Prabowo sudah 3 kali ke Prancis tahun ini, PDIP curigai agenda tersembunyi: publik jangan dikibuli

Diposting pada

Presiden Prabowo Subianto Dikritik Karena Frekuensi Kunjungan ke Prancis yang Tinggi

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah melakukan kunjungan ke Prancis sebanyak tiga kali dalam tahun ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari kalangan politik dan masyarakat luas, termasuk dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Masyarakat membutuhkan penjelasan yang lebih jelas mengenai tujuan, agenda, serta capaian dari setiap perjalanan diplomatik yang dilakukan oleh presiden.

Dalam waktu lima bulan, Prabowo tercatat telah tiga kali melakukan lawatan ke negara Eropa tersebut. Intensitas kunjungan yang tinggi ini dinilai perlu disertai dengan penjelasan yang lebih transparan kepada publik mengenai alasan di balik setiap perjalanan. PDI-P menjadi salah satu partai yang menuntut pemerintah memberikan keterangan yang lebih rinci terkait berbagai kunjungan luar negeri Presiden.

Ketua DPP PDI-P, Andreas Hugo Pareira, menegaskan bahwa setiap lawatan presiden ke luar negeri harus memiliki agenda yang jelas dan terukur. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang transparan antara pemerintah dan masyarakat agar tidak menimbulkan spekulasi atau kesalahpahaman.

“Ya, tentu, kunjungan luar negeri itu kan apa, tentu ada tujuannya gitu. Dan tentu, terutama di dalam dunia diplomasi ketika presiden berkunjung ke suatu negara, itu tentu harus teragenda dengan ketat, terus kemudian target-target apa yang akan dicapai, dan kemudian disampaikan kepada publik,” ujar Andreas usai kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) DPRD PDI-P se-Indonesia, Sabtu (30/5/2026).

Tujuan Kunjungan Presiden Harus Jelas

Andreas menilai bahwa perjalanan luar negeri seorang presiden bukan sekadar agenda seremonial atau kunjungan biasa. Setiap perjalanan diplomatik selalu membawa misi tertentu yang berkaitan dengan kepentingan nasional, baik di bidang ekonomi, politik, pertahanan, maupun kerja sama internasional. Karena itu, publik perlu memperoleh penjelasan yang memadai mengenai urgensi kunjungan tersebut, termasuk manfaat konkret yang diharapkan bagi Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto, berbagai kunjungan luar negeri kepala negara selalu dibarengi dengan agenda yang padat serta sasaran diplomasi yang jelas. Dalam konteks saat ini, Andreas menilai pemerintah melalui kementerian terkait maupun juru bicara kepresidenan perlu lebih aktif menyampaikan informasi kepada masyarakat agar tidak menimbulkan pertanyaan maupun spekulasi.

“Kita juga pernah punya presiden yang dikritik sering ke luar negeri waktu zaman Gus Dur, ya. Sekarang ya orang menyampaikan atau melihat itu pada Pak Prabowo. Tentu di sini yang Setneg atau juru bicaranya yang harus menyampaikan apa agenda-agenda perjalanan luar negeri tersebut, dan apa yang ingin dicapai melalui perjalanan-perjalanan luar negeri tersebut,” tutur Andreas.

Komunikasi Sebelum Keberangkatan Sangat Penting

Lebih jauh, Andreas menyoroti pola komunikasi pemerintah yang menurutnya sering kali baru menjelaskan agenda kunjungan setelah presiden tiba di negara tujuan. Padahal, informasi tersebut seharusnya sudah diketahui publik sebelum keberangkatan dilakukan. Menurutnya, keterbukaan sejak awal akan membantu masyarakat memahami alasan di balik setiap lawatan presiden sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap agenda pemerintahan.

“Ini kan menjadi pertanyaan kan karena setelah pergi sampai di sana dulu baru kemudian penjelasannya belakangan gitu. Seharusnya kan sebelum pergi itu media sudah tahu sehingga publik, rakyat sudah tahu gitu, karena presiden pergi mewakili negara gitu,” kata dia.

Andreas juga menegaskan pentingnya peran tim komunikasi pemerintah dalam menjelaskan berbagai program maupun langkah strategis yang dilakukan Presiden. Komunikasi yang baik dinilai mampu mencegah munculnya kesalahpahaman dan persepsi negatif di tengah masyarakat.

“Ya sederhana aja apa yang menjadi program pemerintah, apa yang harus dilakukan. Ya misalnya kayak presiden pergi, ini disampaikan ke publik gitu,” jelas Andreas.

Kunjungan Ketiga ke Prancis Tahun Ini

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis yang dimulai pada Rabu (27/5/2026). Lawatan tersebut menjadi kunjungan ketiganya ke negara itu sepanjang tahun 2026. Sebelum kunjungan terbaru ini, Prabowo telah lebih dahulu bertolak ke Prancis pada 23 Januari dan 14 April 2026 dalam rangka memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara.

Pemerintah menyebut kunjungan ketiga tersebut menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama di berbagai sektor strategis, mulai dari pertahanan, ekonomi, pendidikan, hingga pembahasan isu-isu geopolitik global. Meski demikian, frekuensi kunjungan yang cukup intens dalam waktu singkat tetap menjadi perhatian sejumlah kalangan politik. Mereka menilai pemerintah perlu menjelaskan secara lebih rinci target diplomasi yang hendak dicapai agar masyarakat dapat memahami manfaat konkret dari setiap perjalanan luar negeri Presiden bagi kepentingan nasional Indonesia.


Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan