Udara Tangerang Memburuk: Bahaya Mengintai Ibu Hamil & Anak

Diposting pada

Tangerang, Banten, menghadapi tantangan signifikan terkait kualitas udara pada pagi hari ini, menempatkannya sebagai wilayah dengan udara paling tidak sehat di Indonesia. Berdasarkan pantauan terkini pada pukul 07.20 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Tangerang mencapai angka 148, yang dikategorikan sebagai tidak sehat, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif.

Meskipun demikian, kualitas udara di Tangerang masih dianggap relatif aman untuk sebagian besar masyarakat umum. Namun, bagi individu yang termasuk dalam kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis pada sistem pernapasan dan jantung, kondisi udara ini menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar. Para ahli menyarankan agar kelompok ini meminimalkan atau bahkan menghindari seluruh aktivitas di luar ruangan untuk melindungi diri dari paparan polutan.

Selain Tangerang, beberapa wilayah lain di Indonesia juga menunjukkan kualitas udara yang memprihatinkan. Berikut adalah daftar kota dengan kualitas udara terburuk berdasarkan pantauan tersebut:

  • Tangerang, Banten: Mencapai AQI 148, masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
  • Surabaya, Jawa Timur: Tercatat dengan AQI 144, juga dikategorikan tidak sehat bagi kelompok sensitif.
  • Pontianak, Kalimantan Barat: Memiliki AQI 110, yang berarti tidak sehat bagi kelompok sensitif.
  • Bandung, Jawa Barat: Mengalami AQI 107, masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
  • Tangerang Selatan, Banten: Mencatat AQI 107, serupa dengan Bandung, berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Di sisi lain, kabar baik datang dari beberapa kota yang berhasil mempertahankan kualitas udara yang lebih baik. Kota Pekanbaru, Riau, mencatatkan kualitas udara paling sehat dengan AQI 54, yang masih tergolong dalam kategori sedang. Diikuti oleh Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dengan AQI 62, dan Jakarta dengan AQI 88. Ketiga kota ini menunjukkan bahwa upaya menjaga kualitas udara dapat membuahkan hasil yang positif.

Kualitas Udara Global: Perbandingan dan Peringatan

Menilik kondisi global, kualitas udara terbaik terpantau di Tehran, Iran, dengan skor AQI yang sangat rendah, yaitu 6. Angka ini menunjukkan kualitas udara yang sangat baik. Di posisi selanjutnya adalah kota-kota di Australia, yaitu Melbourne dengan AQI 8 dan Sydney dengan AQI 11. Kualitas udara di ketiga kota metropolitan ini secara keseluruhan tergolong baik dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat.

Namun, kontras dengan kondisi tersebut, beberapa kota besar di dunia justru berjuang menghadapi masalah polusi udara yang parah. Daftar kota dengan kualitas udara terburuk di tingkat global meliputi:

  • Santiago, Chili: Mencapai AQI 158, menempatkannya dalam kategori tidak sehat secara umum.
  • Kinshasa, Republik Demokratik Kongo: Dengan AQI 152, juga dikategorikan sebagai kota dengan udara tidak sehat.
  • Wuhan, Cina: Mencatat AQI 137, yang mengindikasikan kondisi udara tidak sehat bagi kelompok sensitif.
  • Kathmandu, Nepal: Memiliki AQI 117, juga masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
  • Delhi, India: Tercatat dengan AQI 115, yang berarti tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Memahami Indeks Kualitas Udara (AQI)

Indeks Kualitas Udara (AQI) adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mengukur dan mengkomunikasikan tingkat polusi udara. Indeks ini dirancang untuk memberikan gambaran yang jelas tentang seberapa sehat udara yang kita hirup, serta potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia. Perhitungan AQI umumnya mempertimbangkan konsentrasi dari enam polutan udara utama yang paling berbahaya, yaitu:

  • Partikulat halus (PM2.5)
  • Partikulat kasar (PM10)
  • Karbon monoksida (CO)
  • Sulfur dioksida (SO2)
  • Nitrogen dioksida (NO2)
  • Ozon permukaan tanah (O3)

Penentuan nilai AQI keseluruhan pada suatu waktu tertentu didasarkan pada polutan yang memiliki tingkat risiko tertinggi dan menghasilkan angka AQI paling tinggi di antara keenam polutan tersebut. Rentang nilai AQI berkisar dari 0 hingga 500, yang kemudian dibagi menjadi enam kategori berbeda, masing-masing dengan implikasi kesehatan yang spesifik:

  1. Baik: Rentang skor AQI 0-50. Kualitas udara pada kategori ini dianggap aman dan sehat untuk semua orang.
  2. Sedang: Rentang skor AQI 51-100. Udara pada kategori ini umumnya dapat diterima, namun individu yang sangat sensitif terhadap polusi mungkin masih merasakan beberapa efek.
  3. Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif: Rentang skor AQI 101-150. Pada tingkat ini, kelompok sensitif (seperti yang disebutkan sebelumnya) berisiko mengalami dampak kesehatan yang lebih serius. Masyarakat umum mungkin belum merasakan efek yang signifikan.
  4. Tidak Sehat: Rentang skor AQI 151-200. Kualitas udara pada kategori ini dapat berdampak negatif pada kesehatan seluruh populasi, tidak hanya kelompok sensitif.
  5. Sangat Tidak Sehat: Rentang skor AQI 200-299. Paparan udara pada tingkat ini dapat menyebabkan efek kesehatan yang lebih parah dan luas pada berbagai segmen populasi.
  6. Berbahaya: Rentang skor AQI 300-500. Kualitas udara pada kategori ini sangat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan masalah kesehatan serius yang meluas pada seluruh populasi manusia.

Memahami AQI dan dampaknya sangat penting untuk mengambil langkah pencegahan yang tepat, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi tinggi atau bagi individu yang termasuk dalam kelompok rentan.

Gambar Gravatar
Luna merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan