Yayasan Sukma Manggarai Barat: Mengawal Pendidikan Katolik di Bumi Komodo
Sejak Juni 2020, Yayasan Sukma Manggarai Barat (Yasukmabar) telah menjadi garda terdepan dalam mengelola dan mengembangkan karya pendidikan Katolik di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Berdiri sebagai entitas independen yang sebelumnya berada di bawah naungan Yayasan Sukma Pusat Ruteng, Yasukmabar mengemban misi mulia untuk melanjutkan serta memajukan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Gereja Katolik, dengan semangat pelayanan, profesionalisme, dan keberpihakan yang kuat kepada masyarakat.
Ketua Yasukmabar, RD. Yohanes Fakundo Selman, S.Fil, M.Pd, atau yang akrab disapa Romo Ivan, menjelaskan bahwa yayasan ini kini membawahi sebuah jaringan yang sangat luas, terdiri dari 94 institusi pendidikan Katolik yang tersebar di berbagai penjuru Kabupaten Manggarai Barat. Keberadaan sekolah-sekolah ini mencakup wilayah perkotaan hingga daerah-daerah terpencil yang seringkali dihadapkan pada tantangan geografis yang signifikan.
Jaringan Luas Sekolah Katolik di Manggarai Barat
Rincian satuan pendidikan di bawah Yasukmabar menunjukkan dominasi pendidikan dasar sebagai fondasi utama pelayanan gereja di wilayah tersebut:
- 82 Sekolah Dasar Katolik (SDK): Tersebar di 26 paroki di Keuskupan Labuan Bajo, sekolah-sekolah ini menjadi tulang punggung akses pendidikan dasar bagi anak-anak di Manggarai Barat.
- 7 Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK): Memberikan jenjang pendidikan lanjutan setelah tingkat dasar.
- 3 Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK): Menawarkan pilihan pendidikan menengah atas bagi para siswa.
- 1 SMAK Seminari: Menyiapkan calon-calon imam atau tenaga pastoral Gereja Katolik.
- 1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Katolik: Fokus pada pengembangan keterampilan vokasional sesuai kebutuhan industri.
Distribusi yang merata ini menegaskan komitmen Yasukmabar untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang lokasi geografis mereka, memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan Katolik yang berkualitas.
Model Pengelolaan yang Beragam
Dalam operasionalnya, Yasukmabar menerapkan dua model pengelolaan utama untuk 94 sekolah yang berada di bawah naungannya:
- Pengelolaan Penuh: Terdapat lima sekolah yang dikelola secara langsung dan penuh oleh Yasukmabar. Dalam model ini, yayasan bertanggung jawab atas seluruh aspek, mulai dari keuangan, operasional harian, hingga administrasi kelembagaan. Fungsi manajerial, termasuk pengelolaan sumber daya manusia, perencanaan anggaran yang matang, pengawasan mutu secara berkala, dan pengembangan program pendidikan inovatif, dijalankan secara terpusat oleh yayasan.
- Kemitraan Kelembagaan: Sebanyak 89 sekolah lainnya beroperasi dalam kerangka kemitraan kelembagaan. Dalam skema ini, Yasukmabar bertindak sebagai payung hukum dan otoritas administratif utama. Peran krusial yayasan meliputi penerbitan Surat Keputusan (SK) bagi para guru dan tenaga kependidikan yang berstatus non-ASN, memberikan landasan hukum yang kuat bagi para pendidik ini.
Tantangan Ganda: Luas Jaringan dan Keseimbangan Ekonomi
Mengelola jaringan sekolah yang begitu luas dan tersebar di berbagai wilayah dengan karakteristik dan tingkat perkembangan yang berbeda-beda menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Yasukmabar. Sistem tata kelola yang kuat dan adaptif mutlak diperlukan agar setiap sekolah dapat beroperasi sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan.
Selain itu, Yasukmabar juga dihadapkan pada dilema krusial untuk menjaga keseimbangan antara upaya peningkatan kualitas pendidikan dan kemampuan ekonomi para peserta didik. Mayoritas sekolah di bawah naungan yayasan melayani masyarakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Oleh karena itu, setiap inisiatif untuk meningkatkan mutu pendidikan haruslah dilakukan dengan bijaksana, tanpa menimbulkan beban finansial yang berlebihan bagi orang tua siswa.
“Kami dituntut untuk terus menerus mencari berbagai strategi pembiayaan yang berkelanjutan,” ujar Romo Ivan. “Tujuannya adalah agar mutu pendidikan dapat terus meningkat, namun di sisi lain, akses masyarakat terhadap pendidikan Katolik yang berkualitas tidak boleh tergerus.”
Prioritas Kesejahteraan Guru: Aset Utama Pendidikan
Yasukmabar sangat memahami bahwa kesejahteraan guru merupakan salah satu pilar fundamental dalam penyelenggaraan pendidikan swasta yang bermutu. Kondisi kesejahteraan para guru di bawah Yasukmabar menunjukkan variasi yang cukup signifikan. Sebagian guru telah berhasil memperoleh sertifikasi dan berbagai tunjangan dari pemerintah, yang tentu saja meningkatkan taraf hidup mereka. Namun, masih ada pula guru yang penghasilannya sangat bergantung pada kemampuan finansial sekolah tempat mereka mengabdi, terutama bagi sekolah-sekolah yang berada di daerah dengan daya dukung ekonomi yang terbatas.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi yayasan dalam upaya memastikan standar kesejahteraan yang layak bagi seluruh pendidiknya. Meskipun demikian, Yasukmabar berkomitmen untuk terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru secara bertahap, seiring dengan peningkatan kapasitas dan kemampuan lembaga.
“Bagi kami, guru adalah aset utama dalam setiap penyelenggaraan pendidikan,” tegas Romo Ivan. “Oleh karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan mereka, pengembangan kompetensi profesional, perlindungan sosial, dan kepastian karier akan terus menjadi agenda prioritas dalam setiap pembenahan yang kami lakukan.”
Kesejahteraan guru tidak dapat diartikan semata-mata sebagai peningkatan nominal gaji. Yasukmabar memandang kesejahteraan secara holistik, mencakup kepastian kerja, jaminan perlindungan sosial, kesempatan pengembangan diri dan peningkatan kompetensi, penghargaan profesional yang layak, serta keberlanjutan lembaga yang menaungi mereka. Upaya pembenahan tata kelola yang sedang gencar dilakukan oleh Yasukmabar diharapkan dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk mewujudkan visi kesejahteraan guru yang komprehensif di masa mendatang.



















