Analisis Channel News Asia (CNA) menemukan hampir 400 unggahan yang menyebarkan klaim palsu tentang keterlibatan Singapura dalam peristiwa politik dan ekonomi Indonesia, tersebar di berbagai platform antara 19–27 Oktober. Kampanye daring itu — yang menuduh campur tangan asing dalam anjloknya pasar saham dan bahkan mengaitkan tokoh Indonesia dengan pihak Singapura — dilihat hampir 12 juta kali, dengan separuh penayangan berasal dari hanya 10 unggahan.
Salah satu unggahan viral di Instagram, dipublikasikan Jumat malam oleh akun meme satir berpengikut lebih dari 710 ribu, mengklaim bahwa Duta Besar Singapura untuk Jakarta menerima dua tokoh Indonesia di kediamannya. Postingan tersebut menyebut nama mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal dan akademisi Saiful Mujani, serta memakai istilah peyoratif Jawa bermuatan kolonial untuk merujuk pada orang yang dianggap melayani kepentingan asing. Kedua tokoh membantah klaim itu sepenuhnya, sementara Kedutaan Besar Singapura menolak narasi tersebut sebagai “disinformation”.
CNA Verify mengidentifikasi pola yang menunjukkan adanya unsur koordinasi: sejumlah akun yang menyebarkan tuduhan dibuat pada hari yang sama, mengunggah teks dan gambar serupa, dan menerbitkan konten pada waktu hampir bersamaan. Penelusuran awal memakai alat berbasis kecerdasan buatan dan kemudian ditelaah secara manual. Meski demikian, tim CNA menyatakan belum dapat memastikan ada satu operator tunggal di balik semua aktivitas itu. Menurut Muhammad Faizal bin Abdul Rahman dari S. Rajaratnam School of International Studies, ruang digital Indonesia dipenuhi figur yang disebut “buzzer”; sebagian aktivitas bisa dikoordinasikan oleh aktor politik, sebagian lagi muncul organik dari akar rumput.
Jejak narasi palsu ini berakar pada peristiwa ekonomi dan politik setempat. Pada 15 Oktober, penyedia indeks MSCI menyatakan sedang mempertimbangkan penyesuaian status pasar Indonesia, yang kemudian memicu kekhawatiran terhadap penurunan harga saham. Empat hari kemudian, mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengunggah video yang menuduh—tanpa bukti—investor negara Singapura GIC dan Temasek memengaruhi MSCI; kedua perusahaan membantah tuduhan tersebut. Selanjutnya, pernyataan pejabat energi Indonesia pada 22 Oktober soal kemungkinan penghentian ekspor ke negara yang tidak menghormati Indonesia dan langkah pengurangan ekspor gas pada 24 Oktober menambah bahan bakar bagi teori konspirasi.
Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority) mengonfirmasi pengurangan pasokan gas ke Singapura mencakup kurang dari 2 persen dari permintaan harian. Meski demikian, sejumlah akun daring segera mengaitkan pemangkasan pasokan itu dengan klaim Lutfi tentang MSCI. Akun bernama ‘Indonesia 2045’ mengunggah narasi penghentian ekspor gas, yang dalam hitungan jam disalin oleh setidaknya enam akun TikTok — salah satunya mengumpulkan hampir 360 ribu penayangan. Keesokan paginya, belasan unggahan di TikTok dan X mengusung slogan “Pelanggaran Hukum MSCI, Stop Ekspor Gas”, dengan sembilan akun menggunakan gambar yang sama dan tambahan frasa provokatif seperti “jika Singapura berani berulah”.
Temuan CNA Verify memperlihatkan betapa cepatnya disinformasi dapat menyebar dan beresonansi, terutama saat dipadukan dengan isu nasionalisme dan ketidakpastian ekonomi. Meski pola koordinasi kuat, sumber asal dan aktor yang menggerakkan gelombang tersebut masih belum jelas, sehingga pengawasan dan klarifikasi faktual terus diperlukan agar narasi palsu tidak semakin memperuncing ketegangan regional.
Penulis: Redaksi


