Penawaran Sukuk Ritel SR024: Analisis Kinerja dan Prospek Investasi
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan kembali menghadirkan instrumen investasi syariah yang aman dan menguntungkan, yaitu Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel seri SR024. Penawaran perdana instrumen ini dimulai pada Jumat, 6 Maret 2026, dan dibuka untuk periode penawaran selama sepekan.
Sejak awal penawaran, SR024 telah menunjukkan performa yang cukup menjanjikan di pasar. Berdasarkan data dari salah satu mitra distribusi terkemuka, Bibit, hingga Jumat, 13 Maret 2026, total penjualan SR024-T3 telah mencapai Rp 3,35 triliun dari target awal sebesar Rp 10 triliun. Sementara itu, seri SR024-T5 berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 1,63 triliun, juga dari target Rp 10 triliun yang sama.
Kinerja Penjualan SR024: Analisis Mendalam
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, menilai bahwa pencapaian penjualan SR024 selama sepekan pertama ini tergolong baik. Ia membandingkan kinerja SR024 dengan seri Sukuk Ritel sebelumnya, SR023, yang ditawarkan pada Agustus tahun sebelumnya. Pada pekan pertama penawarannya, SR023 hanya mencatatkan realisasi penjualan sebesar Rp 2,05 triliun. Dengan demikian, total realisasi penjualan SR024 yang telah mencapai Rp 4,37 triliun (gabungan SR024-T3 dan SR024-T5) pada pekan pertama tergolong lebih tinggi dan menunjukkan minat investor yang kuat.
Perbandingan lebih lanjut juga dilakukan dengan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029, yang ditawarkan pada awal tahun 2026. ORI029 hanya berhasil terjual Rp 3,4 triliun pada pekan pertama. Hal ini semakin memperkuat pandangan bahwa realisasi penjualan SR024 termasuk dalam kategori relatif tinggi di antara instrumen SBN ritel yang ditawarkan.
Menurut Suhindarto, daya tarik utama SR024 terletak pada tingkat imbal hasilnya yang masih kompetitif di tengah kondisi pasar saat ini. Pemerintah menetapkan imbal hasil untuk SR024-T3 sebesar 5,5% per tahun dan untuk SR024-T5 sebesar 5,9% per tahun. Kedua seri ini memiliki sifat fixed atau tetap hingga jatuh tempo, memberikan kepastian imbal hasil bagi investor.
Faktor Pendorong Minat Investor
Suhindarto mengidentifikasi momentum penawaran SR024 sebagai salah satu faktor utama yang menarik minat investor. Penawaran yang bertepatan dengan periode menjelang Hari Raya Idul Fitri, di mana masyarakat umumnya menerima Tunjangan Hari Raya (THR), memberikan peluang bagi investor untuk mengalokasikan sebagian dana THR mereka ke dalam instrumen investasi yang aman dan berprinsip syariah.
Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya disepakati oleh Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana. Fikri berpendapat bahwa penawaran SR024 yang bertepatan dengan bulan puasa menjelang Idul Fitri justru dapat membuat masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan konsumsi rumah tangga. Menurutnya, penyesuaian pola investasi mungkin baru akan dilakukan setelah momentum Idul Fitri usai.
Fikri juga menyoroti adanya ketidakpastian dalam kondisi geopolitik global saat ini. “Dengan kondisi geopolitik yang tinggi seperti sekarang investor sedikit menahan diri untuk membeli SR024 karena adanya ekspektasi persentase imbal hasil yang lebih besar,” ungkap Fikri. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa investor mungkin menahan dana mereka, berharap adanya peluang investasi dengan imbal hasil yang lebih menarik di masa mendatang.
Perbandingan Imbal Hasil dan Pajak
Baik Suhindarto maupun Fikri sepakat bahwa kupon SR024 menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan bunga deposito. Tingkat bunga deposito saat ini umumnya berada di bawah 4,5% per tahun dan masih dikenakan pajak sebesar 20%. Sebaliknya, kupon sukuk ritel hanya dikenakan pajak sebesar 10%, sehingga memberikan keuntungan bersih yang lebih besar bagi investor.
Namun, jika dibandingkan dengan imbal hasil obligasi korporasi yang memiliki peringkat AAA dengan tenor 3 dan 5 tahun, yang berada di kisaran 6,38% dan 6,78% secara berurutan, kupon SR024 memang masih tergolong lebih rendah. Perbandingan ini penting bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi, namun perlu mempertimbangkan pula tingkat risiko yang berbeda antara instrumen negara dan korporasi.
Prospek Penjualan SR024 dan SBN Ritel ke Depan
Menatap ke depan, Suhindarto tetap optimis terhadap prospek penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Ia meyakini bahwa permintaan yang kuat dari masyarakat akan terus mendukung kinerja positif SBN ritel. Dukungan dari investor individu yang semakin memahami manfaat berinvestasi pada instrumen negara yang aman dan berprinsip syariah menjadi kunci utama optimisme ini.
Berbeda dengan pandangan Suhindarto, Fikri memprediksi bahwa penjualan SR024 kemungkinan akan berada di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah. Prediksi ini berlaku baik untuk sukuk ritel maupun instrumen konvensional. “Kalau menurut saya kemungkinan penjualannya akan lebih rendah dari target pemerintah, terlepas sukuk maupun konvensional karena volatilitasnya sedang tinggi pada saat ini jadi masyarakatnya cenderung menahan diri,” jelas Fikri. Pandangannya didasarkan pada tingginya volatilitas pasar yang membuat masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan investasi.
Pilihan investasi pada SR024, baik seri T3 maupun T5, tetap menjadi alternatif menarik bagi investor yang mencari pendapatan tetap yang aman, berprinsip syariah, dan memberikan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan produk simpanan tradisional. Keputusan investasi pada akhirnya akan bergantung pada profil risiko, tujuan keuangan, dan pandangan masing-masing investor terhadap kondisi pasar saat ini dan di masa mendatang.




