Lonjakan Harga Minyak Mentah Global Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah
Harga minyak mentah acuan global, Brent, mengalami lonjakan signifikan, mencapai lebih dari 82 dollar AS per barel pada awal perdagangan Senin, 2 Maret 2036. Kenaikan drastis ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada akhir pekan sebelumnya. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai potensi gangguan pasokan energi global, terutama yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang dikuasai Iran.
Lonjakan harga minyak ini terjadi setelah aktivitas lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terhenti total sepanjang akhir pekan. Penting untuk dicatat bahwa sekitar 20% dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati selat sempit ini setiap harinya.
Meskipun Iran menyatakan bahwa jalur pelayaran tetap terbuka, pada saat yang sama mereka mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak yang terjadi pada hari Minggu. Akibatnya, mayoritas pemilik kapal memilih untuk menghentikan pelayaran melalui jalur vital ini. Keputusan ini semakin diperkuat oleh penetapan zona peringatan maritim oleh Amerika Serikat, yang menambah lapisan ketidakpastian dan risiko bagi para pelaut dan operator kapal.
Proyeksi Volatilitas Harga Minyak Jangka Panjang
Menanggapi situasi yang memburuk ini, sejumlah lembaga keuangan global telah mengeluarkan peringatan mengenai risiko volatilitas harga minyak yang berkepanjangan. Citigroup, misalnya, telah menaikkan proyeksi harga minyak Brent dalam jangka pendek sebesar 15 dollar AS, menjadi 85 dollar AS per barel. Lembaga ini memprediksi bahwa harga minyak Brent pada perdagangan pekan ini akan bergerak dalam rentang 80 hingga 90 dollar AS per barel. Citigroup secara spesifik menyoroti bahwa risiko terhadap infrastruktur energi dan kelancaran pasokan melalui Selat Hormuz masih sangat tinggi.
Lebih lanjut, Citigroup memperkirakan adanya peluang sebesar 20% untuk skenario yang lebih ekstrem. Dalam skenario ini, harga minyak bisa saja melonjak hingga mencapai 120 dollar AS per barel, terutama jika infrastruktur energi regional terdampak langsung oleh eskalasi konflik.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Rystad Energy. Jorge Leon, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, menyatakan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan di Selat Hormuz, yang berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, berpotensi mendorong harga minyak hingga mencapai 100 dollar AS per barel. Ia juga menambahkan bahwa peningkatan produksi dari OPEC+ kemungkinan tidak akan efektif dalam menahan kenaikan harga, mengingat sebagian besar volume produksi tambahan tersebut juga harus melewati Selat Hormuz.
Analisis Risiko dan Dampak Pasar
Goldman Sachs Group, dalam analisisnya, menghitung premi risiko real-time untuk minyak mentah berada di kisaran 18 dollar AS per barel. Angka ini mencerminkan skenario terburuk di mana lalu lintas tanker di Selat Hormuz dihentikan total selama enam minggu. Goldman Sachs memperkirakan bahwa pasar saat ini telah memperhitungkan potensi gangguan pasokan global yang signifikan, yaitu sekitar 2,3 juta barel per hari selama satu tahun penuh.
Gangguan pasokan ini tidak hanya berdampak pada harga minyak mentah, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek domino yang besar terhadap pasar produk olahan minyak. Data menunjukkan bahwa sekitar 9% pasokan gasoil dunia dan 18% bahan bakar jet diketahui melewati Selat Hormuz pada tahun lalu, menggarisbawahi betapa krusialnya jalur ini bagi rantai pasokan energi global.
Prediksi Pemulihan dan Skenario Konflik
Dari perspektif industri, Wood Mackenzie memperkirakan bahwa pemulihan penuh arus energi di Selat Hormuz bisa memakan waktu beberapa minggu. Perkiraan ini didasarkan pada asumsi bahwa Iran akan memilih untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat. Alan Gelder, Wakil Presiden Senior Wood Mackenzie, menekankan bahwa harga minyak berpeluang menembus level 100 dollar AS per barel apabila jalur pelayaran tersebut tidak segera pulih, meskipun ada rencana peningkatan produksi dari OPEC+.
Sementara itu, JPMorgan Chase & Co. melihat gangguan di Selat Hormuz saat ini lebih bersifat sebagai tindakan pencegahan. Hal ini dipicu oleh peringatan dari perusahaan asuransi yang mulai membatalkan polis dan menaikkan premi. Namun, JPMorgan mengingatkan bahwa risiko dapat meningkat secara eksponensial apabila konflik ini berlanjut dalam jangka panjang dan kepemimpinan Iran kehilangan kendali atas Korps Garda Revolusi Islam.
Dalam catatan analisnya, JPMorgan memperingatkan, “Jika konflik berlangsung lebih dari tiga minggu, produsen minyak di kawasan Teluk berisiko kehabisan kapasitas penyimpanan dan terpaksa menghentikan produksi.” Peringatan ini menyoroti kerentanan produsen minyak di wilayah tersebut terhadap perpanjangan konflik dan dampaknya terhadap infrastruktur penyimpanan mereka.



















