Salim & Bakrie Kuasai Akhir Tambang BUMI

Diposting pada

Terungkapnya Struktur Kepemilikan PT Bumi Resources Tbk.: Dua Konglomerat Dominan di Balik Tambang Batu Bara Raksasa

Jakarta – PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), salah satu pemain utama dalam industri batu bara di Indonesia, akhirnya mengumumkan secara resmi siapa saja individu di balik kepemilikan akhir perusahaan. Pengumuman ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai siapa yang memiliki kendali strategis atas salah satu aset pertambangan batu bara terbesar di Tanah Air.

Melalui keterbukaan informasi yang disampaikan kepada publik, terungkap bahwa pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) PT Bumi Resources Tbk. saat ini dipegang oleh dua figur pengusaha ternama di Indonesia. Mereka adalah Nirwan Dermawan Bakrie, adik bungsu dari Aburizal Bakrie, yang mewakili kelompok usaha Bakrie, serta Anthony Salim, yang melalui kelompok usahanya turut memiliki andil signifikan. Meskipun demikian, detail mengenai struktur kepemilikan dan instrumen yang digunakan oleh kedua konglomerat ini untuk menguasai BUMI masih belum diuraikan secara spesifik.

Pergerakan Kepemilikan Saham: Siapa Pemegang Kunci dan Bagaimana Komposisinya?

Analisis terhadap laporan bulanan registrasi pemegang efek per Januari 2026 memberikan gambaran yang lebih terperinci mengenai komposisi kepemilikan saham BUMI.

  • Pemegang Saham Utama:
    • Mach Energy (Hong Kong) Limited: Memegang porsi terbesar dengan 170 miliar saham, setara dengan 45,78% dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh.
    • UBS Switzerland AG-Client Assets: Menguasai 18,94 miliar saham atau 5,10%.
    • Cris Development Limited: Memiliki 18,06 miliar saham atau 4,86%.
    • Treasure Global Investments Limited: Menggenggam 11,80 miliar saham atau 3,18%.
    • BSBC-Fund SVS A/C Chengdong Investment Corp-Self: Memiliki 10,44 miliar saham atau 2,81%.

Perlu dicatat bahwa kepemilikan Anthony Salim di BUMI teridentifikasi melalui dua entitas utama: Mach Energy (Hong Kong) Limited (MEL) dan Treasure Global Investments Limited (TGIL). Berdasarkan catatan sebelumnya, jumlah saham BUMI yang dipegang Salim melalui Mach Energy tetap stabil sejak akhir Oktober 2024, yaitu sebesar 170 miliar saham atau 45,78%. Namun, kepemilikannya melalui Treasure Global mengalami pengurangan dari 30 miliar saham (8,08%) pada akhir Oktober 2024 menjadi jumlah yang lebih kecil pada periode laporan terbaru.

Struktur Kepemilikan Mach Energy (Hong Kong) Limited (MEL)

MEL, sebagai badan hukum yang beroperasi di bawah hukum Hong Kong, memiliki struktur kepemilikan yang menarik. Komposisinya adalah sebagai berikut:

  • PT Bakrie Capital Indonesia (BCI): Menguasai 42,5% saham MEL, yang berada di bawah kendali grup Bakrie.
  • Clover Wide Limited: Memiliki 15% saham, dikendalikan oleh Agoes Projosasmito.
  • Mach Energy Pte.Ltd: Memegang sisa 42,5% saham, yang berkedudukan di Singapura.

Struktur Kepemilikan Treasure Global Investments Limited (TGIL)

Sementara itu, TGIL, yang juga berbasis di Hong Kong, memiliki dua pemegang saham utama:

  • PT Aswana Pinasthika Investasi: Menguasai 16,15% saham TGIL, di bawah kendali Agoes Projosasmito.
  • Anthony Salim: Memiliki sisa saham TGIL.

Pelepasan Saham oleh BUMN Tiongkok: Chengdong Investment Corporation

Dalam perkembangan terpisah, entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Tiongkok, Chengdong Investment Corporation, terus menunjukkan tren pelepasan kepemilikan sahamnya di BUMI. Per 31 Januari 2026, kepemilikan Chengdong hanya tersisa 2,81% dari total saham beredar.

Tren penurunan ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan posisi per 30 Desember 2025, di mana entitas anak dari China Investment Corporation ini masih memiliki 21,39 miliar saham atau 5,76%. Hal ini mengindikasikan bahwa sepanjang Januari 2026, Chengdong telah melepas sekitar 10,94 miliar saham BUMI.

Jika ditelusuri lebih jauh, porsi kepemilikan Chengdong telah menyusut drastis sejak konversi utang menjadi saham pada akhir tahun 2022. Pada saat itu, Chengdong mengkonversi surat utang mandatory convertible bond (MCB) dengan harga Rp80 per saham, yang secara signifikan meningkatkan kepemilikannya menjadi 39,65 miliar saham atau 10,68%, naik dari sebelumnya yang hanya 14,8 miliar saham atau 4,32%. Aksi divestasi yang dilakukan Chengdong ini diperkirakan telah menghasilkan triliunan rupiah, yang memungkinkan mereka untuk mengurangi kepemilikan hingga di bawah ambang batas 5%.

Pergerakan Harga Saham BUMI di Pasar

Pada perdagangan hari Kamis, 12 Februari 2026, saham BUMI dibuka pada level Rp280 per saham, menunjukkan peningkatan dari harga penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp272. Hingga pukul 10.22 WIB, pergerakan harga saham BUMI terpantau fluktuatif dalam rentang Rp266 hingga Rp282, dengan posisi terakhir tercatat di Rp272 per lembar.

Dalam periode enam bulan terakhir, saham BUMI tercatat mengalami penguatan signifikan sebesar 162 poin atau 147,27%, dengan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp100,26 triliun. Namun, jika dilihat dari awal tahun 2026 (year to date 2026), saham ini masih mencatat pelemahan sebesar 148 poin atau 35,24%. Meskipun demikian, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, BUMI masih mampu mencatatkan kenaikan sebesar 173 poin atau 174,75%.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa saham BUMI pertama kali melampaui level Rp100-an pada 13 November 2025, saat harganya melonjak ke Rp224 dari Rp192 pada hari sebelumnya. Sejak menembus level tersebut, pergerakan harga saham BUMI cenderung mengalami peningkatan dan sempat bertahan di atas Rp300 per lembar sejak 10 Desember 2025, sebelum akhirnya kembali bergerak fluktuatif di awal tahun 2026.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan