Satu Ucapan Anak, Dewi Perssik Sadar Dosa Pemicu Hujatan

Diposting pada

Dewi Perssik Belajar Bijak Bermedia Sosial Berkat Nasihat Sang Putra

Pedangdut ternama, Dewi Perssik, kini menunjukkan perubahan sikap dalam mengelola akun media sosialnya. Keputusan ini diambil setelah ia menyadari pentingnya menjaga privasi, terutama terkait kehidupan putranya, Felice Gabriel. Perubahan ini muncul setelah sang putra memberikan nasihat yang menyentuh hati.

Dewi Perssik, yang kerap disapa Depe, mengakui bahwa ia pernah mendapat sorotan dan kritik dari warganet akibat beberapa unggahannya di media sosial. Namun, kini ia lebih berhati-hati dan selektif dalam membagikan konten, khususnya yang berkaitan dengan sang anak.

“Dia mungkin mengingatkan, ‘Mama, tidak semua harus diunggah, Ma.’ Lalu saya bilang, ‘Oh iya, iya, maaf ya sayang, kenapa?’” ungkap Dewi Perssik saat ditemui di kawasan Hutan Kota Senayan, Jakarta. Nasihat sederhana dari putranya tersebut ternyata cukup membekas dan membuatnya lebih sadar akan batas-batas yang perlu dijaga dalam dunia maya.

Sejak saat itu, Dewi Perssik berkomitmen untuk selalu meminta izin sebelum mengunggah foto atau video yang menampilkan Felice Gabriel. Ia memastikan bahwa putranya tidak pernah merasa tertekan atau tersakiti oleh tegurannya.

“Tapi dia tidak pernah menyakiti perasaan saya, tidak pernah mengatur-atur. Hanya dia selalu bilang, ‘Mama, tidak semua diunggah, Ma.’ Jadi itu yang selalu ada dalam pikiran saya,” jelas Depe. Sikap bijak yang diajarkan oleh putranya ini menjadi pengingat penting bagi Dewi Perssik untuk lebih berhati-hati dalam beraktivitas di media sosial.

Kontroversi Pernyataan yang Memicu Kritik

Sebelumnya, Dewi Perssik sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Hal ini dipicu oleh sebuah video yang beredar luas di media sosial, di mana ia kedapatan menyinggung perbandingan bencana alam di Aceh dan Lumajang.

Melalui akun Instagram pribadinya, Dewi Perssik memberikan klarifikasi bahwa video yang viral tersebut merupakan cuplikan dari siaran langsung yang telah dipotong di beberapa bagian. Pemotongan ini, menurutnya, telah menimbulkan kesalahpahaman di tengah publik.

Dalam cuplikan video yang banyak diperbincangkan, Dewi Perssik terlihat membandingkan respons terhadap bencana di dua wilayah tersebut. Ia menyatakan bahwa masyarakat Aceh sepatutnya bersyukur karena telah dikunjungi oleh Presiden Prabowo. Sementara itu, ia menyinggung wilayah Lumajang dan Jember yang juga terdampak bencana namun belum mendapatkan kunjungan dari presiden.

Pernyataan yang beredar tersebut sontak memicu beragam reaksi dan kritik dari pengguna media sosial. Banyak yang menilai Dewi Perssik kurang menunjukkan empati terhadap warga Aceh yang saat itu masih berjuang menghadapi dampak banjir bandang. Kontroversi ini menjadi salah satu momen yang mendorongnya untuk lebih introspektif terhadap cara berkomunikasi di ruang publik digital.

Mengatur Diri dari Kebiasaan “Oversharing”

Fenomena “oversharing” atau membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial memang menjadi perhatian banyak pihak. Kebiasaan ini, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Oversharing dapat diartikan sebagai kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan, baik secara langsung maupun melalui media sosial, hingga melampaui batas kewajaran. Hal ini bisa mencakup detail kehidupan pribadi, masalah keluarga, hingga opini yang sensitif.

