Nama Rui Pinto mungkin tidak dikenal luas oleh sebagian pendukung Manchester City, tetapi jejaknya ikut menyeret klub itu ke pusaran besar soal kepatuhan finansial. Peretas asal Portugal tersebut menjadi tokoh kunci di balik Football Leaks, situs yang membocorkan dokumen internal klub-klub sepak bola Eropa dan kemudian membuka jalan bagi rangkaian pengungkapan terkait aktivitas keuangan City. Pada Jumat, Manchester City dilaporkan dinyatakan bersalah atas sebagian besar dari 115 dakwaan pelanggaran aturan keuangan yang diajukan Premier League.
Bagi para pendukung sepak bola, Pinto adalah sosok yang memancing perdebatan: di satu sisi dianggap mencuri data secara ilegal, di sisi lain dipandang sebagai orang yang membongkar praktik yang selama ini tersembunyi. Melalui Football Leaks, ia menyebarkan email internal, rincian sponsor, dan berbagai dokumen lain yang sebelumnya tidak tersedia untuk publik. Dari situlah isu-isu besar mengenai pemain, klub, dan agen ternama mulai terkuak ke permukaan.
Perjalanan Pinto sendiri berawal jauh dari sorotan. Ia dibesarkan di Vila Nova de Gaia, kawasan di seberang Sungai Douro dari Porto, Portugal. Ayahnya, Francisco, pernah bekerja di pabrik sepatu sebelum beralih menjadi pedagang barang antik, sementara ibunya meninggal saat Pinto berusia 11 tahun. Menurut Mario Falcao, mantan guru geografinya, Pinto semasa sekolah adalah murid yang biasa saja, cukup sopan, dan tidak terlalu menonjol sebagai pribadi yang supel.
Falcao mengenang bahwa Pinto memang memiliki bakat komputer yang kuat sejak muda. Kemampuan itu terlihat dari tugas-tugas sekolahnya yang rapi dan baik, terutama ketika ia benar-benar fokus. Meski begitu, tidak ada yang menduga keterampilan tersebut kelak menjadikannya salah satu figur paling kontroversial dalam sepak bola Eropa. Falcao juga menyebut Pinto kerap absen, namun tetap berhasil menyelesaikan sekolah dengan bantuan pengawasan ayahnya.
Dalam pandangan sang mantan guru, kehidupan Pinto saat remaja tergolong sederhana. Ia biasa pergi ke gym, makan di McDonald’s, dan menjalani rutinitas layaknya anak muda lain. Karena itu, ketika Pinto kemudian diketahui sebagai pendiri Football Leaks pada 2019, lingkungan sekitarnya terkejut. Falcao mengaku tidak pernah membayangkan bekas muridnya itu akan tersangkut persoalan hukum seperti yang kemudian terjadi.
Football Leaks sendiri lahir pada 2015. Pinto menyatakan tujuannya adalah mengungkap sisi tersembunyi dari sepak bola. Salah satu jurnalis pertama yang berhubungan dengannya adalah Antonio Varela dari surat kabar olahraga Portugal Record. Saat itu Pinto masih memakai nama samaran “John”. Varela mengingat momen ketika email dari Football Leaks masuk ke ruang redaksi sebagai sesuatu yang langsung terasa tidak biasa karena berisi data yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Di tahap berikutnya, proyek itu berkembang jauh melampaui Portugal. Pinto kemudian bekerja sama dengan Rafael Buschmann dari majalah Jerman Der Spiegel dan menyerahkan puluhan juta dokumen. Tugas besar berikutnya adalah memilah dan memeriksa keaslian data tersebut. Jurnalis data Christoph Winterbach menggambarkan proses itu sebagai pengalaman yang luar biasa, tetapi juga menekankan pentingnya verifikasi berlapis agar dokumen yang dipublikasikan tetap akurat dan memiliki dasar kepentingan publik yang kuat.
Sumber: www.jawapos.com




