UGM Saksikan Api Muncul Mendadak di Seyegan: Momen Luar Biasa

Diposting pada

Fenomena Api Misterius Gemparkan Sleman: Dugaan Gas Metana dan Pemicu Penyalaan Spontan

Sebuah fenomena alam yang tak biasa menggemparkan warga di Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Api misterius dilaporkan muncul berulang kali di kediaman Agus Yani, warga Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo. Kejadian ini telah berlangsung selama kurang lebih sepuluh hari terakhir, bahkan tercatat telah terjadi sekitar 70 kali, menciptakan suasana mencekam dan membuat keluarga Agus tidak bisa beristirahat dengan tenang di rumah berlantai dua mereka.

Menyikapi kejadian yang meresahkan ini, sejumlah tim ahli dari berbagai institusi terkemuka dikerahkan untuk melakukan investigasi mendalam. Tim tersebut terdiri dari para pakar dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi Universitas Pembangunan Nasional (FTME UPN) Yogyakarta, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, serta Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM). Mereka berada di lokasi pada Senin, (1/6/2026) untuk melakukan riset lanjutan guna mengungkap penyebab pasti fenomena api misterius ini.

Observasi Langsung dan Pengukuran Parameter Gas

Tim peneliti dari UGM berkesempatan melakukan observasi langsung di rumah Agus Yani. Momen langka ini terjadi ketika tim berada di ruang depan rumah setelah selesai mengambil sampel. Tiba-tiba, api muncul dan membakar sebuah kaus yang tergeletak di dalam kamar di ruang tengah. Kejadian ini memberikan peluang berharga bagi tim UGM untuk mengukur parameter gas yang diduga menjadi pemicu kebakaran.

Ketua Tim Peneliti UGM, Prof. Ir. Alva Edy Tantowi, menjelaskan bahwa saat api muncul, timnya berhasil memantau kenaikan suhu yang terus-menerus. Bersamaan dengan itu, terdeteksi pula peningkatan konsentrasi gas hidrogen (H2). “Api mulai menyala pada skala 11-12,” ungkap Prof. Alva. Ia menambahkan bahwa konsentrasi gas yang tinggi tampaknya terpusat di ruangan tengah rumah Agus.

Fenomena api yang muncul secara tiba-tiba tanpa adanya sumber pemicu eksternal ini diidentifikasi sebagai auto-ignition atau spontaneous ignition (penyalaan spontan). Fenomena ini terjadi ketika unsur-unsur dalam “segitiga api” – yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas – mencapai kondisi optimal pada posisi stoikiometri.

Namun, Prof. Alva menekankan bahwa data lapangan yang diperoleh saat ini masih bersifat dugaan awal. Seluruh sampel yang dikumpulkan dari rumah Agus, termasuk sisa-sisa barang yang terbakar dan air di sekitar lokasi, akan dibawa ke laboratorium untuk pengujian lebih lanjut. Sifat dinamis gas menjadi alasan mengapa titik api seringkali berpindah-pindah di dalam rumah. “Gas itu bisa berkonsentrasi di sana, memenuhi syarat (segitiga api), maka menyala. Nanti pindah lagi, memenuhi syarat, menyala lagi,” jelas Prof. Alva.

Dugaan Bekas Rawa dan Peran Gas Metana

Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi, mengemukakan dugaan bahwa lokasi rumah Agus Yani dulunya merupakan bekas rawa. “Penyebab kemunculan api di rumah Agus adalah gas metana,” ujar Sarju. Ia menjelaskan bahwa gas metana memiliki sifat mengambang di udara, sehingga tidak menyebar secara horizontal ke rumah-rumah tetangga. “Dia (gas metana) tidak secara lateral, secara horizontal akan bergerak ke sana (horizontal) tidak. Kecuali terbawa angin. Tapi biasanya kalau sudah di luar, dia bercampur udara luar, kadarnya sudah sangat menurun, jadi relatif aman,” tambahnya.

Temuan lain datang dari Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN Yogyakarta, Basuki Rahmad. Hasil investigasinya menemukan singkapan batuan lanau (siltstone) berwarna gelap berjarak sekitar 300 meter dari kediaman Agus. Batuan lanau ini merupakan batuan sedimen klastik yang terbentuk dari material lepas berukuran debu. Lebih lanjut, ditemukan pula gelembung-gelembung yang diduga kuat merupakan gas metana. Temuan siltstone ini semakin memperkuat indikasi bahwa wilayah tersebut dulunya merupakan area rawa.

Basuki Rahmad mendorong dilakukannya perekaman geofisika untuk memetakan kondisi bawah permukaan tanah. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa besar reservoir gas yang ada, luasannya, serta ketebalan tanah. Upaya ini juga dianggap sebagai langkah mitigasi penting untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan. “Kalau kemungkinan (terjadi di wilayah yang sama), itu serba kemungkinan. Cuma kita tidak tahu kapan. Jadi gas itu ters bermigrasi. Maka saran kami kalau memang harus lebih rindi dilakukan rekaman geofisika,” tuturnya.

Gambar Gravatar
Luna merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan