Tragedi Berulang di Puncak: Pengendara Terseret Arus Banjir, Warga Soroti Drainase Rusak
Insiden tragis pengendara sepeda motor yang tewas terseret arus banjir di jalur Puncak, Cianjur, Jawa Barat, bukanlah kali pertama terjadi. Warga setempat mengaku telah menyaksikan beberapa kejadian serupa dalam beberapa tahun terakhir, menyoroti kerentanan infrastruktur jalan di wilayah tersebut.
Anwar (58), seorang warga Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, menceritakan betapa miripnya kejadian yang baru saja merenggut nyawa pasangan suami istri pemudik asal Bandung dengan insiden-insiden sebelumnya. “Kejadiannya sama, korban terjatuh dan terseret arus banjir hingga masuk ke saluran irigasi ini dan hilang di sungai,” ujarnya pilu di lokasi kejadian.
Sejarah Kelam: Kejadian Serupa yang Terus Berulang
Menurut penuturan Anwar, setidaknya tiga kejadian serupa telah memakan korban di ruas jalan yang sama dalam beberapa tahun terakhir. Ia merinci, sebelum insiden terbaru, tiga orang lainnya juga pernah terseret arus banjir saat mengendarai sepeda motor. “Waktu itu, satu orang berhasil diselamatkan, namun dua orang lainnya hilang dan beberapa hari kemudian ditemukan meninggal di aliran sungai,” ungkapnya.
Kecelakaan semacam ini umumnya terjadi ketika hujan lebat mengguyur kawasan Puncak, menyebabkan genangan air yang dalam dan arus yang deras di badan jalan. Anwar lebih lanjut menjelaskan bahwa salah satu faktor utama kerentanan adalah kondisi saluran air di lokasi kejadian yang sebagian masih terbuka.
“Kalau bukan warga sini, apalagi pengendara dari jauh, bisa terperosok kalau kondisi jalan sedang tergenang air atau tertutup arus banjir, karena salurannya tidak terlihat,” jelasnya. Ketiadaan penanda atau penutup yang memadai pada saluran drainase yang terbuka menjadi ancaman serius, terutama bagi mereka yang tidak familiar dengan medan.
Ismail (62), warga lainnya, turut menambahkan kesaksian mengenai kejadian serupa yang menimpa seorang ibu dan anaknya. “Kebetulan waktu itu saya ikut yang mengevakuasi. Terseret arusnya dari arah sana. Juga sama jatuh ke sungai ini dan hanyut,” tuturnya. Ia menggambarkan bagaimana jenazah sang ibu ditemukan tidak jauh dari lokasi, sementara anaknya terseret lebih jauh hingga ke muara.
Akar Masalah: Drainase yang Kian Terbengkalai
Kondisi jalan di lokasi kejadian memang rentan tergenang air saat hujan deras. Ismail mengungkapkan bahwa meskipun drainase di area tersebut sempat diperbaiki, namun pengerjaannya belum tuntas sepenuhnya. “Sebenarnya, drainase ini baru saja diperbaiki. Waktu itu katanya mau ditutup atasnya semua, tetapi sampai sekarang belum, masih ada beberapa titik yang kondisinya terbuka seperti ini,” keluhnya.
Anwar menambahkan bahwa luapan air yang terjadi juga diperparah oleh kondisi saluran drainase di sisi seberang jalan yang tidak berfungsi secara optimal. “Sebenarnya, kalau drainase di seberang kondisinya baik, air tidak akan meluap sebesar itu seperti kemarin. Tapi kan saluran yang di sana sudah lama kurang berfungsi dengan baik,” terangnya.
Kondisi drainase yang tidak berfungsi baik ini menciptakan jebakan maut. Genangan air yang dalam menutupi lubang saluran yang terbuka, sehingga sangat sulit dikenali oleh pengendara, terutama di malam hari atau saat jarak pandang terbatas akibat hujan deras.
Harapan Warga: Tindakan Nyata untuk Pencegahan
Menyikapi rentetan tragedi ini, warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkret untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. “Kan bisa ditutup dengan yang berongga itu atau sisinya dipagari. Pokoknya bagaimana caranya supaya aman saja, kalau dibiarkan seperti ini, berbahaya juga,” ujar Anwar, menyuarakan aspirasi warga.
Mereka mengusulkan solusi sederhana namun efektif, seperti menutup lubang saluran dengan material berongga yang tetap memungkinkan aliran air namun mencegah pengendara terperosok, atau memasang pagar pengaman di sisi-sisi yang rawan. Keamanan para pengguna jalan, terutama yang melintas di jalur Puncak yang kerap ramai, menjadi prioritas utama.
Kronologi Insiden Terbaru: Pasangan Suami Istri Terseret Arus
Peristiwa paling baru yang kembali menggugah keprihatinan terjadi pada Minggu petang. Saat itu, sepasang suami istri yang sedang dalam perjalanan mudik dari Bandung melintasi Jalan Raya Cipanas, Cianjur, di tengah guyuran hujan lebat.
Luapan dari saluran drainase yang buruk menyebabkan arus banjir deras menggenangi jalan. Sepeda motor yang dikendarai pasangan tersebut diduga kehilangan kendali akibat kuatnya arus, menyebabkan keduanya terjatuh dan terseret masuk ke dalam saluran drainase.
Warga yang berada di lokasi sempat berupaya memberikan pertolongan, namun arus yang begitu deras membuat korban tidak dapat diselamatkan dan terbawa hingga ke aliran sungai. Tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan pencarian sejak Minggu malam.
Setelah upaya pencarian yang intensif, kedua korban akhirnya ditemukan meninggal dunia dalam kondisi terpisah. Jarak penemuan jenazah kedua korban bervariasi, sekitar 25 hingga 35 kilometer dari lokasi kejadian, menandakan betapa kuatnya arus yang menyeret mereka. Tragedi ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya perhatian serius terhadap pemeliharaan infrastruktur, terutama di daerah rawan bencana seperti jalur Puncak.




