Spanyol Tolak Permintaan AS untuk Gunakan Pangkalan Militer dalam Konflik Iran
Pemerintah Spanyol secara tegas menolak permintaan Amerika Serikat (AS) untuk memanfaatkan pangkalan militer bersama di wilayahnya guna mendukung operasi militer yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran. Keputusan ini disampaikan pada Minggu, 1 Maret 2026, setelah Washington meminta akses terhadap fasilitas pertahanan yang digunakan bersama oleh kedua negara.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, mengecam keras langkah militer tersebut, menyebutnya sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan berisiko tinggi. Ia menilai operasi gabungan tersebut sebagai intervensi berbahaya yang melanggar hukum internasional.
Penegasan Kedaulatan Pangkalan Militer Nasional
Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, menekankan bahwa fasilitas militer bersama yang dimiliki Spanyol tidak dan tidak akan diizinkan digunakan untuk operasi semacam itu. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan izin penggunaan pangkalan militer di luar kesepakatan yang berlaku atau yang bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini termasuk pangkalan angkatan laut Rota dan pangkalan udara Morón.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Margarita Robles menambahkan bahwa dukungan dari fasilitas militer Spanyol hanya dapat diberikan dalam situasi kemanusiaan yang sangat mendesak. Bantuan hanya akan diberikan apabila benar-benar diperlukan dari sudut pandang kemanusiaan, dan tidak untuk tujuan militer lainnya.
Pergerakan Pesawat Militer AS Terekam Data Penerbangan
Data pelacakan penerbangan dari FlightRadar24 menunjukkan adanya pergerakan puluhan pesawat militer milik AS yang lepas landas dari pangkalan Rota dan Morón di wilayah selatan Spanyol setelah operasi militer dimulai. Setidaknya tujuh pesawat dilaporkan mendarat di Pangkalan Udara Ramstein di Jerman. Selain itu, sembilan pesawat tanker terlihat bergerak menuju arah yang sama, sementara dua pesawat lainnya terdeteksi bergerak ke arah selatan Prancis.
Di sisi lain, Pemerintah Spanyol juga secara resmi mengutuk serangan balasan rudal yang dilancarkan oleh Iran ke sejumlah negara di kawasan Teluk. Sikap ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Albares melalui akun media sosial X.
“Kami menuntut penghormatan terhadap hukum internasional. Kekerasan hanya membawa kekacauan. De-eskalasi dan dialog adalah jalan menuju perdamaian dan stabilitas,” tulis Albares, menegaskan posisi Spanyol dalam menghadapi eskalasi konflik.
Respons Eropa dan Iran dalam Eskalasi Konflik
Sikap Spanyol ini berbeda dengan beberapa negara besar Eropa lainnya. Inggris, Prancis, dan Jerman memutuskan untuk mengizinkan atau menyatakan kesiapan untuk mengizinkan pangkalan mereka digunakan guna mendukung AS. Keputusan ini didasarkan pada prinsip pertahanan kolektif, menyusul serangan balasan Iran terhadap aset AS dan infrastruktur energi di Timur Tengah. Ketiga negara tersebut merilis pernyataan bersama yang menyatakan keterkejutan atas serangan rudal yang dinilai tidak pandang bulu dan tidak proporsional terhadap negara-negara di kawasan, termasuk yang tidak terlibat dalam operasi awal AS dan Israel. Mereka juga menyatakan akan bekerja sama dengan AS dan sekutu regional.
Serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan Israel dilaporkan menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah mengirimkan surat resmi kepada PBB. Ia menyebut pembunuhan tersebut sebagai pelanggaran serius yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap norma-norma dasar hubungan antarnegara. Dalam surat yang dirilis oleh Kantor Berita WANA Iran, Araghchi menegaskan bahwa Piagam PBB hanya memperbolehkan penggunaan kekuatan jika mendapat persetujuan Dewan Keamanan atau sebagai bentuk pembelaan diri. Ia juga mengecam serangan terhadap sekolah, bangunan tempat tinggal, dan fasilitas darurat sebagai kejahatan perang.

Araghchi juga menyampaikan pandangannya melalui platform X. “Kami tidak memahami alasan serangan AS terhadap Iran. Mungkin pemerintahan AS terseret ke dalamnya. Yang saya ketahui adalah: Iran akan menghukum mereka yang membunuh anak-anak kami. Permusuhan kami bukan terhadap rakyat Amerika, yang sekali lagi dibohongi,” tulisnya, menyoroti dampak dan narasi yang berkembang terkait konflik tersebut.
Situasi ini memicu berbagai respons internasional, termasuk seruan dari kelompok seperti Free Palestine Network yang mendesak Indonesia untuk mendukung Iran, serta desakan dari ulama Iran untuk segera mencari pengganti Ayatollah Khamenei. Mantan Presiden AS Donald Trump juga memberikan ultimatum kepada Iran, mengisyaratkan potensi serangan yang lebih telak jika Iran melakukan provokasi lebih lanjut.



















