Warga yang tinggal di tepi Sungai Mandar, Kelurahan Tinambung, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, kini hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Pasalnya, dalam sebulan terakhir, dua warga menjadi korban serangan buaya di sungai tersebut. Kejadian ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan masyarakat setempat dan mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan.
Serangan pertama menimpa Jaumil, seorang pemuda berusia 21 tahun. Saat itu, Jaumil sedang mandi di Sungai Mandar ketika tiba-tiba diserang oleh seekor buaya. Meskipun berhasil selamat, Jaumil mengalami luka-luka di kedua kakinya akibat sabetan ekor buaya. Peristiwa ini sontak membuat warga sekitar menjadi waspada dan lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai.
Tidak berselang lama, serangan serupa kembali terjadi. Kali ini, korbannya adalah Ismail, seorang pria berusia 52 tahun. Ismail diserang buaya saat sedang buang air besar di Sungai Mandar. Akibat serangan tersebut, Ismail mengalami luka gigitan di bagian punggung dan bokong. Beruntung, Ismail berhasil menyelamatkan diri dari terkaman buaya tersebut.
Dua insiden serangan buaya yang terjadi dalam waktu berdekatan ini membuat warga Tinambung semakin resah. Tokoh masyarakat Kelurahan Tinambung, Haedir, mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan konkret sebelum ada korban jiwa. Haedir menekankan bahwa banyak warga yang menggantungkan hidupnya pada Sungai Mandar, sehingga risiko serangan buaya selalu mengintai.
“Sudah dua warga yang diserang buaya dalam sebulan terakhir. Pemerintah harus bergerak cepat sebelum buaya kembali menyerang warga. Jangan sampai ada korban jiwa baru kita menyesal,” ujar Haedir dengan nada prihatin.
Haedir menduga bahwa buaya yang menyerang warga tersebut bukanlah buaya asli yang menghuni Sungai Mandar. Ia berpendapat bahwa buaya tersebut kemungkinan berasal dari tempat lain dan terbawa arus banjir ke Sungai Mandar. Menurutnya, buaya tersebut menyerang warga karena kesulitan mencari makan di habitat barunya.
Warga lainnya, Abdullah, juga menyampaikan harapan serupa. Ia meminta pihak terkait untuk segera turun tangan menangkap buaya yang meresahkan tersebut. Abdullah mengungkapkan bahwa serangan buaya mulai terjadi sejak buaya tersebut sering terlihat di Sungai Mandar. Ia meyakini bahwa buaya yang menyerang warga bukanlah penghuni asli Sungai Mandar.
“Ini sudah dua kali serangan semenjak selalu kelihatan, muncul. Buaya liar itu selalu terlihat apalagi kalau sudah menjelang sore, kalau buaya asli Sungai Mandar sangat jarang terlihat dan tidak menyerang seperti ini,” jelas Abdullah.
Menanggapi keresahan warga, Camat Tinambung, Rifai, menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk menangani masalah buaya yang semakin meresahkan warga di sekitar bantaran Sungai Mandar.
“Insya Allah kami akan berupaya bertemu dengan pihak berwenang untuk membicarakan masalah ini,” kata Rifai.
Rifai juga mengakui bahwa pihaknya telah mengeluarkan imbauan kepada warga untuk mengurangi aktivitas di Sungai Mandar, terutama pada malam hari. Ia menambahkan bahwa ada warga yang pernah mencoba menangkap buaya tersebut dengan menggunakan umpan, namun upaya tersebut belum berhasil.
Kemunculan buaya di Sungai Mandar ini semakin meresahkan warga karena sering terekam kamera dan menjadi viral di media sosial. Hal ini semakin meningkatkan kewaspadaan dan ketakutan di kalangan masyarakat setempat.
Untuk mengatasi permasalahan ini, beberapa langkah yang mungkin dapat diambil antara lain:
Penangkapan Buaya: Bekerja sama dengan BKSDA untuk melakukan penangkapan buaya yang meresahkan warga. Penangkapan harus dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Sosialisasi dan Edukasi: Memberikan sosialisasi dan edukasi kepada warga tentang perilaku buaya, cara menghindari serangan, dan langkah-langkah yang harus dilakukan jika bertemu dengan buaya.
Pemasangan Peringatan: Memasang papan peringatan di sekitar Sungai Mandar yang berisi informasi tentang bahaya buaya dan imbauan untuk berhati-hati saat beraktivitas di sungai.
Patroli Rutin: Melakukan patroli rutin di sekitar Sungai Mandar untuk memantau keberadaan buaya dan memberikan rasa aman kepada warga.
Penelitian Habitat: Melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab kemunculan buaya di Sungai Mandar dan mencari solusi jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan masalah buaya di Sungai Mandar dapat segera teratasi dan warga dapat kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat bekerja sama secara efektif untuk melindungi warga dari ancaman buaya dan menjaga kelestarian lingkungan.



