Dalam konteks ini, nasihat dari putra Dewi Perssik menjadi contoh nyata bagaimana orang terdekat dapat menjadi pengingat yang efektif untuk membatasi kebiasaan tersebut.

Strategi Mengendalikan Kebiasaan Mengunggah Status Media Sosial

Sering mengunggah status di media sosial bukanlah masalah inheren, kecuali jika unggahan tersebut memicu perselisihan atau kontroversi. Banyak orang menggunakan media sosial untuk berbagai keperluan, mulai dari menyebarkan informasi penting, berbagi pengalaman pribadi, hingga sekadar mendokumentasikan kegiatan sehari-hari.

Namun, terkadang ada individu yang menyadari bahwa mereka telah terlalu sering mengunggah status dan ingin mengurangi kebiasaan tersebut, namun bingung bagaimana memulainya. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan:

1. Memberi Ruang untuk Diri Sendiri

Psikolog sosial, Hening Widyastuti, menyarankan untuk memberikan ruang khusus bagi diri sendiri, baik secara mental maupun psikologis, untuk tidak selalu terdorong mengunggah status. Ini berarti secara sadar menjauhkan diri dari kebiasaan spontan untuk membagikan setiap momen.

2. Menetapkan Agenda “Detoks Digital”

Tidak ada aturan baku mengenai seberapa sering seseorang boleh mengunggah status di media sosial. Selama tidak menimbulkan pertikaian, frekuensi unggahan sebenarnya tidak menjadi masalah. Namun, jika kebiasaan ini menimbulkan rasa “harus” mengunggah setiap kali ada aktivitas, ini bisa menjadi beban.

Oleh karena itu, Hening menyarankan untuk secara sengaja membuat agenda istirahat dari media sosial.

  • Jadwalkan Hari Tanpa Gadget: Cobalah untuk menyediakan satu hari dalam seminggu untuk mengistirahatkan diri dari penggunaan gawai. Gadget menjadi medium utama untuk mengakses media sosial, sehingga menjauhi gadget secara otomatis mengurangi peluang untuk mengunggah status.
    • Saat hari istirahat, fokuslah pada aktivitas lain yang bermakna.
      • Misalnya, melakukan kegiatan berkebun di rumah.
      • Menikmati suasana taman di depan rumah.
      • Melakukan hal-hal sederhana yang memberikan kepuasan.

3. Mengisi Waktu dengan Aktivitas Offline yang Menyenangkan

Selain menjadwalkan hari tanpa gadget, ada beberapa alternatif kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu dan mengurangi ketergantungan pada media sosial:

  • Jalan-jalan Santai: Lakukan jalan-jalan santai di sekitar kompleks perumahan. Aktivitas ini tidak hanya menyehatkan fisik tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengamati lingkungan sekitar tanpa gangguan layar gawai.
  • Menulis Jurnal (Journaling): Menggunakan buku diary untuk menuliskan pikiran, perasaan, atau pengalaman dapat menjadi alternatif yang sangat baik. Journaling membantu memproses emosi dan merefleksikan diri secara mendalam, yang seringkali menjadi tujuan orang saat ingin berbagi di media sosial.

4. Memberi Jeda Interaksi dengan Media Sosial

Hening menekankan pentingnya memberi ruang agar tidak terus-menerus berinteraksi dengan media sosial. Memberi jeda, bahkan hanya satu hari dalam seminggu atau dua minggu sekali, tanpa memegang gadget, dapat memberikan sensasi yang berbeda.

“Kita seperti mengistirahatkan pikiran kita dan mental kita. Beri ruang agar tidak terus-terusan berinteraksi dengan media sosial,” jelas Hening. Dengan mengurangi frekuensi interaksi, seseorang dapat merasakan kembali momen-momen yang tidak terdistraksi oleh dunia maya, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan mental.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan