Pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS atap terbesar di sektor komersial dan industri resmi dioperasikan oleh PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya bersama Xurya. Proyek ini memiliki total kapasitas sebesar 22,5 megawatt (MW).
Selain menjadi yang terbesar dalam sektor tersebut, PLTS ini diklaim mampu mengurangi emisi karbon hingga 26.818.258 kilogram per tahun dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara sebesar 20.189 kilogram per tahun.
PLTS atap ini terdiri dari 36.862 modul panel surya yang dipasang di area seluas 122.783 meter persegi atau sekitar 12,2 hektare. Luas area ini setara dengan 17 kali luas lapangan sepak bola Gelora Bung Karno (GBK).
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Emmy Suryandari, yang hadir dalam peresmian proyek ini, menyatakan bahwa pengembangan PLTS atap merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menangani perubahan iklim serta mendukung target net zero emission (NZE).
“PLTS atap ini adalah bagian dari komitmen penanganan perubahan iklim di Indonesia yang sudah menargetkan NZE pada tahun 2060. Namun, sektor industri manufaktur atas arahan Menteri, kami ingin mencapai NZE sektor industri kita pada tahun 2050,” ujarnya di Komplek Mulia Industri, Cikarang, Bekasi, Rabu, 29 April 2026.
Ia menambahkan bahwa target tersebut membutuhkan dukungan kuat dari sektor industri melalui strategi dekarbonisasi yang mencakup efisiensi energi dan material, penggunaan bahan bakar rendah karbon, pemutakhiran proses industri, elektrifikasi dan energi terbarukan, serta penangkapan dan pemanfaatan karbon.
“Ini sangat relevan dengan strategi dekarbonisasi yang sudah ditetapkan oleh Kemenperin,” ujar Emmy. “Saya berharap ini bisa direplikasi. Industri itu natural business-nya adalah percaya dengan apa yang dilihat. Mereka akan mengikuti jika ada contoh sukses.”
Jika pemasangan PLTS atap ini memberikan cost saving, kata Emmy, maka industri lain akan segera mengikuti langkah serupa.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Harris mengatakan bahwa kapasitas PLTS atap nasional terus meningkat. “Pada 2026 ini kami mencatat bahwa PLTS atap yang sudah terpasang sebagai pelanggan PLN secara nasional mencapai 861,4 MWp yang berasal dari 11.840 pelanggan,” ucapnya.
Harris menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, pelanggan terbanyak berasal dari sektor rumah tangga, yaitu 60 persen, sedangkan kapasitas terpasang terbesar ada di sektor industri, yaitu 79 persen.
“Dengan mengembangkan PLTS atap secara optimal, khususnya di sektor industri, kami berharap ini bisa diikuti juga oleh industri-industri lain yang memang peluangnya di Indonesia masih sangat luas,” kata Harris.
Vice President Pengelolaan Penjualan PT PLN (Persero) Yondri Zulfaldi menilai proyek ini menjadi bukti kolaborasi antara pemerintah, PLN, dan swasta dalam mendorong transisi energi nasional.
“Sebagaimana kita ketahui, sektor industri merupakan salah satu pengguna energi terbesar. Transformasi menuju energi bersih di sektor ini memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap penurunan emisi karbon dan peningkatan efisiensi energi,” ujarnya.
Menurut dia, implementasi PLTS atap seperti yang diresmikan hari ini merupakan langkah konkret menuju industri yang lebih hijau, kompetitif, dan berkelanjutan.













