Rekam Jejak Skandal di Malaysia dan Singapura Bikin Skor 6-0 Jadi Sorotan

Diposting pada

Skor besar 6-0 saat Malaysia menundukkan Singapura pada laga fase grup FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, semalam, langsung memantik pertanyaan. Hasil itu terasa janggal bagi sebagian penonton, termasuk pelatih Indonesia John Herdman, meski tim asuhannya tetap melaju. Kecurigaan publik tidak muncul dari pertandingan itu saja, melainkan dari riwayat panjang kedua negara yang beberapa kali terseret isu pengaturan laga di Asia Tenggara.

Dalam lanskap sepak bola kawasan, Malaysia dan Singapura memang berulang kali muncul dalam pembahasan soal match fixing. Kasus-kasus lama di dua negara itu menunjukkan bahwa praktik semacam ini bukan hal baru dan tidak semata lahir dari era taruhan online. Di Malaysia, salah satu perkara paling besar tercatat pada 1994, ketika lebih dari 100 pemain dan pelatih diperiksa setelah skandal mengguncang sepak bola setempat. Sejumlah pemain kemudian dijatuhi sanksi.

Jejak persoalan serupa masih terlihat bertahun-tahun kemudian. Pada 2016, Federasi Sepak Bola Malaysia mencabut larangan untuk 84 pemain yang sebelumnya ikut terseret dalam kasus lama tersebut. Dua tahun berselang, Komisi Antirasuah Malaysia menahan dua pemain Sarawak dan seorang pria yang diduga menjadi bandar. Penangkapan itu terkait penyelidikan atas laga Sarawak kontra Felcra FC yang sempat dikuasai Sarawak 2-0 di babak pertama, lalu berakhir 2-3.

Singapura memiliki catatan berbeda, tetapi sama menonjolnya. Pada 2013, Europol mengumumkan penyelidikan terhadap jaringan perjudian sepak bola yang disebut berbasis di Singapura. Dalam pengungkapan itu, sekitar 380 pertandingan di berbagai negara dicurigai menjadi sasaran. Nama Tan Seet Eng, atau Dan Tan, kemudian sering disebut sebagai sosok penting dalam pemberitaan mengenai jaringan tersebut.

Pemerintah Singapura menyatakan telah bekerja sama dengan Italia dan Interpol dalam penanganan perkara itu. Namun pada 2015, Pengadilan Banding Singapura memutuskan dasar penahanan Tan tidak dapat dipertahankan dan memerintahkan pembebasannya. Pada tahun yang sama, perkara lain juga memperlihatkan betapa rumitnya jaringan ini. Laga Malaysia Super League antara LionsXII dan Sarawak FA yang dimainkan di Singapura dan dimenangi LionsXII 3-0 menyeret mantan pemain timnas Malaysia Thana Segar, Selvarajan Letchuman, serta wasit Malaysia Shokri Nor. Selvarajan dihukum 30 bulan penjara, sementara Thana Segar 24 bulan.

Kasus-kasus itu menunjukkan pola yang berulang: pertandingan berlangsung di satu negara, sedangkan pemain, wasit, dan perantara bisa berasal dari negara lain. Pada 2013, otoritas antikorupsi Singapura juga menangani kasus lain yang melibatkan tiga ofisial pertandingan AFC Cup antara Tampines Rovers dan East Bengal. Mereka ditangkap setelah penyelidikan menemukan pemberian gratifikasi berupa layanan seksual untuk memengaruhi jalannya pertandingan. Selain itu, Rajendran Kurusamy menjelang SEA Games 2015 di Singapura berupaya mengatur agar Timor-Leste kalah dari Malaysia dengan menawarkan uang kepada pemain dan pejabat Timor-Leste. Ia kemudian divonis 48 bulan penjara.

Rangkaian perkara di atas menjelaskan mengapa Malaysia dan Singapura kerap menjadi titik curiga ketika muncul hasil mencolok di sepak bola kawasan. Pada 2014, Interpol menjalankan Operation SOGA V untuk menindak perjudian sepak bola ilegal di Asia. Operasi itu melibatkan aparat dari Malaysia, Singapura, Vietnam, China, Hong Kong, dan Makau. Lebih dari 1.000 penggerebekan dilakukan dan sekitar 1.400 orang ditangkap, dengan estimasi nilai taruhan jaringan mencapai 2,2 miliar dolar AS. Meski begitu, hasil di Bandung belum otomatis berarti ada pengaturan skor; yang jelas, rekam jejak panjang kedua negara membuat publik lebih cepat bertanya saat ada skor yang terasa tidak biasa.

Sumber: news.republika.co.id

Tinggalkan Balasan