Sedihnya Pulang Liburan Disambut Hutan Palsu Bandara

Diposting pada

Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta, menandai akhir dari liburan panjang yang menyenangkan dan kembalinya pada realitas kehidupan kota metropolitan. Bagi sebagian orang, momen ini berarti kembali ke rutinitas, namun bagi anak-anak, ini adalah awal dari petualangan baru. Saat melangkah melalui terminal kedatangan yang kini tampil modern dan asri, mata mereka langsung berbinar melihat dinding-dinding hijau yang tertutup lumut.

Si bungsu tak sabar berlari menuju layar LED raksasa yang menampilkan visual hutan tropis dengan resolusi tinggi, lengkap dengan ikan-ikan digital yang berenang dengan anggun. “Ibu, ayo foto di sini! Bagus banget!” serunya penuh semangat. Momen itu membuat sang ibu tersenyum bangga, memotret tawa riang anak-anaknya di depan gerbang negara yang terlihat modern, hijau, dan sejuk.

Namun, kebanggaan itu seketika memudar ketika teringat akan sebuah artikel yang dibacanya di pesawat. Ada perasaan sesak yang aneh; di satu sisi, kita merayakan keindahan hutan yang ditampilkan di dinding bandara, sementara di sisi lain, hutan asli Indonesia justru semakin terancam.

Jebakan Estetika yang Menyesatkan

Siapa yang tidak menyukai bandara yang asri dan nyaman? Desain biofilik memang sedang menjadi tren global, dengan tujuan mulia untuk menciptakan suasana rileks bagi para penumpang setelah penerbangan yang panjang. Di area luar terminal, masih terdapat taman-taman dengan pepohonan asli yang menyegarkan mata, sebuah apresiasi yang pantas diberikan.

Namun, masalah muncul ketika di dalam ruangan ber-AC yang sejuk, kita justru disuguhi kenyamanan visual dari tanaman fabrikasi dan hutan digital. Hal ini dapat menciptakan ilusi bahwa Indonesia masih sehijau itu, sebuah kenyamanan yang semu. Hutan di layar LED memiliki tombol “refresh” yang dapat mengganti gambar kapan pun diinginkan. Berbeda nasibnya dengan hutan di Kalimantan atau Papua. Hutan asli tidak memiliki tombol “undo”; sekali ia lenyap akibat penebangan, dibutuhkan ratusan tahun untuk memulihkannya.

Data Deforestasi yang Mengkhawatirkan

Mari kita lihat fakta yang ada. Data tahun 2024 saja sudah cukup membuat kita prihatin. Indonesia kehilangan sekitar 260 ribu hektare hutan primer dalam waktu singkat. Luas ini setara dengan empat kali luas Kota Jakarta. Tren deforestasi yang sempat menurun, justru kembali meningkat dalam tiga tahun terakhir. Yang lebih menyedihkan, banyak dari pembukaan lahan ini berstatus legal, di mana paru-paru dunia dibuka untuk izin konsesi dan proyek-proyek strategis. Bagi orang tua, data ini bukan sekadar angka, melainkan ancaman nyata bagi masa depan anak-anak yang sedang asyik berfoto di depan layar LED.

Ancaman Kepunahan Pengetahuan tentang Hutan

Momen di bandara tersebut menjadi tamparan keras. Anak-anak mungkin berpikir bahwa Indonesia akan selalu hijau seindah dinding terminal. Kepolosan mereka adalah tanggung jawab kita sebagai orang dewasa. Bagaimana cara menjelaskan bahwa hutan di dinding tidak dapat menyimpan air hujan? Bagaimana memberitahu mereka bahwa rumah asli harimau yang tergambar di layar sedang terancam karena penggusuran?

Ada kekhawatiran bahwa anak-anak kita kelak akan lebih hafal spot foto instagramable di bandara daripada nama-nama Taman Nasional di negeri sendiri. Pendidikan lingkungan tidak cukup hanya melalui buku sekolah. Kita perlu bersikap jujur mengenai realitas ini, agar mereka tidak hanya mengenal hutan dari balik jendela yang dingin.

Menghentikan “Panggung Hijau”, Memulai Kepedulian Nyata

Indonesia seolah terjebak dalam fenomena “green staging” atau panggung hijau. Di depan publik, seperti di bandara atau acara internasional, negara kita tampil peduli lingkungan dengan segala kehijauannya. Namun, di balik layar, kebijakan perlindungan alam seringkali longgar. Hutan asli terus mundur, digantikan oleh perkebunan kelapa sawit atau area pertambangan.

Bahayanya, kita menjadi sulit membedakan mana ruang publik yang sekadar cantik dan mana kebijakan lingkungan yang benar-benar melindungi. Kita merasa sudah mencintai lingkungan hanya karena melihat banyak pot tanaman di gedung perkantoran, sementara di pedalaman, hutan sedang merintih.

Resolusi Pasca-Liburan untuk Hutan Indonesia

Semangat awal tahun seharusnya dimanfaatkan untuk membuat resolusi yang lebih bermakna. Selain resolusi pribadi seperti diet atau karier, mari masukkan nasib hutan Indonesia dalam daftar prioritas kita.

Berikut beberapa langkah yang bisa kita ambil:

  • Jadilah Traveler yang Kritis: Pilih destinasi wisata yang benar-benar menjaga kelestarian alam, bukan yang merusak demi popularitas sesaat.
  • Skeptis Terhadap Klaim “Hijau”: Jangan mudah percaya pada label ramah lingkungan dari produk atau perusahaan tanpa bukti yang jelas. Teliti lebih lanjut dan pertanyakan klaim tersebut.
  • Gunakan Suara Anda: Suara kita memiliki kekuatan. Ikut serta dalam petisi, berikan dukungan kepada lembaga konservasi, atau pertimbangkan pilihan Anda dalam pemilihan umum. Ini adalah rem penting untuk mengendalikan laju kerusakan alam.

Nikmati keindahan dekorasi Bandara Soekarno-Hatta yang memang menyegarkan mata. Namun, jadikan dinding hijau tersebut sebagai pengingat, bukan pengganti. Jangan sampai kita sibuk mengagumi hutan di layar LED, sementara hutan yang sesungguhnya, yang telah memberikan kita kehidupan, perlahan-lahan lenyap tanpa suara.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan