Srikandi Muay Thai Indonesia Raih Emas dan Sabuk Juara di Kancah Asia
YOGYA – Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 menjadi momen bersejarah bagi dunia olahraga bela diri Indonesia. Delegasi combat sport Merah Putih sukses mengguncang arena International & Thai Martial Arts (ITMA) Asian Games 2026 yang diselenggarakan di Negombo, Sri Lanka, dengan memboyong satu medali emas dan satu medali perak. Lebih istimewa lagi, sebuah sabuk juara internasional bergengsi berhasil dibawa pulang ke Tanah Air, menjadi bukti nyata kehebatan atlet Indonesia di panggung global.
Medali Emas untuk Sang Srikandi Muay Thai
Di tengah persaingan ketat yang memadati laga final Pro-am Muaythai, sorotan utama tertuju pada performa gemilang seorang srikandi kebanggaan Indonesia, Made Reyna Prasetya. Bertarung di kelas -54kg untuk kategori usia 18-37 tahun putri, Reyna menampilkan dominasi luar biasa sejak awal pertandingan. Dengan strategi yang matang dan pukulan yang presisi, ia berhasil meredam setiap serangan dari wakil tuan rumah, Lakshani Samarathna. Duel yang berlangsung sengit ini akhirnya dimenangkan secara mutlak oleh Reyna. Kemenangan ini tidak hanya mengantarkannya meraih medali emas, tetapi juga mengamankan sabuk juara internasional yang sangat didambakan.
Keberhasilan Reyna dalam meraih emas dan sabuk juara menjadi kado terindah bagi bangsa Indonesia, tepat di momen peringatan Hari Lahir Pancasila.
Perjuangan Spartan untuk Medali Perak
Tidak hanya Reyna yang menunjukkan taringnya di Sri Lanka. Yohanes Donbosco, atlet kebanggaan Indonesia lainnya, juga menampilkan perjuangan yang patut diapresiasi. Ia turun di kategori -51kg Pro-am Muay Thai, juga untuk kategori usia 18-37 tahun putra. Dalam duel yang menguras fisik dan mental, Donbosco harus berhadapan dengan Bikash Narah dari India. Meskipun telah memberikan performa terbaiknya, Donbosco harus mengakui keunggulan lawannya. Ia terpaksa puas menduduki peringkat kedua dan membawa pulang medali perak untuk Indonesia setelah melalui pertarungan yang luar biasa sengit.
Perjuangan Yohanes Donbosco di atas ring menunjukkan semangat juang pantang menyerah para atlet Indonesia.
Dukungan Penuh untuk Combat Sport Nasional
Ketua Asosiasi World Muaythai Indonesia (AWMI), Dewanto P. Siregar, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian para atlet. Ia menegaskan bahwa torehan gemilang ini adalah hasil dari kerja keras tanpa batas yang telah ditunjukkan oleh seluruh atlet di atas ring.
“Perhelatan ini adalah hadiah Hari Lahir Pancasila, di mana srikandi Muay Thai Indonesia, Reyna, berhasil membawa pulang sabuk juara untuk Indonesia. Oleh karena itu, saya secara khusus meminta perhatian dari pemerintah Indonesia untuk memberikan dukungan penuh serta penghargaan terbaik bagi olahraga combat sport, khususnya Muay Thai,” ujar Dewanto.
Ia menambahkan bahwa partisipasi dalam ajang ITMA Asian Games 2026, yang berlangsung dari 28 Mei hingga Juni 2026, merupakan bagian dari strategi jangka panjang AWMI untuk terus memperkaya jam terbang internasional para atlet.
Lebih dari Sekadar Medali: Pengembangan Juri Standar Internasional
Keberhasilan delegasi Indonesia tidak hanya terbatas pada arena pertandingan. Di sektor manajerial pertandingan, Albertus Jefri turut ambil bagian dalam program sertifikasi juri standar internasional Muay Thai. Keikutsertaannya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas perwasitan dalam setiap pertandingan combat sport di Indonesia, sejalan dengan perkembangan atlet di atas matras.
Albertus Jefri (tengah) saat mengikuti program sertifikasi juri standar internasional Muay Thai.
Stimulus Masif Dibutuhkan untuk Industri Combat Sport
Di balik kemilau medali yang berhasil diraih, asosiasi meyakini bahwa potensi industri combat sport di tanah air masih memerlukan dorongan stimulus yang masif dari para pembuat kebijakan dan pemerintah. Persaingan ketat yang dihadapi, melibatkan 15 negara termasuk raksasa olahraga seperti Rusia, Australia, Pakistan, India, dan Sri Lanka, menunjukkan bahwa daya juang fisik dan mental semata tidaklah cukup. Dukungan finansial yang memadai dan infrastruktur kepelatihan yang mumpuni menjadi kunci utama untuk meningkatkan level kompetisi.
“Partisipasi Indonesia di ajang ini memberikan sorotan positif bagi perkembangan olahraga bela diri nasional. Meskipun persaingan di ITMA Asian Games 2026 sangat ketat, para atlet Indonesia telah menunjukkan daya juang yang luar biasa di atas arena,” jelas Dewanto lebih lanjut.
Optimisme Menuju Panggung Multievent Lebih Besar
Dewanto P. Siregar menunjukkan optimisme tinggi terhadap fondasi atlet combat sport Indonesia saat ini. Ia percaya bahwa program pelatihan intensif yang dijalankan telah menempatkan para atlet di jalur yang benar. Namun, transisi menuju panggung multievent yang lebih besar dan berskala internasional membutuhkan keterlibatan negara secara menyeluruh. Dengan komposisi atlet yang telah dipersiapkan secara matang melalui pelatihan intensif, Dewanto yakin bahwa para petarung Indonesia mampu menghadapi lawan-lawan tangguh dari berbagai negara di Asia.
“Performa para petarung di Sri Lanka ini kami harapkan dapat menjadi modal berharga bagi tim nasional untuk menghadapi deretan multievent olahraga yang lebih besar di masa mendatang,” pungkasnya, penuh keyakinan.


















