Membangun Kepemimpinan Bahagia: Kunci Sukses di Era Penuh Tekanan
Menjelang akhir tahun 2025, Ikatan Doktor Ilmu Manajemen (IKADIM) bekerja sama dengan Amanah Human Capital (AHC) menyelenggarakan sebuah Webinar Nasional bertajuk “Happiness Leadership”. Acara ini menjadi momen refleksi mendalam mengenai esensi kepemimpinan, khususnya dalam konteks “Memimpin SDM di Era Penuh Tekanan dan Ketidakpastian”. Webinar ini merupakan upaya strategis untuk membangkitkan kesadaran kolektif akan pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya efektif, tetapi juga mampu menciptakan kebahagiaan, kesejahteraan, dan memanusiakan setiap individu di seluruh tingkatan organisasi.
Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh ratusan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari perwakilan sektor pemerintahan, dunia korporasi, organisasi sosial, hingga kalangan akademisi, semuanya merasakan relevansi mendalam dari isu kebahagiaan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks dan sarat dengan tekanan.
Para Pemimpin Pikiran dalam Diskusi Kebahagiaan
Acara ini dimeriahkan oleh kehadiran Ketua Umum IKADIM, Dr. Jazuli Juwaini, sebagai keynote speaker. Beliau didampingi oleh empat narasumber terkemuka yang membawa kekayaan pengalaman dan keahlian lintas sektor:
- Dr. Dingot Hamonangan Ismail: Penulis buku “9 Kebiasaan Manusia Super Bahagia”.
- Dr. Baskara Agung Wibawa: Praktisi korporasi berpengalaman dan anggota Komite BPH Migas.
- Dr. Sri Sundari: Pejabat di lingkungan Setjen DPD RI dan seorang motivator yang berfokus pada energi kebahagiaan.
- Dr. Danang Aziz Akbarona: Penulis buku “From Success to Happiness”.
Dr. Jazuli Juwaini dalam pidato kuncinya menegaskan peran IKADIM dan AHC dalam menyebarkan nilai-nilai kebahagiaan melalui praktik kepemimpinan yang berlandaskan etika dan berorientasi pada kesejahteraan manusia. “Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu memberikan teladan, memiliki visi yang jelas, memberdayakan tim, memotivasi kemajuan, dan yang terpenting, menyejahterakan mereka yang dipimpinnya—baik itu karyawan, masyarakat, maupun bangsa,” ujar Dr. Jazuli.
Beliau menekankan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar sebuah jabatan, melainkan sebuah amanah suci yang menuntut pengorbanan dan tanggung jawab penuh untuk menciptakan kebahagiaan bagi orang lain. Mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, Dr. Jazuli menyampaikan, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka.”
“Kami berharap dan berdoa agar para pemimpin bangsa ini benar-benar mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya, karena di sanalah tersemat ketulusan, keikhlasan, kesabaran, dan tanggung jawab yang sejati. Doa yang sama juga kami panjatkan untuk kita semua para pemimpin di setiap tingkatan,” tambahnya.
Pilar-Pilar Kebahagiaan yang Berkelanjutan
Dr. Dingot Hamonangan Ismail memaparkan pandangannya bahwa kebahagiaan yang langgeng dan berkualitas bukanlah sesuatu yang datang secara instan. Sebaliknya, kebahagiaan tersebut dibangun di atas sembilan pilar utama, yang meliputi:
- Iman dan Takwa: Fondasi spiritual yang kokoh.
- Zikir, Pikir, Sabar, Syukur: Keseimbangan antara refleksi spiritual, pemikiran logis, ketabahan menghadapi cobaan, dan rasa terima kasih atas nikmat.
- Keluarga atau Tim yang Bahagia: Lingkungan personal dan profesional yang suportif dan penuh kasih.
- Kinerja Unggul: Pencapaian yang optimal dan berkualitas.
- Mengisi Waktu dengan Pekerjaan yang Baik dan Bermanfaat: Aktivitas yang memberikan makna dan kontribusi positif.
Sebagai seorang pakar Sumber Daya Manusia (SDM) dan Asesor BNSP, Dr. Dingot menambahkan bahwa kebahagiaan tertinggi sesungguhnya adalah perjumpaan dengan Sang Pencipta. Hal ini menuntut kesiapan dalam mempertanggungjawabkan seluruh amanah kehidupan. “Pemimpin yang memiliki kesadaran ini akan senantiasa berkarya, meninggalkan warisan (legacy), dan mencetak generasi penerus yang kompeten,” jelasnya.
Perspektif Korporat dan Kesejahteraan Karyawan
Dari sudut pandang dunia korporat, Dr. Baskara Agung Wibawa mengemukakan realitas yang sering dihadapi, di mana banyak karyawan merasa tidak bahagia dan mengalami demotivasi. Menurutnya, peran pemimpin sangat krusial dalam menciptakan kebahagiaan di tempat kerja. Pemimpin yang ideal adalah sosok yang mampu memberikan perlindungan, rasa aman, sekaligus membangun lingkungan kerja yang kondusif bagi pertumbuhan dan keberlanjutan organisasi.
Pendekatan kepemimpinan yang berfokus pada kebahagiaan memungkinkan seluruh potensi SDM dalam organisasi untuk berkembang secara maksimal. Karyawan akan merasa nyaman, menemukan makna dalam pekerjaan mereka, dihargai, dan mengalami pertumbuhan sebagai individu.
Kebahagiaan dari Dalam: Kesadaran dan Rahmat Ilahi
Sementara itu, Dr. Sri Sundari menekankan bahwa akar kebahagiaan sejati terletak pada kesadaran akan rahmat Tuhan yang melekat dalam diri setiap manusia. Rahmat ini hadir dalam bentuk napas kehidupan, usia yang diberikan, serta berbagai kekayaan non-materi lainnya. “Akar kebahagiaan bersifat internal dan harus terus ditumbuhkan sepanjang hayat,” tuturnya.
Beliau mengajak para peserta untuk membiasakan diri melakukan kebaikan, berprasangka baik, menerima setiap takdir dengan ikhlas, serta senantiasa bersabar dan bertawakal sembari terus berikhtiar untuk menjadi pribadi yang memiliki kemampuan dan kepribadian terbaik.
Puncak Kebahagiaan dan Kecerdasan Spiritual
Menutup rangkaian diskusi, Dr. Danang Aziz Akbarona menyimpulkan bahwa puncak kebahagiaan bermuara pada ranah spiritualitas. Hal ini sejalan dengan teori kecerdasan mutakhir yang menyatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan the ultimate intelligence. “Pemimpin yang mampu menciptakan kebahagiaan adalah mereka yang bekerja dengan tujuan yang jelas, penuh makna, memberikan manfaat, serta berpijak pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan,” paparnya.
Pemimpin yang membahagiakan memiliki kemampuan untuk mengelola SDM dengan memahami fitrah manusia secara holistik. Mereka menyadari bahwa manusia bukan hanya makhluk fisik, tetapi sejatinya adalah makhluk spiritual. Dengan spiritualitas yang kuat, seluruh potensi lainnya—baik fisik, intelektual, maupun emosional—akan terbuka lebar dan berkembang pesat.
Webinar Nasional Happiness Leadership ini menjadi penutup tahun 2025 yang sangat bermakna. Acara ini sekaligus menegaskan kembali komitmen IKADIM dan Amanah Human Capital untuk terus berupaya melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya unggul secara struktural, tetapi juga mampu menghadirkan kebahagiaan dan harapan di tengah ketidakpastian zaman yang terus berubah.


















