas perjalanan.
- Bukan Solusi: Menghilangkan opsi transit tidak akan menyelesaikan masalah tingginya harga tiket pesawat.
- Konektivitas Udara Vital: Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan konektivitas udara yang kuat.
- OTA Bukan Penentu Harga: OTA hanya menampilkan data yang diberikan oleh maskapai penerbangan.
- Konektivitas Domestik Lemah: Rute internasional seringkali lebih murah dan mudah diakses daripada rute domestik.
- Evaluasi Harga: Solusi utama adalah mengevaluasi faktor-faktor yang menyebabkan mahalnya penerbangan domestik.
- Transparansi Informasi: Informasi, termasuk opsi transit, harus tetap tersedia bagi konsumen.
Dengan demikian, PHRI berharap agar pemerintah dan pihak terkait dapat mempertimbangkan kembali wacana penghapusan opsi transit pada OTA dan fokus pada solusi yang lebih komprehensif untuk mengatasi masalah harga tiket pesawat yang mahal.


















