Perjalanan UAJY dalam Memperdalam Pelayanan Kampus di Tingkat Internasional
Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) telah menunjukkan komitmennya dalam pengembangan pelayanan spiritual dan kesehatan mental di lingkungan kampus dengan berhasil lolos seleksi untuk program bergengsi, Asian Academy for Campus Ministry (AACM) 2026. Acara internasional ini, yang diselenggarakan oleh United Board for Christian Higher Education in Asia, dijadwalkan berlangsung di Payap University, Chiang Mai, Thailand, pada tanggal 3 hingga 10 Mei 2026.
Perwakilan UAJY yang akan membawa nama institusinya ke kancah global adalah Regina Dewanti Pramudita, S.E., seorang anggota aktif dari Unit Campus Ministry UAJY. Keikutsertaan UAJY dalam program ini menegaskan posisinya sebagai salah satu institusi yang peduli terhadap kesejahteraan holistik mahasiswa.
AACM 2026 menghimpun 25 peserta terpilih dari 11 negara di Asia, sebuah forum yang kaya akan keberagaman budaya dan perspektif. Negara-negara yang berpartisipasi mencakup Indonesia, Sri Lanka, India, Filipina, Thailand, Hong Kong, Pakistan, Timor Leste, Bangladesh, Korea Selatan, dan Taiwan. Kehadiran berbagai negara ini menciptakan sebuah ekosistem pembelajaran yang dinamis, di mana para peserta dapat saling bertukar pengalaman dan praktik terbaik dalam pelayanan kementerian kampus.
Indonesia sendiri mengirimkan tiga wakil dari perguruan tinggi berbasis Kristiani, menunjukkan semangat kolaborasi antar institusi. Selain UAJY, Universitas Kristen Duta Wacana dan Universitas Kristen Petra juga turut ambil bagian dalam program penting ini.
Tema Utama: Kesehatan Mental, Pengembangan Spiritual, dan Pelayanan sebagai Panggilan
Program AACM 2026 mengusung tema sentral “Mental Health, Spiritual Development, and Ministry as a Calling” (Kesehatan Mental, Pengembangan Spiritual, dan Pelayanan sebagai Panggilan). Tema ini dirancang untuk mendorong para peserta agar lebih mendalami keterkaitan erat antara kesehatan mental yang prima dan pengembangan spiritual yang mendalam, khususnya dalam konteks pelayanan di lingkungan kampus.
Bagi Regina Dewanti Pramudita, refleksi terdalam dari partisipasinya adalah mengenai pentingnya menghayati setiap pekerjaan, termasuk pelayanan di kampus, sebagai sebuah panggilan yang tulus, bukan sekadar tugas atau kewajiban. Selama delapan hari pelaksanaan program, materi mengenai “Ministry as a Calling” menjadi sorotan utama yang paling berkesan baginya.
Regina menjelaskan bahwa esensi dari materi ini adalah mengajak para praktisi pelayanan untuk tidak hanya fokus pada pelaksanaan program semata. Lebih dari itu, para pelayan dituntut untuk hadir secara penuh, memberikan pendengaran yang aktif, dan secara tulus berjalan bersama para mahasiswa yang mereka dampingi.
“Materi yang menarik bagi saya adalah ‘Ministry as a Calling’, maksudnya adalah kita benar-benar melaksanakan pekerjaan sebagai sebuah panggilan, jadi bukan karena tuntutan,” ujar Regina. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran paradigma dari sekadar menjalankan rutinitas menjadi sebuah bentuk pengabdian yang didorong oleh hati.
Memperluas Wawasan Melalui Perspektif Global
Kegiatan AACM 2026 memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi Regina, terutama dalam memperkaya pengalamannya. Ia mendapatkan kesempatan langka untuk memahami berbagai pendekatan yang diterapkan oleh perguruan tinggi dari belahan dunia lain dalam menangani isu kesehatan mental di lingkungan kampus mereka. Pemahaman ini sangat krusial mengingat keragaman penyebab masalah kesehatan mental yang seringkali dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya yang berbeda di setiap negara.
Sebagai contoh, Regina menyoroti isu di Sri Lanka, di mana angka kekerasan terhadap perempuan yang masih tinggi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental masyarakat. Diskusi lintas budaya ini membuka cakrawala pemahaman bahwa isu kesehatan mental tidak dapat ditangani dengan pendekatan tunggal atau seragam. Setiap penanganan haruslah disesuaikan dengan konteks sosial, budaya, dan realitas spesifik yang dihadapi oleh komunitas di masing-masing negara.
Mengatasi Stigma Kesehatan Mental: Tantangan dan Solusi
Selain perbedaan konteks, Regina juga mengidentifikasi stigma negatif masyarakat terhadap isu kesehatan mental sebagai salah satu tantangan utama yang dihadapi secara global. Ia menekankan perlunya upaya kolektif yang lebih masif untuk membangun kesadaran bahwa kesehatan mental dan spiritual merupakan kebutuhan krusial yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
“Lebih ke bagaimana membangun kesadaran, karena stigma di masyarakat tentang seseorang yang pergi ke psikolog itu terlalu jelek. Ada stereotip ‘ah kamu pasti gila’,” ungkap Regina, menggambarkan persepsi negatif yang seringkali melekat pada individu yang mencari bantuan profesional untuk kesehatan mental mereka. Ia menambahkan, meskipun isu kesehatan mental telah ada sejak lama, perhatian dan kesadaran masyarakat terhadap hal ini baru berkembang secara luas di era modern.
Menyadari tantangan ini, Campus Ministry UAJY berkomitmen untuk terus berupaya membangun kesadaran di kalangan sivitas akademika mengenai pentingnya kesehatan mental dan spiritual. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan terus mengembangkan dan melaksanakan program-program yang benar-benar dibutuhkan oleh mahasiswa, yang dirancang untuk mendukung kesejahteraan holistik mereka.
Regina juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada UAJY atas dukungan penuh yang diberikan, baik dalam aspek material maupun moral. Dukungan institusional ini menjadi fondasi penting bagi partisipasi dan keberhasilan UAJY dalam program-program internasional.
Ke depannya, Regina berharap agar sivitas akademika UAJY tidak hanya terus unggul dalam pencapaian akademik, tetapi juga semakin mampu menumbuhkan sikap saling menghargai antar sesama manusia. “Harapannya tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga peka terhadap kesehatan mental dan pengembangan spiritualitas. Lebih peka terhadap lingkungan sekitar yang membutuhkan sapaan secara hangat,” tutupnya, menggarisbawahi visi UAJY sebagai institusi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.












