Dua Kakak Beradik Abdi Negara Gugur dalam Kecelakaan Maut di Minahasa Selatan
Peristiwa tragis mengguncang Sulawesi Utara pada Sabtu (14/3/2026) pagi, merenggut nyawa dua kakak beradik yang mengabdikan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Fanni Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki harus mengakhiri hidup mereka dalam sebuah kecelakaan mobil yang terjadi di Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, sekitar pukul 06.30 Wita. Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta rekan kerja kedua almarhumah.
Dedikasi dan Kenangan dari Dua Sosok Abdi Negara
Kecelakaan maut ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga memadamkan dua cahaya dedikasi di dunia pendidikan dan pelayanan publik.
-
Yessi Sukersi Mustaki: Guru Bahasa Inggris yang Sabar dan Rendah Hati
Yessi Sukersi Mustaki, berusia 41 tahun, adalah seorang guru Bahasa Inggris yang mengajar di SMA Negeri 5 Gorontalo. Di kalangan murid dan rekan sejawat, Yessi dikenal memiliki kesabaran luar biasa. Ia tak pernah menunjukkan kekecewaan atau kemarahan kepada siswa yang kesulitan memahami pelajaran. Sebaliknya, Yessi selalu siap mengulang materi dari awal demi memastikan setiap muridnya benar-benar paham.
“Beliau sangat welcome saat mengajar dan sangat humble juga,” ujar Widiastuti, salah seorang mantan siswa Yessi, mengenang sosok gurunya dengan penuh rasa hormat. Sifat ramah dan rendah hatinya meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya. -
Fanni Anelsia Mustaki: Sosok Humas Intelijen yang Ceria dan Hangat
Adik Yessi, Fanni Anelsia Mustaki, mengabdikan diri sebagai Pranata Humas di bidang Intelijen pada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo. Kepergiannya secara mendadak dalam kecelakaan tragis ini menimbulkan keterkejutan dan kesedihan yang mendalam bagi rekan-rekan kerjanya.
Yursin Djafar, salah seorang rekan kerja Fanni, mengungkapkan bahwa almarhumah bukan sekadar teman sekantor, melainkan sosok yang sangat ramah, mudah bergaul, dan selalu mampu menciptakan suasana hangat di lingkungan kerja. Yursin mengaku sangat kehilangan pribadi Fanni yang ceria. Ia mengenang percakapannya dengan Fanni pada hari Jumat sebelum kejadian, di mana almarhumah masih beraktivitas seperti biasa dan menyapa rekan-rekannya. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi.
“Hari Jumat itu dia masih sama-sama dengan saya, dengan teman-teman juga,” tutur Yursin dengan nada sedih. Fanni bahkan sempat menyampaikan rencananya untuk melakukan perjalanan ke Sulawesi Utara, menuju Manado. Kabar kecelakaan yang merenggut nyawa Fanni membuat rekan-rekannya di Kejati Gorontalo sangat terkejut, mengingat sehari sebelumnya mereka masih sempat bercanda dan berbincang santai. Yursin menggambarkan Fanni sebagai pribadi yang sangat humble dan riang, yang selalu hadir di ruangan mereka setiap pagi.
Kronologi Mencekam di Jalur Trans Sulawesi
Peristiwa nahas ini terjadi ketika kedua kakak beradik tersebut sedang melakukan perjalanan darat dari Gorontalo menuju Kota Manado, Sulawesi Utara. Mereka menumpang mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA, yang dikemudikan oleh Ismail Zees (47). Perjalanan ini sejatinya adalah momen kebersamaan untuk mengunjungi ibu mereka di Manado, mengisi waktu liburan.
Namun, takdir berkata lain. Di tengah perjalanan di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, mobil yang mereka tumpangi dilaporkan melaju dengan kecepatan tinggi. Pengemudi diduga kehilangan kendali, menyebabkan mobil berwarna hitam itu oleng, keluar dari badan jalan, dan menghantam sebuah pohon serta bangunan rumah makan di pinggir jalan. Benturan keras tersebut membuat kondisi kendaraan mengalami kerusakan parah.
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, insiden ini melibatkan empat orang. Fanni Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka-luka serius. Pengemudi mobil, Ismail Zees, mengalami luka berat dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Sementara itu, penumpang lain, Doni Tentero (45), dilaporkan mengalami luka ringan.
Kasat Lantas Polres Minsel, Iptu Engelina Yusuf, mengonfirmasi identitas kedua korban yang meninggal dunia sebagai PNS di Gorontalo. “Mereka berdua yang meninggal dunia,” tegasnya saat memberikan keterangan resmi.
Niat Mulia Berubah Menjadi Tragedi Keluarga
Perjalanan yang ditempuh oleh Fanni dan Yessi bukanlah dalam rangka tugas dinas, melainkan sebuah perjalanan keluarga yang dilandasi kerinduan untuk bertemu dengan sang ibu di Manado. Harapan untuk berkumpul dan merayakan waktu liburan bersama keluarga seketika sirna, digantikan oleh berita duka yang menghancurkan hati. Kepergian dua putri mereka sekaligus dalam satu peristiwa menjadi pukulan telak bagi keluarga besar Mustaki.

