Sorotan Performa Ramadhan Sananta: Antara Kritik dan Dukungan Penuh Pelatih
Pertandingan antara Tim Nasional Indonesia melawan Saint Kitts and Nevis yang diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Jumat, 27 Maret 2026, memang menyisakan cerita menarik di luar skor akhir yang telak 4-0 untuk kemenangan Garuda. Salah satu sorotan utama tertuju pada penampilan striker muda, Ramadhan Sananta. Meskipun bermain sebagai starter, Sananta gagal mencatatkan namanya di papan skor, sebuah fakta yang kemudian memicu beragam reaksi dari para penggemar sepak bola tanah air.
Performa Ramadhan Sananta menuai kritik saat Timnas Indonesia melawan Saint Kitts and Nevis.
Kekecewaan netizen terhadap Sananta semakin terasa ketika pemain penggantinya, Mauro Zijlstra, yang masuk menggantikan Sananta pada menit ke-72, justru berhasil mencetak satu gol. Gol-gol kemenangan Timnas Indonesia lainnya dicetak oleh Beckham Putra yang memborong dua gol, serta Ole Romeny. Kemenangan ini bukan hanya sekadar angka, melainkan sebuah tiket berharga yang mengantar skuad Garuda melaju ke babak final FIFA Series 2026. Di babak final, Timnas Indonesia dijadwalkan akan berhadapan dengan Bulgaria di SUGBK pada Senin, 1 April 2026.
Pembelaan Tegas dari Sang Nakhoda Timnas
Menjelang pertandingan krusial tersebut, pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, tidak tinggal diam menanggapi kritik yang menghujani Ramadhan Sananta. Pelatih asal Inggris ini secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang tidak hanya mengkritik, tetapi bahkan sampai menghina pemainnya. Herdman menegaskan bahwa Sananta adalah aset berharga bagi Timnas Indonesia dan tidak pantas menerima perlakuan semacam itu.
“Ya, maksud saya, kita butuh Ramadhan Sananta,” ujar Herdman dengan nada tegas. “Saya sangat kecewa dengan kritik yang diterima pemuda itu. Dia adalah pria yang memberikan seluruh hatinya di lapangan untuk Indonesia setiap saat. Dia berdarah Merah Putih. Dia mencintai negaranya. Beberapa hinaan di media sosial itu tidak bisa diterima,” tambahnya, menyoroti betapa personalnya dampak kritik tersebut bagi sang pemain.
Lebih dari Sekadar Angka Gol: Kontribusi Nyata di Lapangan
Lebih lanjut, John Herdman berusaha mengedukasi publik tentang arti penting seorang striker dalam sebuah tim. Menurutnya, performa seorang striker tidak semata-mata diukur dari jumlah gol yang berhasil dicetak, melainkan dari kontribusi menyeluruh yang diberikannya. Ia memberikan analogi yang sangat relevan dengan merujuk pada striker tim nasional Prancis, Olivier Giroud.

Pada kesempatan tersebut, performa Sananta dikritik netizen karena tak mencetak gol.
Penggemar sepak bola tentu masih ingat bagaimana Giroud tidak mencetak satu gol pun selama gelaran Piala Dunia 2018. Namun, peran krusialnya dalam keberhasilan Prancis meraih gelar juara dunia tidak dapat disangkal. Giroud, dengan pergerakan dan kemampuannya, berhasil membuka ruang bagi rekan-rekannya untuk mencetak gol, sebuah peran vital yang seringkali luput dari perhatian jika hanya berfokus pada statistik gol.
“Ketika Anda melihat Olivier Giroud, dia tidak mencetak gol di Piala Dunia tetapi tidak ada yang mengkritik penampilannya karena apa yang dia lakukan adalah bekerja untuk tim,” jelas Herdman. “Sananta adalah pemain seperti itu. Dia adalah tipe pemain yang mengutamakan tim. Pergerakannya memungkinkan Ole Romeny, Ragnar, Beckham Putra, dan lainnya untuk mendapatkan ruang,” imbuhnya, membandingkan Sananta dengan standar striker kelas dunia yang mengedepankan kepentingan tim di atas segalanya.
Ajakan untuk Dukungan dan Apresiasi
Di akhir pernyataannya, John Herdman menyampaikan harapan tulus agar para penggemar sepak bola Indonesia dapat menghentikan kritik yang menyakitkan terhadap Ramadhan Sananta. Ia menekankan bahwa sudah seharusnya masyarakat Indonesia memberikan dukungan penuh kepada setiap pemain yang mengenakan seragam Garuda, bukan justru menjatuhkan mereka.
“Jadi, saya ingin para penggemar tetap tenang dan menghormati kerja keras yang dilakukan pemuda itu untuk negaranya,” pinta Herdman. “Dia adalah orang Indonesia yang sangat bangga dan sulit untuk membaca serta melihat beberapa hal yang dikatakan tentangnya. Saya rasa kita harus menjadi lebih baik sebagai sebuah negara,” tutupnya, sebuah seruan untuk kesadaran kolektif dalam mendukung perjuangan tim nasional. Peran Sananta, meskipun tak selalu berujung gol, adalah bukti nyata bahwa setiap pemain memiliki peran unik dalam mencapai tujuan bersama, sebuah nilai yang sepatutnya diapresiasi.



















