Viral bayi meninggal di RSUD Jayapura, pertumbuhan penduduk Papua tak diimbangi fasilitas kesehatan

Diposting pada

Ringkasan Berita:

  • Menurutnya, sebagian besar pasien yang dirujuk ke RSUD Dok II, termasuk ibu hamil, datang dalam kondisi yang sudah berat dan memerlukan penanganan intensif, seperti perawatan di ICU.

 

Laporan Wartawan Tribun Papua.com,Taniya Sembiring 

TRIBUNPAPUA.COM,JAYAPURA – Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, Andreas Pekeymengklarifikasi kondisi serta tantangan yang dihadapi pihaknya, pasca-virlanya kasus kematian seorang balita di rumah sakit dipimpinnya.

Beberapa hari lalu, seorang balita meninggal dunia di RSUD Jayapura, hingga ramai dibahas di media sosial.

Andreas mengatakan pihaknya telah menyediakan media pengaduan resmi termasuk nomor kontak langsung direktur

sebagai saluran komunikasi bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan atau masukan secara langsung.

Menurutnya, sebagian besar pasien yang dirujuk ke RSUD Dok II, termasuk ibu hamil, datang dalam kondisi yang sudah berat dan memerlukan penanganan intensif, seperti perawatan di ICU.

Namun, keterbatasan fasilitas, terutama jumlah tempat tidur di ICU dewasa maupun NICU (Neonatal Intensive Care Unit), menjadi tantangan besar. 

“Jadi, meskipun pasien telah memiliki jaminan kesehatan atau biaya ditanggung pemerintah, keterbatasan alat medis dan kapasitas ruang perawatan masih menjadi faktor penyebab terjadinya kasus kematian,” ujarnya saat ditemui di Jayapura, Jumat (9/1/2026).

Pekey mengaku pihaknya telah mengidentifikasi berbagai permasalahan tersebut.

Kini, manajemen RSUD Jayapura tengah merancang pembangunan gedung baru guna meningkatkan kapasitas layanan.

Pekey juga menyoroti pertumbuhan penduduk di Jayapura yang pesat tidak diimbangi dengan peningkatan infrastruktur kesehatan.

Karena itu, pengembangan fasilitas kesehatan menjadi kebutuhan mendesak.

“RSUD Dok II Jayapura berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat, ujarnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung upaya perbaikan ini dan memanfaatkan saluran resmi dalam menyampaikan aspirasi.

Sekadar diketahui, bayi bernama Natania dilaporkan meninggal dunia karena diduga terjadi kelalaian pelayanan RSUD Jayapura.

Meninggalnya bayi tersebut diunggah oleh sang ibu di media sosial dan menjadi viral.

Dalam unggahan itu, sang ibu juga mengaku kesal karena mereka dipanggil oleh pihak dokter dan diminta bersabar sambil menunggu pihak rumah sakit menghitung biaya pengobatan selama dua hari dirawat di IGD.

“Yang membuat kami kesal adalah, kami dipanggil oleh dokter dan kami diminta untuk bersabar karena mereka sedang mengkalkulasikan biaya pengobatan.”

“Kami keluarga seakan mau ribut, namun kami teringat kembali akan gadis kecil yang sudah terbaring kaku maka kami menahan emosi,” katanya. 

Setelah menyelesaikan administrasi, sang ibu dan keluarga segera menggendong sang anak dan pulang menggunakan Maxim.

“Sungguh sakit dan kami sangat kecewa dangn pelayanan rumah sakit,” ujarnya. (*)

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan