Satu Pengasuh Harus Tangani 10 Anak, Pilih Ikat Bayi Daripada Merawat

Diposting pada

Pengungkapan Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha

Di sebuah daycare yang berada di Yogyakarta, khususnya di Umbulharjo, terungkap kasus yang mengejutkan dan mengkhawatirkan. Seorang pengasuh di Daycare Little Aresha diketahui harus menangani hingga 10 bayi sekaligus dalam satu waktu. Hal ini jauh dari standar ideal yang seharusnya diterapkan dalam pelayanan anak-anak.

Kasus ini pertama kali muncul setelah adanya laporan tentang dugaan penahanan ijazah oleh mantan karyawan. Laporan tersebut kemudian menjadi dasar bagi kepolisian untuk melakukan penggerebekan di lokasi tersebut. Namun, apa yang ditemukan di sana jauh melampaui dugaan awal. Selain masalah administrasi, polisi juga menemukan kondisi kerja para pengasuh yang tidak wajar.

Satu Pengasuh, Sepuluh Bayi

Dalam proses penyelidikan, terungkap bahwa satu orang pengasuh harus merawat hingga 10 bayi sekaligus. Kondisi ini memicu tekanan besar dalam menjalankan tugas sehari-hari, termasuk memandikan, mengganti pakaian, dan memenuhi kebutuhan dasar anak-anak.

Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, menyatakan bahwa situasi ini memengaruhi kualitas perawatan yang diberikan. “Mereka kesulitan untuk melakukan pekerjaan mulai dari mandi, lalu menggunakan baju, sehingga diperintahkan untuk melakukan perbuatan yang tidak manusiawi,” ujar Rizky, dikutip dari Kompas.com, Senin (27/4/2026).

Gaji Minim, Tekanan Maksimal

Ironisnya, beban kerja berat itu tidak sebanding dengan penghasilan yang diterima. Para pengasuh hanya digaji sekitar Rp 1,8 juta hingga Rp 2,4 juta per bulan. Di sisi lain, pihak daycare mematok biaya kepada orang tua sebesar Rp 1 juta hingga Rp 1,8 juta per anak, tergantung paket layanan. Ketimpangan ini semakin memperkuat dugaan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu utama dalam praktik yang terjadi di dalamnya.

Praktik Mengikat Bayi Terungkap

Temuan paling mengejutkan adalah adanya praktik mengikat bayi. Polisi mengungkap bahwa anak-anak di daycare tersebut diikat dalam waktu lama, dan hanya dilepas saat mandi atau makan. Bahkan, mereka baru dipakaikan baju ketika akan difoto sebagai dokumentasi untuk orang tua.

Rizky menyebut praktik tersebut bukan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan diketahui bahkan diperintahkan oleh pimpinan. “Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah ini selalu hadir di tiap pagi, dan mereka melihat langsung para pengasuh melakukan hal tersebut kepada anak-anak itu. Jadi dia mengetahui dan menyuruh melakukan,” ujar Rizky, dikutip dari Kompas.com, Senin (27/4/2026).

Budaya Lama yang Terus Dilanjutkan

Lebih jauh, polisi menemukan bahwa praktik tersebut bukan hal baru. Metode itu disebut sudah berlangsung lama dan diwariskan dari pengasuh sebelumnya kepada generasi berikutnya. “Selain itu juga memang pengasuh menyampaikan ini juga disampaikan dari turun-temurun. Artinya sebelum mereka kan sudah ada yang bekerja, cara-cara itu juga disampaikan sama senior-senior merekalah atau yang sudah keluar,” imbuhnya.

13 Orang Jadi Tersangka

Hingga kini, aparat telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Mereka terdiri dari ketua yayasan berinisial DK, kepala sekolah AP, serta 11 pengasuh lainnya. Polisi juga menyoroti motif ekonomi sebagai faktor utama. Semakin banyak anak yang diterima, semakin besar keuntungan yang diperoleh, meski harus mengorbankan kualitas perawatan dan keselamatan anak.

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa di balik layanan yang tampak biasa, bisa saja tersembunyi praktik yang jauh dari standar kemanusiaan. Kini, publik menunggu langkah tegas aparat untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan