🔥 TERKINI

Korea Utara Pamer Drone Serang dan Roket 600mm di Depan Kim Jong Un

Redaksi Oleh: Redaksi
29 dilihat
Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:55 WIB • Waktu baca: 3 menit
Iklan Atas Artikel (Before Content)

Pada 29 Oktober 2026, Korea Utara menampilkan demonstrasi militer yang menonjolkan kemampuan pesawat nirawak serang, rudal jelajah, dan sistem peluncur roket berkaliber 600 milimeter di hadapan pemimpin Kim Jong Un. Acara yang digelar di bawah tajuk Unmanned Aeronautical Technology Development-2026 itu memperlihatkan uji senjata dan manuver peluncuran di lokasi yang sama dengan rangkaian tembakan menuju Laut Timur, sementara Kim mendesak percepatan penguasaan teknologi drone dan kecerdasan buatan untuk mempertahankan keunggulan perang.

Negara itu juga meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek yang menurut militer Korea Selatan berasal dari kawasan Wonsan dan menempuh jarak kurang lebih 250 kilometer ke Laut Timur (Laut Jepang). Laporan Korean Central News Agency (KCNA) pada 30 Oktober 2026 menyebut pameran itu menampilkan beragam platform nirawak untuk tujuan pengintaian, operasi taktis, serta serangan terhadap sasaran militer.

Dalam demonstrasi, KCNA memaparkan beberapa tipe drone: ada yang sekali pakai untuk serangan, drone multiguna yang dipasangi rudal udara-ke-permukaan, serta wahana yang meluncurkan rudal jelajah. Media pemerintah mengklaim semua target taruhannya mengenai sasaran dengan akurasi 100 persen, dan foto-foto resmi memperlihatkan ledakan pada replika kendaraan militer hingga menimpa sasaran tiruan seperti kendaraan lapis baja, tank M1 Abrams, pos militer, dan sistem radar.

Namun klaim-klaim dari KCNA belum bisa dikonfirmasi secara independen. Analis internasional mengingatkan bahwa uji menembak terhadap sasaran yang telah dipersiapkan berbeda dengan kemampuan operasional di medan tempur sesungguhnya, di mana gangguan elektronik, pertahanan udara, dan sasaran bergerak dapat mengubah dinamika pertarungan. Reuters mencatat bahwa pameran ini mencerminkan pergeseran fokus Pyongyang menuju integrasi drone, AI, dan serangan jarak jauh—sebuah pola yang dipengaruhi oleh pengalaman konflik kontemporer seperti Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah.

Salah satu sorotan utama adalah sistem peluncur roket ganda berkaliber 600 mm yang diperkenalkan dengan nama Sniper. Foto yang dirilis KCNA menunjukkan lebih dari 10 peluncur serentak menembakkan proyektil besar tersebut. Lembaga intelijen Janes mengaitkan sistem ini dengan keluarga senjata KN-25, sedangkan pejabat militer Korea Selatan mengatakan peluncuran rudal dari kawasan Wonsan kemungkinan melibatkan KN-25 atau kombinasi beberapa sistem. Pyongyang sebelumnya pernah mengklaim roket 600 mm dapat dipasangi hulu ledak nuklir taktis Hwasan-31, tetapi pernyataan tersebut belum dibuktikan melalui bukti terbuka.

Di hadapan para perwira dan ilmuwan militer, Kim Jong Un menekankan urgensi teknologi ini, dengan mengatakan, “Kekuatan berarti perdamaian, dan perdamaian hanya dapat dijamin oleh kekuatan.” Pameran ini dipandang oleh pengamat sebagai upaya Pyongyang memamerkan kemampuan menargetkan aset militer Korea Selatan dan Amerika Serikat, sekaligus sinyal terhadap kebutuhan modernisasi persenjataan yang semakin mengandalkan otomasi dan kecerdasan buatan. Implikasi jangka pendeknya adalah meningkatnya ketegangan regional dan tantangan baru bagi sistem pertahanan yang harus menanggulangi ancaman nirawak dan roket berkaliber besar.

Penulis: Redaksi

Tinggalkan Tanggapan

Indeks Berita →