Korban Luka dan Proses Evakuasi Medis
Dalam kecelakaan tunggal yang terjadi, terdapat empat orang di dalam kendaraan. Selain Fanni dan Yessi yang meninggal dunia di lokasi kejadian, pengemudi Ismail Zees harus segera mendapatkan penanganan medis intensif di RSUD Teep Minsel akibat luka berat yang dideritanya. Penumpang lainnya, Doni Tentero, dilaporkan selamat dengan luka ringan.
Pihak Satlantas Polres Minsel segera bergerak cepat untuk melakukan evakuasi. Hingga kini, penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan adanya kendala teknis pada kendaraan atau kelalaian manusia yang berkontribusi pada tragedi ini.

Pesan Terakhir yang Mengharukan
Sebuah fakta menyedihkan terungkap mengenai komunikasi terakhir Fanni Anelsia Mustaki sebelum ajal menjemput. Apris Doda, seorang tetangga korban, menceritakan bahwa Fanni menunjukkan gelagat yang tidak biasa pada malam sebelum kecelakaan. Ia tiba-tiba menelepon pamannya, sesuatu yang jarang terjadi karena biasanya sang pamanlah yang lebih sering menghubungi Fanni untuk menanyakan kabar.
Dalam percakapan singkat tersebut, Fanni menitipkan pesan agar mobil pribadinya tidak dibawa ke bengkel untuk sementara waktu. “Selama ini jarang sekali dia telepon omnya. Biasanya omnya yang hubungi dia. Tapi tadi malam dia sendiri yang hubungi,” ujar Apris dengan nada pilu, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap Fanni yang berinisiatif menghubungi pamannya.
Pesan mengenai urusan kendaraan pribadi ini menjadi komunikasi verbal terakhir yang diterima pihak keluarga sebelum berita duka mengenai kecelakaan yang menimpa Fanni dan Yessi sampai ke telinga mereka pada Sabtu pagi, sekitar pukul 06.00 Wita. Padahal, berdasarkan estimasi waktu kejadian, kecelakaan hebat tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00 Wita dini hari. Jeda waktu yang cukup lama antara kejadian dan penerimaan informasi resmi ini menambah kepanikan keluarga saat itu. “Informasi baru keluarga dapat sekitar jam enam pagi. Itu pun masih belum jelas,” tutur Apris.

Penghormatan Terakhir dari Pimpinan Daerah
Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian kedua almarhumah sebagai PNS, Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan penghormatan terakhir secara resmi. Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, turut hadir langsung di rumah duka di Jalan Pangeran Hidayat untuk memimpin prosesi pelepasan jenazah. Wakil Gubernur Idah Syahidah juga hadir mendampingi, menunjukkan rasa kehilangan pemerintah daerah atas berpulangnya dua sosok yang telah berkontribusi bagi kemajuan Gorontalo.

Suasana Haru Pemakaman di Rumah Duka
Prosesi pemakaman yang berlangsung pada Minggu (15/3/2026) diwarnai isak tangis ratusan pelayat. Saking banyaknya jemaah yang hadir, salat jenazah terpaksa dilaksanakan di badan jalan di depan rumah duka. Adik laki-laki korban bertindak sebagai imam, dan suaranya yang tak kuasa menahan tangis saat melantunkan takbir menambah kesedihan suasana. Setelah seluruh rangkaian prosesi agama dan kedinasan selesai, kedua almarhumah dimakamkan berdampingan di area pemakaman keluarga yang terletak persis di samping rumah duka mereka di Kelurahan Wongkaditi Barat.

















