Trump Kembali Buka Pintu Dialog dengan Kim Jong Un di Tengah Program Nuklir Korut

Diposting pada

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kemampuan nuklir Korea Utara tidak perlu terlalu dikhawatirkan selama ia masih memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Kim Jong Un. Pernyataan itu ia sampaikan di Washington pada Selasa, 29 September 2026, sekaligus menandai perbedaan pendekatan Trump terhadap Pyongyang dibandingkan sikap keras Washington terhadap Iran. Dalam kesempatan tersebut, Trump juga menuding pemerintahan Joe Biden gagal menangani Korea Utara.

Trump menilai kedekatannya dengan Kim menjadi faktor penting yang dapat meredam risiko dari program senjata nuklir Korut. Ia bahkan menggambarkan dirinya sebagai satu-satunya tokoh dunia yang disukai pemimpin Korea Utara itu. “Dia tidak menyukai banyak orang lain. Saya adalah satu-satunya orang di seluruh dunia yang dia sukai, dan saya menyukainya. Selama saya ada, dia akan baik-baik saja. Anda tahu kenapa? Karena dia menghormati saya dan dia menyukai saya.” kata Trump, dikutip The Independent.

Di sisi lain, pendekatan Washington terhadap Iran tetap sangat berbeda. AS bersama Israel masih terlibat konflik bersenjata dengan Teheran yang telah berlangsung delapan bulan sejak 28 Februari 2026. Iran membantah sedang mengejar senjata nuklir dan merujuk pada kesepakatan 2015 yang membatasi program nuklirnya sebagai imbalan keringanan sanksi ekonomi. Namun, Trump menarik diri dari perjanjian itu pada 2018. Dalam perbandingan kekuatan, Trump menyebut stok senjata nuklir Korea Utara memang besar, meski masih di bawah persenjataan AS.

Soal jumlah hulu ledak, perkiraan yang beredar juga tidak seragam. Trump pernah menyebut angka 57, sementara Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back memperkirakan Korea Utara memiliki sekitar 80 hingga 120 hulu ledak nuklir. Al Jazeera melaporkan bahwa kapasitas persenjataan Pyongyang terus menjadi perhatian karena terus berkembang seiring program rudal jarak jauh yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Trump juga disebut tengah menyiapkan pertemuan baru dengan Kim sebelum akhir tahun ini. Sejumlah media Amerika yang mengutip sumber anonim melaporkan bahwa ia telah meminta ajudannya menyusun jadwal pertemuan, kemungkinan di sela kunjungannya ke China untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC. Langkah itu mengingatkan pada pertemuan bersejarah tahun 2018, ketika Trump menjadi presiden AS aktif pertama yang bertemu langsung dengan pemimpin Korea Utara. Namun, perundingan kemudian macet pada 2019 setelah Washington menuntut Pyongyang melucuti senjata nuklirnya.

Upaya membuka jalur dialog itu juga disertai kebijakan militer yang lebih lunak. Trump memangkas durasi latihan gabungan Ulchi Freedom Shield bersama Korea Selatan menjadi 11 hari. Penyesuaian itu dilakukan karena latihan dinilai dapat memicu ketegangan dengan Korea Utara sekaligus menambah beban anggaran AS. Meski begitu, Pyongyang tetap melanjutkan penguatan militer, termasuk melalui enam kali uji bom nuklir dan pengembangan rudal jarak jauh.

Di luar itu, Korea Utara juga mempererat kerja sama pertahanan dengan Rusia dan China. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut Pyongyang telah mengirim 8 ribu tentara untuk membantu Rusia dan menyiapkan 10 ribu personel tambahan. Respons dari lingkaran dekat Kim Jong Un pun tidak menunjukkan optimisme. Kim Yo Jong mengatakan Korea Utara tidak akan memberi jawaban positif atas langkah Washington. “Jika Amerika melihatnya sebagai semacam tindakan niat baik, mereka tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka inginkan,” katanya. Ia juga menyatakan tidak mengetahui adanya komunikasi langsung antara Trump dan Kim, meski mengakui Kim masih menyimpan kesan baik terhadap Trump.

Sumber: www.idntimes.com

Tinggalkan Balasan