Veri AFI Ungkap 4 Pelajaran Hidup dari Bullying, Anxiety, dan Jauh dari Sorotan

Diposting pada

Veri Afandi, yang dikenal publik sebagai Veri AFI, membagikan empat pelajaran hidup dari perjalanan panjangnya setelah memenangkan ajang Akademi Fantasi Indosiar. Dalam obrolan di kanal YouTube Hati ke Hati, ia bercerita tentang masa sekolah yang dipenuhi perundungan, tekanan mental yang menahun, hingga keputusan untuk tidak terus berada di pusat perhatian. Pengalaman-pengalaman itu, menurut Veri, membentuk cara pandangnya dalam menjalani hidup dan bekerja di luar dunia hiburan.

Sejak duduk di bangku SMP, Veri mengaku sudah kerap menerima ejekan, termasuk hinaan soal kondisi ekonomi keluarganya. Ia menuturkan, salah satu dorongan awalnya mengikuti AFI adalah keinginan meninggalkan kota kelahiran yang menyimpan banyak kenangan buruk. Baginya, tempat lama justru erat dengan trauma, terutama karena bullying yang dialami sejak remaja. Namun, impian untuk hidup di kota baru justru membawa konsekuensi tak terduga: ia dikenal banyak orang, meski sebelumnya berharap berada di lingkungan yang benar-benar asing.

Pelajaran kedua yang ia tekankan adalah soal popularitas. Setelah menjadi juara AFI, Veri sebenarnya punya peluang untuk melanjutkan karier di industri hiburan, termasuk tawaran rekaman album. Ia memilih tidak mengambil jalan itu sepenuhnya. Alasannya sederhana: ia menyukai seni, tetapi tidak nyaman menjadi pusat sorotan. Veri menjelaskan bahwa ia senang bernyanyi, akting, dan teater, tetapi bukan perhatian publik yang mengikuti ketenaran. Karena itu, ia mencoba berbagai aktivitas lain, mulai dari mengajar preschool, bekerja di kantor, hingga menjalani pekerjaan di luar entertainment.

Di sisi lain, Veri juga membuka pengalaman pribadinya terkait kesehatan mental. Ia mengaku telah lama hidup dengan anxiety, namun baru mencari pertolongan setelah bertahun-tahun memilih diam. Sekitar tiga tahun sebelum wawancara itu, kondisinya disebut memburuk hingga memengaruhi fisik dan nafsu makan. Bahkan, ia mengaku sempat tidak bisa makan sama sekali selama tiga bulan. Menurut penuturannya, dokter kemudian menyatakan bahwa ia mengalami gangguan kecemasan.

Kondisi fisik Veri juga ikut terdampak. Ia menyebut mengalami dehidrasi berat yang berujung pada masalah di mata. Berdasarkan penjelasan dokter mata, kekurangan cairan dalam tubuh dapat membuat retina bermasalah, dan pada kasusnya retina mata kiri disebut mengalami sobek dan lepas. Dari pengalaman itu, Veri menegaskan pentingnya tidak memendam beban sendirian, terutama bagi orang-orang yang juga berjuang dengan anxiety. Ia meminta mereka berani berbagi dengan orang terdekat agar tidak menanggung semuanya sendiri.

Pelajaran keempat yang ia ambil berkaitan dengan cara menyikapi masa lalu. Veri pernah menghadapi persoalan dengan orang dekat yang ikut berdampak pada pertemanan dan pekerjaan. Pada 2018, ia mengaku sempat dituding oleh seseorang yang memiliki perasaan kepadanya. Setelah keinginannya tidak dipenuhi, muncul tudingan yang membuat sejumlah teman dan klien menjauh. Sejak itu ia lebih menjaga privasi dengan mengunci media sosial. Meski begitu, ia tidak berhenti berkarya. Kini Veri menyiapkan novel berbasis kisah nyata, proyek musik bersama Gita Permata, serta mini album bersama Juna. Baginya, pengalaman pahit bukan alasan untuk berhenti, melainkan bekal untuk melangkah lebih hati-hati.

Sumber: style.tribunnews.com

Tinggalkan Balasan