Menelusuri Jejak Sejarah: Mengapa Surakarta Dikenal Sebagai Solo dan Sala?
Kota Surakarta, atau yang lebih akrab disapa Solo, menyimpan kekayaan sejarah yang mendalam, seringkali menimbulkan kebingungan di benak masyarakat mengenai perbedaan nama Sala, Solo, dan Surakarta. Banyak yang menganggap ketiganya adalah entitas yang berbeda, padahal ketiganya memiliki akar yang saling terkait erat dengan pembentukan kota yang terletak di tepi Sungai Bengawan Solo ini.
Bahkan, kota yang pernah dipimpin oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, saat menjabat sebagai wali kota, dikenal luas dengan dua nama sekaligus: Solo dan Surakarta. Mari kita selami lebih dalam asal-usul dan makna di balik ketiga nama tersebut.
Berawal dari Desa Sala: Titik Nol Sejarah Kota
Menurut berbagai catatan sejarah, nama pertama yang mengemuka untuk wilayah ini adalah Sala. Dahulu, pusat Kota Surakarta yang kita kenal sekarang adalah sebuah desa perdikan yang bernama Desa Sala. Desa perdikan adalah sebuah wilayah yang pada masa kerajaan mendapatkan pembebasan dari kewajiban membayar pajak kepada pemerintah pusat. Desa ini dipimpin oleh seorang tokoh terkemuka bernama Ki Gede Sala atau Kiai Sala.
Profesor Warto, seorang Guru Besar Ilmu Sejarah dari Universitas Sebelas Maret (UNS), menjelaskan bahwa cikal bakal Kota Solo yang kita kenal saat ini bermula dari perpindahan pusat Kerajaan Mataram dari Kartasura menuju Desa Sala pada tahun 1745.
“Jadi, Kota Solo yang sekarang kita kenal itu awalnya dari sebuah perpindahan kerajaan dari Kartasura ke Surakarta atau Desa Sala pada tahun 1745,” ujar Prof. Warto.
Kelahiran Keraton Surakarta Hadiningrat: Simbol Perubahan
Perpindahan pusat kerajaan ini bukanlah tanpa alasan. Keraton Kartasura mengalami kerusakan parah akibat peristiwa Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1740. Meskipun pihak kerajaan berhasil merebut kembali Kartasura, Pakubuwana II merasa bahwa keraton tersebut telah kehilangan kesuciannya dan perlu dipindahkan ke lokasi yang baru.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dari para pejabat kerajaan dan penasihat dari pihak Belanda, Desa Sala akhirnya dipilih sebagai lokasi pembangunan keraton baru. Di lokasi inilah kemudian didirikan Keraton Surakarta Hadiningrat, yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang baru. Dari peristiwa inilah kemudian muncul nama Surakarta, yang menjadi nama kerajaan baru menggantikan Keraton Kartasura setelah perpindahan ke Desa Sala.
Mengapa Sala Berubah Menjadi Solo? Pengaruh Pelafalan Belanda
Meskipun nama asli wilayah tersebut adalah Sala, masyarakat kini lebih akrab dan terbiasa menggunakan sebutan Solo. Menurut Prof. Warto, perubahan pelafalan ini tidak lepas dari pengaruh kolonial Belanda.
Dalam pelafalan bahasa Jawa, terdapat perbedaan yang cukup jelas antara huruf “a” dan “o”. Namun, orang-orang Belanda kerap mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata “Sala” dengan benar. Akibatnya, seiring berjalannya waktu, pelafalan tersebut secara perlahan berubah menjadi “Solo”.
Penggunaan nama Solo yang terus-menerus selama bertahun-tahun akhirnya menjadikannya lebih populer dan dikenal luas oleh masyarakat dibandingkan dengan nama aslinya, Sala.
“Alasannya Sala jadi Solo karena orang Belanda susah mengucapkan Sala,” terang Prof. Warto.
Membedah Makna: Solo, Sala, dan Surakarta
Secara historis, ketiga nama tersebut memiliki makna yang berbeda namun saling terkait:
- Sala: Merupakan nama desa asal yang menjadi fondasi berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat.
- Surakarta: Adalah nama kerajaan yang dibentuk setelah perpindahan pusat pemerintahan dari Kartasura ke Desa Sala.
- Solo: Merupakan bentuk pelafalan populer yang berkembang di kalangan masyarakat dan akhirnya diadopsi secara luas hingga saat ini.
Meskipun memiliki perbedaan istilah, ketiganya pada dasarnya merujuk pada satu wilayah geografis yang sama. “Perbedaan istilah tidak mengubah substansi, tetap sama,” tegas Prof. Warto.
Surakarta: Nama Resmi, Solo: Jiwa Masyarakat
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, nama Surakarta kemudian ditetapkan sebagai nama resmi untuk kota administratif. Oleh karena itu, dalam dokumen-dokumen pemerintahan dan administrasi negara, penulisan yang tepat adalah Kota Surakarta.
Namun, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lebih memilih menggunakan nama Solo. Hal ini dikarenakan nama Solo dianggap lebih sederhana, mudah diucapkan, dan telah mengakar kuat dalam identitas kota. Berbagai julukan populer seperti Kota Solo, Kota Bengawan, hingga Solo Raya justru lebih sering terdengar dan digunakan dibandingkan dengan penyebutan Surakarta.
Warisan Budaya yang Tak Lekang oleh Waktu
Terlepas dari perubahan nama dan dinamika sejarah, Surakarta tetap berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa yang sangat penting di Indonesia. Keberadaan Keraton Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran menjadi saksi bisu perjalanan sejarah panjang kota ini.
Persaingan antar kerajaan pada masa lalu tidak hanya terbatas pada ranah politik, tetapi juga merambah ke bidang seni dan budaya. Berbagai tradisi, kesenian, musik gamelan, hingga adat istiadat yang berkembang pada masa itu masih dapat dijumpai dan dilestarikan hingga kini.
Oleh karena itu, baik disebut Solo, Sala, maupun Surakarta, kota ini tetap kokoh berdiri sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa yang kaya akan sejarah dan memiliki identitas yang kuat di Indonesia.













