Sebuah studi terbaru mengungkap fakta mengkhawatirkan tentang lingkungan perkotaan di Indonesia: polusi suara yang terus-menerus rupanya bukan sekadar gangguan, melainkan pemicu utama stres kronis pada warganya. Khususnya di kota metropolitan seperti Surabaya, kebisingan yang melebihi ambang batas normal telah teridentifikasi mampu mengganggu keseimbangan mental dan fisik, berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.
Memahami Ancaman Bising Perkotaan
Polusi suara, atau kebisingan, adalah suara yang tidak diinginkan atau berlebihan yang dapat mengganggu kenyamanan, aktivitas, dan kesehatan manusia serta lingkungan. Di perkotaan, sumber kebisingan ini sangat beragam, mulai dari deru mesin kendaraan bermotor yang tak henti-hentinya, suara klakson, konstruksi bangunan, hingga aktivitas industri dan sosial. Tingkat kebisingan di banyak area perkotaan Indonesia, termasuk Surabaya, seringkali melampaui batas aman yang direkomendasikan, yang umumnya berkisar di angka 70 desibel (dB).
Dampak Tersembunyi Polusi Suara pada Kesehatan Mental
Sementara dampak langsung polusi suara seperti gangguan pendengaran atau tinitus sudah cukup dikenal, penelitian terbaru menyoroti ancaman yang lebih serius pada kesehatan mental. Paparan kebisingan secara kronis memicu respons stres pada tubuh, serupa dengan ancaman fisik. Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dilepaskan secara berlebihan, membuat tubuh terus-menerus dalam kondisi “waspada” atau siap siaga.
Peningkatan Stres dan Kecemasan yang Berkepanjangan
Ketika kebisingan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, respons stres yang berulang ini dapat menyebabkan tingkat kortisol tetap tinggi secara konstan. Kondisi ini secara langsung berkontribusi pada perasaan gelisah, mudah marah, dan memicu kecemasan berlebihan. Seseorang mungkin merasa tidak tenang bahkan saat berada di lingkungan yang seharusnya aman dan nyaman, seperti di rumah sendiri.
Gangguan Kualitas Tidur yang Merusak
Salah satu dampak paling umum dari polusi suara adalah gangguan tidur. Suara bising, terutama pada malam hari, seperti suara pesawat, kereta api, atau lalu lintas, dapat mengganggu siklus tidur, termasuk tahap tidur REM dan NREM. Meskipun seseorang mungkin tidak terbangun sepenuhnya, otak tetap memproses suara tersebut, yang pada akhirnya menurunkan kualitas tidur secara keseluruhan. Kurang tidur kronis ini merupakan pemicu utama berbagai masalah kesehatan mental, termasuk gangguan suasana hati, depresi, dan penurunan fungsi kognitif.
Penurunan Konsentrasi dan Kinerja Kognitif
Lingkungan perkotaan yang bising memaksa otak bekerja lebih keras untuk menyaring suara yang tidak relevan, sehingga menguras sumber daya kognitif yang seharusnya digunakan untuk fokus, memecahkan masalah, atau belajar. Hal ini sangat terasa dampaknya pada anak-anak, yang dapat mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan membaca dan kognitif jika terpapar kebisingan tinggi di lingkungan belajar maupun rumah. Bagi orang dewasa, ini bisa berarti penurunan produktivitas kerja dan kesulitan dalam tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Risiko Depresi dan Masalah Psikologis Lainnya
Beberapa penelitian skala besar telah mengindikasikan adanya korelasi kuat antara paparan polusi suara lingkungan yang tinggi, terutama dari lalu lintas, dengan peningkatan risiko depresi. Lingkungan yang terus-menerus bising dapat menghilangkan rasa damai dan kontrol pribadi, yang keduanya merupakan faktor pelindung penting bagi kesehatan mental.
Solusi Praktis untuk Mengurangi Paparan Bising di Surabaya
Menghadapi realitas polusi suara di kota sebesar Surabaya, memang tidak mudah untuk sepenuhnya menghentikan sumber kebisingan seperti lalu lintas. Namun, masyarakat dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk meminimalkan dampaknya. Menciptakan “zona senyap” di rumah adalah salah satu solusi efektif. Hal ini bisa dilakukan dengan menginsulasi jendela menggunakan kaca tebal atau jendela ganda, serta memanfaatkan gorden tebal dan karpet yang dapat membantu menyerap suara dan mengurangi gema di dalam ruangan.
Selain itu, pemanfaatan teknologi peredam bising seperti earplug atau earbud noise-cancelling sangat membantu saat berada di transportasi umum atau lingkungan kerja yang ramai. Penggunaan white noise machine juga bisa menjadi alternatif untuk menutupi suara bising yang mengganggu dan meningkatkan kualitas tidur. Rutin mengunjungi ruang terbuka hijau seperti taman kota atau hutan kota juga dapat menjadi “detoks telinga,” membantu menurunkan tingkat hormon stres dan menenangkan sistem saraf.
Penting untuk disadari bahwa polusi suara adalah ancaman kesehatan yang nyata dan seringkali terabaikan. Dengan memahami dampaknya dan mengambil langkah pencegahan, masyarakat Surabaya dapat berkontribusi pada penciptaan lingkungan hidup yang lebih tenang dan sehat, baik bagi diri sendiri maupun generasi mendatang.
Penulis: Erwin











