Kunjungan Kenegaraan Presiden RI ke Inggris: Perkuat Kemitraan Strategis dan Diplomasi Damai
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah tiba di Bandara London Stansted, Inggris, pada Minggu malam, 18 Januari waktu setempat. Lawatan ini dijadwalkan untuk memperdalam kesepakatan kerja sama strategis antara Indonesia dan Inggris, dengan fokus utama pada sektor ekonomi dan maritim.
Kedatangan orang nomor satu di Indonesia ini disambut dengan hangat oleh sejumlah pejabat terkemuka dari kedua negara. Di antaranya adalah Wakil Letnan Essex, Mark Bevan, Perwakilan Khusus Menteri Luar Negeri Inggris, Adele Taylor, Duta Besar Inggris untuk RI, Dominic Jermey, Duta Besar RI, Desra Percaya, serta Atase Pertahanan RI, Kolonel Inf. Wiyata S. Aji.
Selama berada di Inggris, agenda kenegaraan Presiden Prabowo sangat padat. Ia dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, di kantor Perdana Menteri. Selain itu, Presiden juga akan bertemu dengan Raja Charles III di Istana St. James’s Palace, sebuah pertemuan yang akan semakin mengukuhkan hubungan antarnegara.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Inggris telah terjalin sejak tahun 1949. Sejak saat itu, kedua negara terus berupaya mengembangkan kemitraan strategis yang komprehensif. Kemitraan ini mencakup berbagai sektor krusial, mulai dari ekonomi, penanganan perubahan iklim dan energi, pertahanan dan keamanan, hingga pembangunan sumber daya manusia. Kunjungan Presiden Prabowo kali ini secara tegas menegaskan kembali komitmen kuat Indonesia dalam memperkuat diplomasi aktif dan menjalin kerja sama internasional yang saling menguntungkan.
Ini bukanlah kali pertama Presiden Prabowo bertemu dengan Raja Charles III. Sebelumnya, pada akhir November 2024, Presiden Prabowo juga sempat bertemu dengan Raja Charles III di Istana Buckingham, London, dalam kunjungan ke Inggris.
Mahasiswa Asal Papua Temui Presiden di London: Semangat Perdamaian dan Inspirasi
Di sela-sela kesibukan kunjungan kenegaraan, Presiden Prabowo juga berkesempatan bertemu dengan Steve Mara, seorang mahasiswa asal Papua yang sedang menempuh pendidikan doktoral (S3) di University of Bradford. Pertemuan ini menjadi momen yang sangat membahagiakan bagi Steve, yang mengaku pertemuan tersebut memberinya suntikan energi positif saat menempuh pendidikan jauh dari tanah air.
Ini merupakan pertemuan kedua Steve dengan Presiden Prabowo. Pertemuan pertama terjadi saat Steve masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI.
“Saya sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Bapak Presiden. Terima kasih Bapak Presiden sudah datang mengunjungi kami di Inggris,” ujar Steve saat diwawancarai pada Minggu malam, 18 Januari waktu setempat.
Steve mengapresiasi konsistensi Presiden Prabowo dalam membawa pesan perdamaian di setiap kesempatan, terutama di tengah situasi global yang diwarnai oleh berbagai konflik dan ketegangan. Ia juga menyampaikan penghargaan atas kerja keras Presiden dalam memimpin Indonesia.
“Terima kasih untuk kerja kerasnya, untuk semangatnya untuk Indonesia. Kita tahu di situasi dunia yang lagi kurang baik, tidak damai, tetapi Bapak Presiden selalu hadir dengan pesan perdamaian dan ini sangat luar biasa,” ungkap Steve.
Dalam pertemuan tersebut, Steve juga berkesempatan menyerahkan buku yang baru saja ia terbitkan pada akhir tahun 2025. Buku yang berjudul “We All Want to Live in Peace” ini secara tematik sejalan dengan pesan perdamaian yang selama ini digaungkan oleh Presiden Prabowo.
“Saya juga sempat menyerahkan buku saya yang saya tulis tentang ‘We All Want to Live in Peace’, saya baru launching akhir tahun 2025 kemarin,” kata Steve. Ia menambahkan bahwa sampul buku tersebut menampilkan foto Presiden Prabowo saat kunjungan ke Papua.
Buku tersebut merupakan hasil refleksi mendalam Steve mengenai makna perdamaian, baik dalam konteks personal, sosial, maupun kenegaraan. “Jadi buku ini menceritakan tentang bagaimana kita berdamai, baik berdamai dengan diri sendiri maupun berdamai dengan sesama kita. Tapi juga bagaimana kita menciptakan perdamaian di Indonesia,” jelas Steve.
Steve mengaku akan selalu mengingat pesan Presiden Prabowo saat pertemuan pertama mereka. Ketika itu, Steve baru saja menyelesaikan studi S2 dari Universitas Pertahanan dan bersiap untuk melanjutkan studi ke Inggris.
“Beliau menyampaikan saya harus menjalankan studi dengan baik, supaya pulang mengabdi untuk menjaga perdamaian di Indonesia dan berkontribusi juga untuk perdamaian dunia,” pungkas Steve, mengenang nasihat berharga dari Presiden.


















