Shin Bet dan Mossad Desak Tindakan atas Bocornya Kunjungan Netanyahu ke UEA

Diposting pada

Badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, meminta langkah hukum terhadap Channel 12 setelah stasiun itu menyiarkan laporan soal perjalanan rahasia Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Uni Emirat Arab (UEA). Permintaan itu disampaikan kepada kepala sensor militer pada Senin, di tengah penilaian bahwa siaran tersebut membahayakan keselamatan Netanyahu, rombongan, dan operasi keamanan Israel. Kantor Perdana Menteri (PMO) kemudian menyebut insiden itu sebagai pelanggaran sensor yang serius.

Menurut Shin Bet, waktu tayang laporan, yakni pukul 21.38, menjadi masalah utama karena saat itu pesawat yang membawa Netanyahu masih berada di luar wilayah Israel. Pesawat baru mendarat sekitar satu jam kemudian, pukul 22.27. Karena itu, badan tersebut menilai informasi yang beredar saat itu dapat membuka risiko bagi perdana menteri serta pasukan keamanan yang bertugas di lapangan. Shin Bet juga berpendapat bahwa rincian yang terungkap ikut memperlihatkan pola operasi yang bisa meningkatkan ancaman pada misi-misi mendatang.

PMO turut menegaskan bahwa bukan hanya Netanyahu yang terancam, tetapi juga istrinya, delegasi resmi, dan unsur keamanan yang ikut dalam perjalanan. Dalam daftar itu termasuk kepala Dewan Keamanan Nasional Mayjen Guy Markizano, sekretaris militer, kepala divisi keamanan Shin Bet, awak pesawat, serta tim pengawal. Pada saat yang sama, Mossad menilai kebocoran informasi ini sebagai ancaman keamanan yang serius dan meminta agar publikasi tersebut diperlakukan sebagai insiden yang membahayakan keamanan negara.

Laporan Channel 12, yang juga dikutip Reuters melalui seorang pejabat senior Israel tanpa nama, menyebut Netanyahu terbang secara diam-diam ke Abu Dhabi pada Senin untuk bertemu Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Pesawat pribadi yang digunakan disebut berangkat tak lama setelah tengah hari dan tiba pukul 15.10. Channel 12 mengatakan Netanyahu berada di UEA selama sekitar empat jam. Hingga laporan itu muncul, Kantor Perdana Menteri, Kedutaan Besar UEA di Israel, dan Kementerian Luar Negeri UEA belum memberi tanggapan.

Kunjungan ini datang di saat hubungan politik Netanyahu dengan UEA sedang berada dalam sorotan. Media Israel belakangan ramai membahas laporan Haaretz yang menyebut MBZ telah memperingatkan Netanyahu sekitar satu setengah minggu sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 bahwa kelompok itu sedang menyiapkan operasi besar. Netanyahu membantah laporan tersebut dan mengancam langkah hukum terhadap Haaretz, sementara lawan-lawan politiknya menuduh ia ikut bertanggung jawab atas kegagalan keamanan menjelang serangan itu.

UEA sendiri tidak mengomentari isi laporan Haaretz, tetapi menegaskan bahwa sejak normalisasi hubungan pada 2020, kedua negara menjaga “saluran komunikasi yang terbuka dan langsung”. Sebelumnya, seorang sumber di UEA mengatakan kepada Reuters bahwa pembahasan keamanan dengan berbagai negara biasanya dilakukan lewat lembaga terkait, bukan pada tingkat pemimpin nasional. Pada awal tahun ini, Abu Dhabi juga membantah kabar pertemuan Netanyahu dan MBZ setelah kantor Netanyahu pada Mei menyebut sang perdana menteri telah diam-diam mengunjungi negara Teluk itu. Channel 12 kala itu melaporkan pertemuan berlangsung di Al-Ain pada 26 Maret, dan para pejabat UEA disebut marah karena Netanyahu membuka informasi yang semestinya dirahasiakan.

Kasus terbaru ini kembali menunjukkan rapuhnya keseimbangan antara operasi rahasia, kebutuhan politik domestik, dan hubungan diplomatik yang dibangun Israel serta UEA sejak Kesepakatan Abraham. Bagi Netanyahu, yang sedang menghadapi tekanan berat dalam kampanye pemilihan ulang, setiap kebocoran informasi berisiko bukan hanya secara keamanan, tetapi juga secara politik.

Sumber: news.republika.co.id

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan